fotografer: Robbyan Abel Ramdhon / desainer foto: Ahmad Khairul Fareza

Jumat (21/2) sore, saya bertemu dengan Pamela Paganini. Pamela datang sambil mengusap sisa gerimis di kening dan rambutnya. Rambut yang pernah menjadi inspirasi dari cerpen Kiki Sulistyo: Rambut Api Pamela Paganini. Cerpen tersebut dimuat di Koran Tempo pada 29 Desember 2018. Saya pernah membaca cerpen itu, dan saya mengira Pamela Paganini adalah sosok fiksi yang terlahir dari imajinasi penulisnya. Dan saat bertemu dengan Pamela, saya masih tidak percaya, bahwa sosok perempuan itu benar-benar hadir secara nyata. Di hadapan saya.

Kami berbincang cukup lama. Sebelum akhirnya menutup pertemuan dengan acara menikmati nasi belut di dekat bandara Selaparang. Kami lebih banyak membicarakan hal di luar musik sebenarnya, misalkan tentang kehidupan kampus dan berbagi informasi kuliner. Untuk sekadar diketahui, makanan kesukaan Pamela Paganini adalah Mie Ayam. Secara kebetulan pula, kami sama-sama menyukai Mie ayam dan berasal dari jurusan kuliah yang sama.

Atas dasar kesamaan-kesamaan itulah, perbincangan kami terasa lebih dekat, lama, dan mengalir begitu saja. Mula-mula, Pamela menceritakan tentang bagaimana ayahnya mengenalkan musik padanya. Sejak usia sekolah dasar, Pamela mulai di-les-kan musik, di Praya, Lombok Tengah. Pamela juga menyebut, bahwa di Praya, banyak sekali musisi yang berbakat dan berpotensi selain dirinya. Hanya saja, keberadaan mereka kurang terpetakan. Pertama; karena wadah bermusik untuk para musisi begitu kurang, kedua; karena ekosistem pendengar tidak begitu baik.

Pernah suatu ketika, Pamela tampil pada sebuah pementasan di Praya, setelah selesai membawakan lagu: “Bahkan tepuk tangan tidak terdengar dari penonton. Seolah-olah mereka tidak mendengar saya bernyanyi,” katanya bercerita.

Sedikitnya apresiasi pendengar, juga dipengaruhi oleh selera musik yang sedang beredar. Menurut Pamela, saat ini banyak masyarakat lebih suka mendengar musik-musik akustik, dibandingkan jenis musik lain yang – mungkin – lebih beragam, sekaligus situasi ini membuat musisi-musisi non-akustis semakin kesulitan mendapatkan tempat.

Meski demikian, Pamela tidak ingin terlalu mengeluhkan kondisi itu. Menurutnya, musisi harus mengetahui dan menyukai apa yang dia lakukan, serta dapat mempertanggungjawabkan karyanya. Kendati tidak semua orang dapat menerimanya. Kesemua risiko itu merupakan proses-proses yang memang perlu dialami, dan dalam setiap prosesnya, pasti akan ada kebahagiaan yang menyertai musisi. Terlebih untuk mereka yang bergerak di jalur indie. “Musik indie itu lebih jujur,” tandasnya kemudian.

Alasan lain Pamela memilih jalur indie adalah, bahwa dirinya kurang begitu suka ketika musik dan entertainment nyaris tak memiliki batasan. “Saya tidak suka gaya entertaiment, melakukan gimik, atau membuat citra tertentu,” katanya.

Pamela menganggap musik adalah medium untuk bercerita, dan sebuah “legacy” atas kehidupannya. Karenanya, saat membuat lagu, Pamela hanya menulis apa yang dia alami. Oleh sebab itu, lagu-lagu Pamela, sebagian besar adalah cerminan dari personalitasnya. Misalkan lagu yang berjudul “Lentera” dalam album Wonder (2019). “Saya ingin orang-orang mengenal saya melalui karya saya,” lanjutnya.

Meski demikian, Pamela juga merasa sering mengalami kesulitan saat menulis lagu. Bukan karena dia tidak tahu apa yang akan dia tuliskan, namun perasangka-perasangka yang menghantuinya tentang: “Apakah pendengar akan memahami apa yang saya tulis?” Pamela cukup khawatir seandainya lagu-lagunya sulit dimengerti masyarakat, karena masyarakat cenderung menghindar dari lagu-lagu dengan kandungan lirik yang “berat”. Istilah berat ini, lebih merujuk pada pilihan diksi-diksi asing (bukan diksi tutur-kata keseharian) yang digunakan. Selama ini, masyarakat terlalu banyak mendengar lagu-lagu bertema percintaan, yang biasanya, hanya memuat lirik yang “begitu-begitu saja”. Sementara Pamela, tidak bermusik dengan cara seperti itu. Dan Pamela mengaku, hal tersebut pernah menggangu benaknya, “saya sering mendengar orang-orang berkata, ‘mau laku? Jangan terlalu berat’. Tapi sekarang, saya sudah tidak terlalu memikirkan itu.”

Namun untuk mengatasi masalah-masalah serupa, Pamela berusaha untuk menyeimbangi konsumsi musiknya dengan membaca sastra. Selama ini, Pamela banyak membaca karya Putu Wijaya, Ayu Utami, dan W.S Rendra, mereka semua adalah sedikit dari banyak penulis yang mempengaruhinya dalam proses kreatif membuat lagu.

Untuk album kedua, Pamela berencana melakukan tour. Lokasi-lokasinya belum dapat dipastikan, namun Pamela sebisa mungkin akan menjauh dari Kota Mataram. Pamela ingin datang ke daerah-daerah lain, misalkan Praya, atau Lombok Timur. Pamela menganggap, tour ini merupakan bentuk tanggung jawabnya terhadap daerah asalnya, sekaligus cara untuk mengajak kawan-kawan musisi yang berproses di luar Kota Mataram supaya bisa turut mengembangkan semangat musik di Lombok.

Sebelum berangkat ke tempat pedagang nasi belut, kuliner malam yang terkenal di dekat bandara Selaparang itu, Pamela mengatakan setelah saya bertanya tentang bagaimana seharusnya musisi di Lombok: “Bagi para musisi, mari saling support. Bagi para pendengar, mari cintailah produk-produk lokal.”

Robbyan Abel R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *