fotografer: Arielsatriya Putra / desainer foto: Ahmad Khairul Fareza

Rabu (18/2) sore, saya mendatangi Rumah Kucing Montong. Begitu orang-orang mengenalnya. Rumah yang menjadi tempat persinggahan banyak seniman. Di sana, saya disambut dengan ramah oleh sejumlah orang yang sedang bersantai sambil ngopi. Sesaat setelah saya menyampaikan maksud kedatangan saya, Kang Wawan, begitu saya mengenalnya secara singkat, segera masuk ke dalam rumah untuk memberitahu Kang Ary Juliyant.

Tidak menunggu lama, Kang Ary Juliyant muncul dari balik pintu. Melempar senyum yang seperti lepas begitu saja. Senyum itu bagai mengandung magnet, sehingga bisa membuat saya ikut membalasnya dengan cara yang sama.

Saya mengenal Kang Ary sejak SMA. Dulu, di Warjack Taman Budaya NTB, kami sering bertemu setiap saya pulang dari bersekolah. Terutama dalam kegiatan pentas seni yang rutin digelar pada Selasa malam. Saya yakin, semenjak itu atau jauh sebelumnya, kemampuan bermusik Kang Ary Juliyant selalu stabil. Bahkan tidak menurun sepeserpun.

Dari pertemuan sore itu, tentu banyak sekali hal yang kami bahas. Kendati masih lebih banyak lagi yang belum. Kang Ary mengawali cerita tentang lagu pertamanya yang dibuat tahun 1978, kemudian sejumlah lagu lain menyusul, sampai menjadi sebuah album perdana pada tahun 1988.

Kang Ary kemudian datang dan menetap di Lombok sekitar tahun 1995. Meski sudah cukup lama bermusik di Bandung, Kang Ary mengaku tetap mengalami kesulitan ketika memulai karir di Lombok. Menurutnya, kesulitan dari hal-hal baru merupakan tantangan yang memang patut dihadapi alih-alih dihindari. Misalnya tentang proses adaptasi dengan gerakan musik di Lombok, sampai merumuskan wacana yang tepat bagi kebudayaan dengan infrastruktur musik yang berbeda.

Kang Ary menyebut gerakan bermusiknya sebagai “musik gerilya”. Istilah yang dibuatnya ini, adalah sebentuk respon terhadap banyak gerakan indie yang mulai membias dari hakikatnya.

Padahal, menurut Kang Ary, indie bukanlah jenis musik belaka, yang kemudian mendadak populer lantas dengan mudah menerima tawaran manggung di sana-sini. Baginya, Indie adalah suatu sikap ketika musisi memaksimalkan keterbatasannya.

Indie juga dapat dilihat sebagai strategi musisi dalam mengenalkan karyanya secara mandiri, misalkan melalui jaringan yang didapat melalui hasil pentas keliling dari satu daerah ke daerah lain. Indie seharusnya menjadi gerakan yang merdeka. Bukan malah mendikte musisi hingga terjebak dalam logika industri yang mengekang kebebasan berkesenian.

Saat saya meminta komentarnya tentang perkembangan musik di Lombok, Kang Ary menganggap semangat generasi musisi lokal saat ini sedikit lebih baik ketimbang generasi sebelumnya. Dan, hal itu pantas untuk diapresiasi. Walau beberapa musisi masih tidak bisa menghindari rayuan industri musik, baginya itu memang sesuatu yang wajar. Boleh dikompromi bahkan. Namun jangan sampai, aktivitas industri malah jauh lebih dominan ketimbang kerja-kerja kesenian. Apalagi sampai menggantungkan karir di kota-kota besar demi mengejar posisi unggul dalam pasar industri. Hal itu hanya akan membuat jarak pendengar semakin jauh dari musisi. Akibatnya, ekosistem musik di Lombok akan lumpuh.

Menyadari semua itu bisa saja terjadi, Kang Ary kemudian berinisiatif mengajak kawan-kawan musisi lokal membentuk sebuah lembaga seni yang dapat mewadahi siapa saja untuk berkarya. Lembaga seni itu bernama Erkaem.

Erkaem dalam banyak kegiatannya sudah sering menggelar serta merancang program-program seni dan budaya. Antara lain seperti; kelas budaya Jepang, Kuliah Liar, Rabu Ngopi Sore. Erkaem “berkantor” di Rumah Kucing Montong, mantan rumah Kang Ary Juliyant yang kini dihibahkan sebagai tempat berkesenian itu.

Selain Erkaem, di Rumah Kucing Montong, kita juga bisa menjumpai sebuah galeri seni rupa, dinding pustaka yang menyimpan berbagai arsip karya, baik lokal, nasional dan dunia, juga sebuah kedai kopi sederhana yang segala rahasia dapurnya disimpan oleh Kang Wawan.

Kegiatan-kegiatan di Rumah Kucing Montong dapat kita akses melalui media sosial instagram @erkaem, atau langsung datang kapan saja ke alamat BTN Montong, Kedatong D9 Meninting, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Di akhir perjumpaan kami, – mungkin ini terkesan normatif, tapi sungguh saya ingin mendengarnya – saya meminta Kang Ary Juliyant membuat sebuah pernyataan khusus yang ditujukan pada kawan-kawan musisi di Lombok. Lantas secara singkat dan tegas, Kang Ary menjawab: “jadilah diri sendiri.”

Robbyan Abel R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *