pewarta: Robbyan Abel Ramdhon, Ilda Karwayu, Iin Farliani / desainer foto: Rori Efendi

Menurut Kluckohn, kebudayaan secara umum terdiri dari tujuh unsur yang saling berkorelasi: bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem peralatan hidup atau teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian. Namun kita tahu, dalam kesemua unsur tersebut, bahasalah yang umurnya paling tua. Kemudian bahasa melahirkan seni, dan seni membuat unsur-unsur lainnya lebih memiliki arti. Oleh karena itu, dalam banyak diskusi pemikiran, kita lebih akrab dengan istilah seni berpikir ketimbang berpikir seni. Seni menjadi kata yang didahulukan, sebagai unsur yang menegaskan betapa seni itu penting.

Tentu saja seni memiliki banyak ragamnya. Bahkan menurut John Gardner, hidup adalah seni menggambar tanpa menghapus. Artinya, semua yang terjadi di dunia atau pada manusia, seluruhnya adalah pengalaman seni. Seni senantiasa melekat di dalam atau di luar tubuh manusia atau di sepanjang mata manusia memandang.

Lantas bagaimana posisi seni di tengah meriahnya lalu lintas teks di dunia sekarang? Dapatkah seni tetap menjadi momen esensial dari kehidupan manusia? Atau seni justru bertransformasi ke bentuk yang lebih mutakhir, menyesuaikan diri dengan teknologi komunikasi yang sama melekatnya bersama manusia? Atau mungkin teknologi adalah seni, yang malah kehilangan arti?

Pada arus dilematis inilah sastra bekerja. Sastra menjadi juru bicara kesenian yang memberontak manakala seni kehilangan prinsipnya. Sastra menjadi “media dan cara untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, pendapat, juga perlawanan terhadap pengalaman, pemikiran, ide, pendapat, situasi di dalam dan di luar diri.” 

Karena bagaimanapun, melalui sastra, diri dapat memperteguh posisinya sebagai subjek yang melakukan perlawanan, subjek tersebut sekaligus dapat “lebih banyak melihat realitas,” dan menjadi “perpanjangan mata” dari manusia lain yang tidak dapat menjangkau realitas tertentu. “Kehadirannya seperti cermin dari realitas, sehingga dari apa yang mereka lihat kemudian mereka bisa menyikapinya.”

Pada hari puisi 21 Maret lalu, Lasingan.ID berkesempatan melakukan wawancara bersama tiga tokoh sastra Nusa Tenggara Barat (NTB) yang pernah meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Singkatnya, Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) adalah sebuah ajang penghargaan bagi dunia kesusastraan Indonesia yang mulai dilaksanakan sejak tahun 2001. Pemenang KSK terdiri dari buku puisi dan prosa yang terbit dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, dan sudah melewati seleksi secara ketat oleh para dewan juri. Selayaknya orang yang merayakan hari raya besar seperti Lebaran, lengkap dengan tradisi bersilaturahminya, kami pun melakukan hal yang sama. Meski dalam situasi ini caranya lebih milenial (daring).

Dalam wawancara ini, kami bermaksud untuk mengumpulkan pandangan tentang bagaimana sastra hari ini—selain tentu saja untuk merayakan Hari Puisi Sedunia yang jatuh pada 21 Maret lalu. Berikut hasil wawancara Lasingan.ID bersama Sindu Putra, Kiki Sulistyo, Irma Agryanti.

 

Lasingan.ID (L) & Sindu Putra (S)

L: Menurut Anda, apa itu Sastra?

S: Media dan cara untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, pendapat, juga perlawanan terhadap pengalaman, pemikiran, ide, pendapat, situasi di dalam dan di luar diri.

L: Bagaimana Anda melihat sastra bekerja di lingkungan sosial?

S: Sastra bekerja di lingkungan sosial, karena tidak terlepas dari pelaku sastra itu sebagai makhluk sosial dan bagian dari lingkungan sosial. Sastra menjadi pemberi perspektif.

L: Apakah sebuah puisi, misalnya, senantiasa merupakan reaksi atas peristiwa organik yang dialami penulis?

S: Tidak senantiasa sastra menjadi reaksi, seringkali juga menjadi aksi, atau mendahului sebuah peristiwa. Sastra tidak sekadar juru bicara jamannya, malah melampauinya.

L: Seandainya, seseorang menemui Anda, dan menjelaskan tafsirannya terhadap karya Anda, dan tafsiran yang ia sampaikan kelewat jauh dari makna yang sebenarnya, seperti apa Anda akan meresponsnya?

S: Tafsir puisi terkadang mengejutkan. Begitu puisi itu menjadi konsumsi publik, pembacaan terhadap puisi itu akan datang dari pengalaman, pendapat, dan pikiran penafsirnya. Beberapa kali saya mengalami, puisi saya dibaca dengan tafsir, yang tak terpikirkan.

L: Apa yang membuat Anda tetap menulis sastra?

S: Saya tetap (sampai sekarang) menulis sastra, karena jika diniatkan untuk berhenti malah hasrat untuk menulis datang bertubi-tubi. Saya pernah, bahkan sering mengalami masa kering, tidak menulis puisi satu pun, berbulan bulan. Dan waktu itu saya manfaatkan untuk rajin membaca. Semua jenis karya sastra. Dan membuka diri untuk belajar: membaca, melihat, menonton seni-seni yang lain. Cara untuk men-charge mesin puitik kita.

L: Berikan tanggapan terhadap ekosistem sastra di Nusa Tenggara Barat saat ini.

S: Ekosistem sastra di NTB sekarang, ini masa yang paling subur. Penulis, komunitas, kegiatan sastra, bergiat tidak saja di Mataram. Jika kita buka medsos: karya-karya penulis NTB tersiar di banyak media, baik cetak atau online. Buku-buku puisi, cerpen banyak diterbitkan. Bagi saya, periode pasang itu, bisa terus bersambung. Chairil dulu bacaannya ke Eropa, generasi 70 seperti kembali ke akar kultur atau Asia timur. Generasi kini, dengan keterbukaan informasi, bisa menjelajah ke setiap sudut dunia. Pertemuan ini bisa menjadi tambahan energi untuk berkarya.

 

Lasingan.ID (L) & Kiki Sulistyo (K)

L: Menurut Anda, apa itu sastra?

K: Sastra itu produk kebudayaan yang meluaskan makna dan wawasan atas bahasa.

L: Bagaimana Anda melihat sastra bekerja di lingkungan sosial?

K: Tergantung lingkungannya. Kadang sastra bekerja sebagai orang alim yang memberi nasihat, kadang sebagai pelukis pemandangan, kadang sebagai demonstran, kadang sebagai pelawak, tetapi lebih sering sebagai orang yang membawa cermin kemana-mana, untuk melihat dirinya sekaligus melihat dunia.

L: Apakah sebuah puisi, misalnya, senantiasa merupakan reaksi atas peristiwa organik yang dialami penulis?

K: Tidak juga. Tergantung penyairnya. Banyak “puisi” yang menampilkan apa-apa yang sudah dipahami orang banyak, dengan tujuan yang ironis, yakni supaya dipahami orang banyak.

L: Seandainya, seseorang menemui Anda, dan menjelaskan tafsirannya terhadap karya Anda, dan tafsiran yang ia sampaikan kelewat jauh dari makna yang sebenarnya, seperti apa Anda akan meresponsnya?

K: Saya tidak akan merespons, atau paling jauh saya akan bertanya ke orang itu tentang kehidupan sehari-harinya.

L: Apa yang membuat Anda tetap menulis sastra?

K: Saya tetap menulis sastra supaya saya bisa lebih banyak melihat realitas.

L: Berikan tanggapan terhadap ekosistem sastra di Nusa Tenggara Barat saat ini.

K: Sastra di NTB, secara kuantitas maupun kualitas, cukup baik, setidaknya ia memberi reaksi atas perkembangan teknologi-informasi, sehingga karya sastra lebih mudah tersiar, juga merespons absennya peran negara dengan cara berhimpun dalam komunitas-komunitas. Tapi komunitas sastra itu sendiri adalah medan yang ironik: “sekumpulan individualis.” bayangkan! Yang belum ada di NTB ini festival sastra berskala besar, atau sebaliknya yang spesifik, misalnya festival sastra pelajar.

 

Lasingan.ID (L) & Irma Agryanti (I)

L: Menurut Anda, apa itu sastra?

I: Kalau secara teknis, itu penamaan genre aja, sih. Tapi kalau secara muatan, barangkali semacam representasi pandangan dari si pengarang yang diolah kembali dalam bentuk kebahasaaan secara berkaidah.

L: Bagaimana Anda melihat sastra bekerja di lingkungan sosial?

I: Mbak Irma sendiri sih sebenarnya penganut pandangan seni untuk seni, tapi dikarenakan seni juga berasal dari apa-apa yang ada di lingkungan, secara otomatis dia (sastra) akan kembali ke lingkungan juga.

L: Apakah sebuah puisi, misalnya, senantiasa merupakan reaksi atas peristiwa organik yang dialami penulis?

I: Untuk masyarakat, bisa saja kehadirannya seperti cermin dari realitas, sehingga dari apa yang mereka lihat kemudian mereka bisa menyikapinya. Barangkali bukan reaksi, tapi lebih kepada moment puitik didapati dari peristiwa-peristiwa yang berseliweran.

L: Seandainya, seseorang menemui Anda, dan menjelaskan tafsirannya terhadap karya Anda, dan tafsiran yang ia sampaikan kelewat jauh dari makna yang sebenarnya, seperti apa Anda akan meresponsnya?

I: Ya ndak apa-apa. Paling Mbak Irma bilang, “Kok bisa kepikiran sampai ke sana?”

L: Apa yang membuat Anda dan tetap menulis sastra?

I: Supaya tetap waras. Sastra itu meluruskan pikiran. Kita bisa tahu apa yang kita pikirkan lewat tulisan, kalau ada pikiran yang melenceng dari logika, bisa langsung terdeteksi supaya bisa diluruskan jadi logis.

L: Berikan tanggapan terhadap ekosistem sastra di Nusa Tenggara Barat saat ini.

I: Rendahnya minat baca jadi persoalan penting kenapa ekosistem sastra di NTB kurang terbentuk. Untuk membentuk tatanan sebuah ekosistem yang utuh mestinya memiliki jaring-jaring yang banyak, yang saling berhubungan dan saling timbal balik.Tapi nyatanya kita tak cukup banyak memiliki jaring-jaring yang kuat.

 

Dari tiga tokoh tersebut, kita bisa merasakan jaringan sastra masih terbentang—meski samar-samar. Baik Sindu Putra, Kiki Sulistyo maupun Irma Agryanti, secara tidak langsung memiliki pandangan yang serupa; bahwa sastra adalah cerminan realitas sosial. Yang darinya, kemudian manusia dapat bersikap.

Di tengah meriahnya lalu lintas teks yang disebabkan oleh kecanggihan teknologi komunikasi, sastra masih tetap berdiri sebagai juru bicara kesenian yang senantiasa melakukan perlawanan; agar manusia tidak melupakan dirinya, agar manusia kembali (atau tetap) mengingat bagaimana “wajah” mereka melalui cermin yang melekat di badan sastra.

lasingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *