fotografer: Ahmad Khairul Fareza / desainer foto: Ahmad Khairul Fareza

Kali kedua menghadiri Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) makin mempertebal asumsi saya bahwa Kota Mataram butuh lebih banyak festival film semacam ini. Pasalnya beberapa waktu belakangan segala perbedaan kerap menyulut perselisihan. Tidak jarang pula hal tersebut berangkat dari hal remeh-temeh. Maka, melalui film berlatar kebudayaan berbeda kita bisa bercermin dan belajar perihal perbedaan. Kita bisa terhibur saat menonton sebuah film, tapi efek yang tak kalah penting dari itu adalah melihat dan mempelajari hal tersirat dari film tersebut.

Saya berkenalan dengan FSAI pada 2019 lalu melalui rekan-rekan sekantor yang kebetulan adalah alumni Austalia Awards Scholarship (AAS). Berbekal sebuah tautan, saya mendaftar lalu memilih film-film yang dijadwalkan akan tayang. Setelah memeriksa rating dan sinopsis semua film, akhirnya pilihan saya jatuh pada “Gurrumul” dan “Ladies in Black”.

Kedua film tersebut menjadi pintu ketertarikan saya terhadap film-film Australia. Film dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan rasanya sangat tepat ditayangkan di kota yang belum selesai dengan sejarahnya ini. Mungkin benang merahnya telalu jauh, tapi bagi saya, ini menarik. Tidak sedikit penonton di FSAI yang menjadikan film-film tersebut sebagai referensi dalam mengkaji sebuah kebudayaan. Pada 2020 ini saya kembali melakukan proses yang sama, dan dari delapan film yang ditawarkan, saya memilih “Emu Runner” dan “2040”. Kedua film ini pun memberi kesan serupa dengan tema berbeda.

Dimulia dari Damen Gameau; ia mengubah pandangan saya terhadap masa depan bumi. Lewat film “2040” ia mengawinkan rekaman dokumenter dan teknik visual yang super rapi! Ditambah dengan alur yang ringan membuatnya mudah dicerna tapi tidak membikinnya diremehkan. Otak saya mencerna pesan-pesan positif realistis; ia tidak dilebih-lebihkan. Jika selama ini saya pesimis terhadap isu dunia akan kembali hijau—melihat isi berita yang melulu menyuguhi ketamakan manusia terhadap alam, maka setelah menonton “2040” saya membiarkan bibit harapan dalam diri ini tumbuh. Yakin bahwa masih banyak manusia baik di dunia yang sedang berusaha menyelamatkan generasi mudanya dari kerusakan bumi akibat ulah jahat manusia lain.

Setelah “2040” memberi efek ke luar diri saya, kali ini “Emu Runner” menggali empati dalam diri saya. Bagaimana seorang anak usia sembilan, yang sedang asyik-asyiknya belajar tentang alam bersama ibu dan kakak perempuannya, harus merasakan trauma atas kematian sang ibu. Imogen Thomas mengemas film ini dengan sangat sabar dan teliti. Setiap detail yang menjadi simbol penguat ditampilkan dengan apik. Ia pun tak ragu memberi ruang tafsir kepada penonton. Benar saja, hal-hal ini pun dibenarkan olehnya yang pada saat itu hadir. Ia menjelaskan proses kreatif pembuatan film “Emu Runner” dengan antusias.

Menghadirkan sutradara atau sineas film di sebuah acara festival memberi nilai khusus di mata penonton yang hadir. Dalam hal ini, penonton diberi kesempatan berdialog—meski sebentar—bersama mereka yang terlibat dalam pembuatan film. Dengan demikian, apresiasi masyarakat atas karya film akan semakin meningkat. Jika selama ini masyarakat bisa enteng berkata, “Lebih enak nonton di komputer daripada ke bioskop!”, maka upaya-upaya dalam festival ini lambat laun akan mampu mengikis paradigma di atas.

Oleh karena itu, festival film yang mengemas kegiatan secara efektif sangatlah penting hadir di tengah-tengah masyarakat; dan FSAI telah melakukannya dengan baik. Mengingat daftar film-film bioskop di Kota Mataram belumlah beragam, maka tidak salah jika kita berharap festival film lainnya akan melirik kota ini sebagai salah satu destinasinya. Keberagaman tontonan tentu akan memperkaya kacamata kita dalam melihat dunia. Kebudayaan yang beragam bisa mengasah simpati dan empati manusia, pun membuka ruang dialog. Hingga pada akhirnya kita bisa santai menghadapi perbedaan dan tidak mudah tersulut konflik antar manusia.

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *