fotografer: Robbyan Abel Ramdhon/ desainer foto: Ahmad Khairul Fareza

Salah satu definisi komunal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah milik rakyat atau umum. Barangkali kata itulah yang digunakan Wiem dan Akbar sebagai dasar untuk membangun Komunal, sebuah kedai kopi yang terletak di Jalan Arif Rahman Hakim Nomor 47 Kota Mataram. Sekadar informasi, kedai ini sebentar lagi akan berpindah lokasi; dan lokasi terbaru belum dipublikasikan. Jadi, jika ingin tahu lebih lanjut, kalian bisa mengikuti beritanya di media sosial instagram @kopikomunal.

Wiem dan Akbar adalah sekawan yang sudah sejak lama berproses bersama dalam dunia perkopian. Mereka pernah bekerja di sebuah kedai kopi selama beberapa waktu, kemudian memutuskan keluar untuk mendirikan kedai kopi milik mereka berdua. Wiem dan Akbar mulai merintis usaha tersebut sejak 2019. Seperti halnya cerita kebanyakan pemilik kedai kopi—dari masa aman hingga krisis—tentu saja mereka juga pernah mengalaminya. Terkhusus masa-masa krisis; baik secara moral mau pun finansial. Berkat ketabahan menyelami “kehidupan kopi” inilah mereka akhirnya tergiring ke jalan takdir seperti sekarang.

Wiem

Pengalaman nongkrong semasa berkuliah di daerah Malang, Jawa Timur, banyak memengaruhi keputusan Wiem dalam mendirikan kedai kopi. Pria bernama lengkap Lalu Wiembarda Puspa Negara ini pun bercerita, saat masih berstatus sebagai mahasiswa, nyaris sebagian besar waktunya diisi dengan aktivitas nongkrong. “Dulu, saya sering sampai ketiduran di kedai kopi punya teman saya,” kenangnya.

Pengalaman-pengalaman ini perlahan membentuk sebuah tekad yang mendorongnya untuk membuat sebuah medium sosial di mana orang-orang bertemu dan saling mengenal—dalam ikatan pertemanan, kasih, bahkan keluarga. Dan kopi, menjadi perantara yang dipilih Wiem untuk menghubungkan ikatan-ikatan itu.

Namun, mencari teman atau, katakanlah, partner yang sejalan untuk mewadahi aktivitas sosial masyarakat, ternyata tidak semudah dibayangkan. Terlebih lagi, latar belakang Wiem yang berasal dari luar Kota Mataram membuatnya semakin kesulitan mencari teman. Saat baru mendirikan kedai kopi, Wiem mengaku hanya bermodalkan “tempat” dan semangat “nekat”—tanpa jaringan atau mungkin pengetahuan yang mendalam tentang ekosistem kedai kopi di Mataram. Jangankan memiliki teman, memiliki nama untuk kedainya saja tidak. Padahal bangunannya sudah berdiri dan beberapa pengunjung juga sudah datang. Jadi, di awal berdirinya, tempat seluas 10 x 7 meter persegi ini hanyalah sebuah kedai tanpa nama.

Selain kisah krisis, Wiem juga menceritakan kisah lucu; ketika itu ia pernah berusaha “sok asik” ke para pengunjung. “Saya selalu berusaha ngerawat hubungan baik dengan pengunjung. Bahkan pernah suatu ketika, dari delapan meja yang tersedia, semuanya diisi oleh setidaknya satu orang yang saya kenal. Alhasil, saya harus berpindah-pindah dari satu meja ke meja lain untuk menyapa mereka. Saya takut seandainya saat duduk bersama satu teman saja, akan dianggap tidak adil oleh teman yang lain. Kelihatan sok asik, sih. Tapi mau bagaimana lagi?” cerita lelaki yang pernah menempuh studi Hubungan Internasional ini sambil bergurau.

Hingga perlahan-lahan, berkat kekonsistenan yang selalu dipertahankannya itu, meski seringkali berada di titik paling pesimis dalam perjuangannya, Wiem akhirnya berhasil menciptakan wadah sosial bagi orang-orang yang kini sudah dianggapnya sebagai keluarga; di Komunal.

Akbar

Jika Wiem bertugas mengembangkan fungsi sosial dari Komunal, maka M. Giffari Akbar berdiri di balik meja barista sekaligus bertugas menyeleksi biji-biji kopi. Dari pengakuan Akbar (sapaan akrab untuknya), sebenarnya proses seleksi biji kopi tidaklah terlalu ketat, tapi tidak pula terlalu sederhana.

Sebagai contoh, beberapa biji kopi yang sudah dikemas merupakan hasil penjaringan dari kelompok-kelompok roaster atau pengepul kopi lainnya yang turut membantu meramaikan isi dapur kopi milik Komunal. Oleh karena itu, saat kita berkunjung ke Komunal, dan duduk di sebuah ruangan yang berhadapan dengan meja kasir, kita akan melihat banyak sisa bungkus biji kopi—dari berbagai macam daerah—ditempatkan di sekitar sana. Bungkus-bungkus biji kopi ini pun sekaligus menjadi simbol jangkauan pertemanan Komunal. Sebab, tak jarang, pertemanan yang dilakukan antar pelaku kedai kopi termanifestasi dalam bentuk saling bertukar biji kopi.

Untuk mengetahui selera kopi masyarakat, Akbar pun membutuhkan riset sekurang-kurangnya selama setahun. Itu pun dilakukan sembari menjaga Komunal bersama Wiem. Dari macam-macam cara yang telah dilakukannya, ia merumuskan empat metode dalam prosesnya menemukan karakter kopi Komunal, yakni: (1) memahami penikmat kopi secara personal, (2) memahami kebudayaan kopi berdasarkan lingkungan sosialnya, (3) melakukan pengolahan melalui natural process, dan (4) honey process.

Akbar juga mengungkapkan ekspresi dari idealismenya terhadap “kopi yang benar”. Menurutnya—dari yang saya pahami, kopi yang benar ialah kopi yang melewati proses serius, serta tahapan-tahapan yang jelas; tidak serta-merta dikemas secara praktis kemudian dijual dalam bentuk bungkusan plastik kecil (sachet).

Sebagai penulis, saya cukup khawatir dengan pernyataan Akbar, sebab tentu saja pernyataannya tersebut akan sekaligus menjadi tantangan baginya untuk membuat kopi yang “benar”. Di lain sisi, saya pun sepakat bahwa kopi (yang disebut Akbar sebagai) sachet-an terkadang menjadikan para peminum kopi dan peracik kopi menjadi lebih berjarak. Dengan kata lain, tidak seintim mereka yang menyaksikan langsung proses pengolahan atau pembuatan kopi. Gambaran proses seperti itu, rasanya hanya dapat kita temukan di kedai kopi.

Komunal

Nilai-nilai komunal akhirnya menjadi “isme” tersendiri bagi Wiem dan Akbar. Apa yang mereka sajikan atau racik di Komunal, kesemuanya adalah milik keluarga dalam definisi mereka. Keluarga berhak melakukan apapun terhadap sajian dan racikan di rumahnya; di Komunal, mereka berhak membaca buku, bermain di dapur, ikut mempercantik meja kasir, membersihkan sampah, bahkan tidak lupa berpamitan kepada satu sama lain saat akan meninggalkan rumah.

Perihal waktu operasi kedai, meski pernah disepakati bahwa waktu tutup Komunal adalah pukul 02.00 dini hari, seiring berjalannya waktu, ia mengalami penyesuaian. Mereka tidak pernah benar-benar menutup kedai pada pukul 02.00 atau bahkan sebelum itu. Kedai tutup saat semua anggota keluarga pergi meninggalkan rumah. Sekali pun itu terjadi pada pukul 04.00 pagi.

Dan, saya sendiri, sekitar pukul 01.00 dini hari baru berpamitan pada Wiem dan Akbar; setelah menghabiskan kopi susu yang saya pesan dan mengobrol bersama mereka berdua. Secara tidak sadar, saya pun berjanji pada mereka untuk kembali lagi ke sana, ke Komunal. “Barangkali saya sudah terdampak efek Komunal,” batin saya.

Sepanjang perjalanan pulang, ada pernyataan Akbar yang sempat terngiang-ngiang di kepala saya. Saya kira pernyataan ini pun sekaligus juga mewakili perasaan para anggota keluarga Komunal, “Dunia terlalu pendek untuk (dijalani dengan) meminum kopi yang buruk.”

Robbyan Abel R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *