fotografer: arsip foto The Dare / desainer foto: Rori Efendi

Keberagaman musik di Lombok mengalami peningkatan yang cukup terasa, dibuktikan dengan munculnya para pekerja musik yang semakin berani mengembangkan bermacam-macam genre. Saya sendiri semakin yakin akan hal tersebut setelah bertemu langsung dengan salah satu band lokal yang baru saja mengeluarkan single terbaru, yaitu The Dare. Jumat, 13 Maret lalu, saya berkesempatan mengobrol dengan salah dua personil The Dare yaitu Yollan (guitarist) dan Desita (drummer). Pertemuan tersebut berlangsung di store donat milik sang guitarist. Dinginnya malam Kota Mataram sehabis gerimis ba’da Magrib menjadi terasa nikmat karena obrolan kami ditemani donat hangat dengan isian coklat.

Dalam pertemuan itu, kami mengobrol banyak tentang kiprah The Dare di dunia permusikan Lombok. Desi dan Yollan membuka obrolan dengan bercerita bagaimana awalnya The Dare terbentuk. Band yang beranggotakan empat perempuan “berani”—seperti nama bandnya; terdiri dari Riri sebagai vocalist, Desita sebagai penabuh drum, Yollan sebagai guitarist, dan Meigaali sebagai bassist. “Kita awalnya modal nekat,  nggak naruh ekspektasi sama sekali,” ungkap Desita waktu itu.

Kendati begitu, dalam kurun waktu tak kurang dari dua bulan, pada Maret 2018 The Dare berhasil meluncurkan mini album berjudul “Introvvvert” yang berisikan tiga lagu, yaitu Introvvvert, Fameinkiss, dan Gun Underdesk. Saya dibuat terkesima dengan penuturan Desita dan Yollan yang mengatakan bahwa The Dare berhasil melakukan touring mini album “Introvvvert” di acara-acara gigs di Pulau Jawa, dan tour tersebut terlaksana kurang dari satu tahun sejak terbentuknya The Dare. Saat mereka menyebut pulau Jawa sebagai bagian dari destinasi tour, saya lantas bertanya: Kok nggak tour di Lombok dulu?”

The Dare, melalui Desita dan Yollan, mengaku tahun pertama mereka adalah waktu tersulit untuk memperkenalkan lagu-lagu The Dare. Bagaimana tidak, Yollan bahkan mengklaim The Dare adalah satu-satunya band Lombok yang bergenre Pop Darling sehingga sulit untuk mendapatkan pendengar di Pulau Lombok yang kemungkinan masyarakatnya tidak familiar dengan genre tersebut. Entah bagaimana Yollan bisa begitu berani mengatakan hal ini, tapi saya yakin pernyataannya memang berpeluang untuk diperdebatkan. Namun yang jelas, menurut mereka, kebanyakan dari pendengar The Dare tidak berasal dari Lombok, dan atas dasar itulah mereka memilih melakukan tour ke luar.

Desita juga menceritakan bagaimana terharunya ia dan teman-teman The Dare saat mengetahui bahwa mereka ternyata mempunyai penggemar, “Sampai kita di sana dimintai tanda tangan dan foto, keq  kita apa aja gitu,” ungkapnya sambil tertawa sembari memakan sempol yang ia beli sehabis donat ludes. Yollan menambahkan, meskipun itu tour pertama The Dare, mereka saat itu sudah bisa mendengarkan beberapa penonton ikut bernyanyi mengikuti lagu yang sedang dimainkan. Hal tersebut terjadi berkat semangat The Dare memasarkan karya melalui berbagai platform ‘warung musik’ dan bantuan berbagai media musik berbasis online yang mengulas band mereka.

Setelah melakukan tour ke beberapa daerah di Pulau Jawa, The Dare pun semakin banyak dikenal. Di sisi lain, seiring meluasnya eksplorasi musik yang dilakukan oleh para musisi (di Lombok), pun berdampak pula pada semakin banyaknya pilihan musik yang bisa didengarkan. Hal ini mau tidak mau mendesak para musisi senantiasa harus menghadirkan warna baru dalam setiap permainannya. Seperti yang dilakukan The Dare pada akhir Februari 2020 kemarin, melalui single terbaru yang berjudul “7.0”. Dan apakah dalam single ini klaim tentang ‘The Dare adalah satu-satunya band Lombok yang bergenre Pop Darling’ masih bisa diperdebatkan? Tentu saja, justru pertaruhannya kian terbuka lebar.

Avatar
Latest posts by Siti Zayana (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *