fotografer: Alfian Romli / desainer foto: Ahmad Khairul Fareza

Kota dalam pembayangan benak dan pikiran acapkali merujuk pada suatu medan yang serba lekas serba tuntas, pusat segala hiruk-pikuk yang menuntut orang-orang di dalamnya untuk mencerminkan apa itu kota, lokasi di mana arus ekonomi berjejalan saling bergandengan maupun menjegal. Kepentingan kecil akan ditindas oleh kepentingan besar. Maka, yang dipercaya akan bertahan hanyalah mereka yang mampu membaca peluang di balik gumpalan impulsif yang ditawarkan sebuah kota.

Kota bergerak untuk terus memperkuat citranya. Kota merangkul sumberdaya yang tersedia demi mewujudkan pembangunan. Pembangunan menghendaki kemajuan. Rupanya, pembangunan skala fisiklah yang lebih terlihat dampaknya. Maka, bangunan-bangunan terus tumbuh dengan semarak. Kita dapat melihat betapa ruang-ruang semakin sempit dan sesak. Praktik itu tak jarang melenceng dari tujuan. Sebab itulah selain keserentakkan pembangunan fisik, kita menyaksikan juga kesemrawutan bangunan-bangunan yang terbengkalai karena tak jelas arah penggunaannya.

Apakah citra semacam itu yang ingin dikejar sebuah kota? Semrawut, tak jelas, dan serba campur aduk? Alih-alih memperkuat sebuah citra, pembangunan yang kerap mengejar kegemilangan itu menyembunyikan sesuatu yang “ringkih” bernama ingatan, sesuatu yang bernama sejarah. Ada mata rantai yang diputus dengan sengaja, dampak dari sikap abai terhadap apa-apa yang berada di tepi. Kesaksian semacam itu dapat kita lihat fenomenanya di Kota Ampenan.

Ampenan yang hadir pada generasi masa kini adalah Ampenan yang telah mengalami keterpecahan antara kedekatan dan keterasingannya. Ampenan telah mengalami perubahan yang menyedihkan bagi siapa saja yang pernah menyimpan pengalaman nostalgic dengan kota itu. Di Ampenan, bangunan-bangunan tua bergaya art deco, sebagian telah diubah menjadi bangunan berwarna-warni seakan berupaya menghilangkan jejak masa silamnya. Di manakah Bioskop Ramayana itu? Ia telah digantikan oleh kantor cabang sebuah bank. Pelabuhan yang menjadi lintas perdagangan pada zaman dahulu, sekarang tinggallah tebing tinggi sepanjang pantai. Tebing yang seolah berbicara bahwa telah ada jarak yang amat luas terbentang antara laut yang pernah menjadi medan berlayar kapal-kapal dagang kolonial dengan kita yang tengah berdiri di sini.

Dan lagi, peristiwa kerusuhan tahun 2000 yang membawa isu ras dan agama menyelimuti Ampenan bagai kabut yang mengaburkan pandang, sebab visualisasi macam apakah yang dapat ditemui oleh generasi masa kini ketika mereka berkunjung ke Kota Ampenan untuk memberitahukan kepada mereka bahwa dahulu ada sejarah kelam nan berdarah di sana?

Keberadaan Ampenan sebagai kota majemuk, tempat berkelindannya berbagai macam budaya seperti Sasak, Cina, Arab, Melayu, dan lain-lain menjadikannya kota yang bergerak dalam kompleksitas relasi. Kompleksitas yang berlangsung “di dalam” ini tidak tertangkap oleh kacamata pembangunan kota yang pada praktiknya justru melakukan banyak penghancuran. Ingatan telah tercerabut, mata rantai sejarah telah diputus oleh kebijakan politik dalam gaya laten lama.

Ampenan kini berada dalam komposisi rumit sebagai sebuah kota yang dimaksudkan merepresentasikan peradaban masa lampau. Sedangkan mereka yang tumbuh di sana, yang hidup dan menghidupi di era lamanya akan bertanya, apa ciri-ciri Kota Ampenan yang masih tersisa? Ampenan telah terpencar dalam lipatan kenang. Ia berdiri sendiri sebagai pribadi yang mencari identitasnya. Dan tangan masa kini, enggan menyentuhnya kembali secara esensial. Begitu kelabu, luput, di pinggir zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *