desainer foto:  Ahmad Khairul Fareza

Judul di atas bukanlah ejekan maupun sindiran. Iya, saya benar-benar mampu mengasah kemampuan memasak berkat mempelajari ulang matematika. Selama pandemi, saya terpaksa memenuhi nafsu nyemil dengan membuat sendiri segala camilan. Jika di antara kalian ada yang berkomentar, “Kan bisa pesan online!” atau sejenisnya, mohon maaf, itu tidak ekonomis. Bukannya pelit, ya; dengan jam kerja dan pendapatan yang menyusut begini, memasak di rumah adalah keputusan yang bijak—karena ada banyak waktu luang dan sedikit penghasilan.

Bicara tentang matematika, apa kalian langsung merujuk pada angka-angka? Atau simbol + – x : = % blablablaa~ lainnya? Sama, saya juga, tapi itu dulu, sebelum saya memperbaiki definisi matematika di kepala. Matematika bukanlah perihal hitung menghitung, melainkan perihal pemodelan—merangkai model pola pada suatu hal yang tidak (atau belum) berpola, atau membarui pola yang sudah ada.

Misalnya, dalam hal masak memasak ini, saya memperbarui pola yang sudah ada. Resep tersebut saya ibaratkan sebagai formula atau rumus pada suatu hitungan matematika. Mengapa? Karena kesan yang timbul pada diri ini sama persis, antara saat sedang memasak sambil melirik resep dan saat sedang mengerjakan soal matematika; takut salah dan terdikte.

Camilan pertama yang saya buat semasa pandemi adalah donat. Waktu itu, setengah hari saya habiskan hanya untuk menghafal takaran adonan saya agar sesuai resep (orang). Akhirnya, pembuatan donat saya berhasil, tapi ternyata saya belum memahami mengapa berhasil dan bagaimana bahan-bahan ini bekerja.

Iseng, saya mencoba mengurai identitas masing-masing bahan; asal, sifat, keterkaitan, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang dirasa perlu. Aktivitas ini sekilas terlihat merepotkan. Untuk apa repot-repot? Toh kita tidak terobsesi untuk jadi ahli gizi atau juru masak profesional!

Nah, pernyataan di atas mestinya tidak muncul jika kita terbiasa dengan kerja matematika yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Memahami sesuatu secara mendasar bukan hanya tugas seorang ahli. Begitulah matematika bekerja; sayangnya di sekolah tidak pernah ada tata cara belajar matematika dasar secara baik. Bermatematika berarti berpikir dan bekerja secara logis (terpola).

Setelah saya memahami sifat dan hal-hal terkait para bahan, saya mengerti bahwa roti goreng bernama donat ini memiliki bahan-bahan pokok yang mesti ada. Selain itu, ia pun bisa dikombinasikan dengan bahan lain—makanya kita sekarang bisa menemukan yang namanya donat kentang, donat ubi, dll. Prinsip ini sama halnya dengan rumus-rumus matematika dasar yang mampu berkembang menjadi lebih kompleks. .

Saya teringat masa-masa mempelajari matematika di sekolah. Semua rumus yang ada dijejalkan ke kepala tanpa ada penjelasan mendasar tentangnya; bagaimana ia bisa sampai ke simpulan rumus, apakah  ia bisa diperbarui, dan segala kemungkinan lainnya. Boro-boro melaju ke sana, ya, alasan dan manfaat mempelajari matematika saja tidak dijelaskan dengan tepat—yah, ini sepertinya hampir di semua mata pelajaran juga.

Sebenarnya, kesadaran akan matematika ini timbul akibat menyimak siaran matematika dasar pada salah satu aplikasi belajar online, yang membahas ilmu pengetahuan secara jelas dan logis. Karenanya, saya mulai rajin menguji ketepatan pola pikir saya sedikit demi sedikit.

Hal ini bisa dilatih juga melalui aktivitas motorik, salah satunya dengan cara memasak. Mempelajari pemodelan dasar dari resep-resep camilan sangatlah menyenangkan; mulai dari bahan-bahan hingga tata cara masak—goreng, bakar, kukus, dll. Darinya, saya mampu membuat camilan yang saya olah sendiri berdasarkan pemodelan dasar hasil temuan saya usai menguraikan bahan-bahan dasar donat. Dengan memanfaatkan bahan-bahan seadanya yang ada di rumah, hari  ini saya berhasil membuat camilan layak makan. Camilan berbahan dasar tepung terigu, telur, gula, dan mentega ini rasanya enak dan unik—semacam kombinasi bakbia dan canay.

Ternyata resep tidak mesti hanya bersumber dari para juru masak profesional. Saya pikir hal itu pun berlaku pada pemodelan rumus matematika. Sebenarnya orang-orang bisa saja merumuskan pemodelan secara mandiri asal disepakati oleh rekan selingkungannya. Karena pada akhirnya fungsi dari pemodelan tersebut adalah untuk memudahkan manusia memahamin sebuah kejadian atau fenomena. Sehingga kita, manusia, mampu bertahan hidup. Matematika bukanlah ilmu pasti, ia bisa diperbarui jika ditemukan adanya pola-pola baru.

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *