fotografer: Robbyan Abel Ramdhon / desainer foto:  Ahmad Khairul Fareza

Menyaksikan gladi bersih pementasan Sandiwara Merah Jambu oleh Teater Kamar Indonesia di Teater Tertutup Taman Budaya  NTB pada rabu malam kemarin (04/03/2020) kita berhadapan dengan sesuatu yang riuh. Ada properti kuda yang digantung di langit-langit, mengingatkan dengan pertunjukan kuda lumping, juga ada yang nampak sebagai singgasana dan mahkota menggantung tinggi dengan kain yang didominasi warna merah dan kuning. Tidak sulit menebak tatanan artistik semacam itu akan membawa Sandiwara Merah Jambu tampil dengan latar kerajaan yang sering kita saksikan dalam pelbagai pementasan. Kita pun tahu kemudian bahwa Sandiwara Merah Jambu memang mengangkat tema kerajaaan itu. Ditambah pula oleh kehadiran sang Raja, Ajudan, Tukang Gendong, dan dua tokoh dongeng Sasak Lombok yang terkenal yakni Putri Cilinaya dan Cupak Gerantang.

Tentu saja, kerajaan yang hadir di panggung tidak serta merta berarti harfiah. Yang menonjol adalah ide-ide yang disuarakan oleh pemainnya. Sang Raja bisa dengan tiba-tiba mengoceh panjang lebar soal kesalahan berbahasa yang katanya akan membawa malapetaka. Maka, kita harus berbahasa yang baik dan benar. Bersama si Ajudan dan Tukang Gendong yang selalu mengiyakan kata sang Raja, tanpa pernah mengoreksinya secara terang-terangan, ocehan pun beralih dengan cepat pada soal anggaran teater bahkan dengan langsung melakukan interaksi ke penonton sambil menunjuk-nunjuk kesalahan yang berada di panggung yang tak lain tak bukan merupakan tanggung jawab sang sutradara.

Wartaan ide semakin melebar dengan kemunculan tokoh lain yang menentang perjodohan atas dasar status sosial semata. Lalu ada bahasan mengenai kesenian yang sering dijadikan sebagai alat berpolitik. Tokoh Pangeran, Putri Cilinaya istri Pangeran, istri Raja yang bernama Yanti, dan Cupak Gerantang alias Noar mantan kekasih Yanti, bersama-sama berada dalam medan oposisi dengan ide-ide yang disuarakan sang Raja. Mereka menyuarakan cinta kasih, pengorbanan, juga perlawanan terhadap kekuasaan. Sepanjang menyaksikan mereka berlakon, kita pun tak luput dari pewartaan ide yang terkesan utopis itu. Siapa yang mendahulukan cinta dibandingkan pemenuhan terhadap rasa lapar di zaman ini? Siapa yang lebih mementingkan pertalian kasih dibandingkan duduk nyaman di singgasana kekuasaan? Sangat sulit tentu menemukannya.

Di Sandiwara Merah Jambu kita bersua dengan karakter-karakter sosiologis yang begitu dramatis menggoreskan tragedinya lewat kematian tokoh-tokoh yang menentang ide-ide sang Raja. Bila kita melihat karakter itu sebagai karakter sosiologis bukan personal, maka segala komentar sosial yang dilontarkan menjadi berterima. Hanya saja, dialog panjang dalam lakon ini yang penuh dengan pandangan kritisme sering tergelincir pada pemusatan yang berlebihan hingga melupakan alur yang menggerakkan babak cerita. Alhasil, tempo cerita menjadi datar, kejutan yang muncul bukanlah berasal dari efek dramatisasi dialog yang penuh muatan ide itu melainkan huru-hara yang tercipta di panggung. Gundah gulana para pemainnya atas ketidakadilan yang menimpa mereka seakan menjadi ekspresi terakhir di hadapan penonton yang masih berusaha mencari celah untuk menikmati lakon Sandiwara Merah Jambu ini.

Warna-warni busana para pemainnya dengan latar panggung dan musik yang “megah” masih berperan terbatas sebagai pengantar akan perbenturan pelbagai pandangan yang coba ditawarkan. Pengantar yang mencoba mengingatkan penonton agar tak abai, agar tak menyerah dengan kesewenang-wenangan, memunculkan sikap serba berani dalam pertentangan. Daya ungkap yang sayangnya kurang menunjukkan pengelaborasian dengan pendekatan yang berbeda. Sebab, bukankah kritik sosial dalam sebuah karya seni rentan terjerembab pada pengulangan semata dari berita-berita di media apabila tidak hadir dalam kreasi yang baru?

Sandiwara Merah Jambu yang akan tampil dua kali di Malaysia pada tanggal 13 Maret dan 15 Maret 2020 ini dapat menjadi bagian dari upaya perluasan akan nilai-nilai seni yang masih sangat bertumpu pada fenomena masa kini. Dengan harapan, ia akan berkembang lebih matang mengingat Sandiwara Merah Jambu juga akan dipentaskan kembali di Teater Tertutup Taman Budaya NTB pada tanggal 9 – 10 April 2020 mendatang. Di pertunjukan mendatang itu nantinya kita dapat bersama-sama menyaksikan Sandiwara Merah Jambu yang barangkali akan membawa kita pada interpretasi yang baru. Sebab, tentu saja kita tidak lupa akan hakikat karya seni itu sendiri yang masih dapat ditafsir, diolah, dibentuk, dikreasi kembali atas apresiasi orang-orang yang memang ajeg di dalamnya. Dan tentu, bukan berdasar dari kehendak buta mereka yang berkuasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *