desainer foto:  Ahmad Khairul Fareza

Untuk mereka yang menghabiskan masa sekolah dan kuliah di Mataram, beberapa pasti memiliki tongkrongan khusus untuk berkumpul bersama teman-teman ketika sebelum berangkat sekolah atau pun ketika pulang sekolah. Salah satu yang akan saya bahas adalah sebuah tongkrongan, yang kami sebut “Em-yu”. Entah siapa yang pertama kali menyebut tempat ini dengan nama seperti itu, namun saya rasa nama tersebut berasal dari lokasi warung yang dulunya berada dekat dengan SMA Muhammadiyah Mataram. Akhirnya tempat itu mulai popular dengan sebutan nama ‘emyu ‘, yang merupakan perpaduan dari unsur kata “Muhammadiyah.”

Tongkrongan emyu ini sebenarnya adalah sekumpulan warung-warung yang menjual nasi bungkus dan minuman sachet saja, tidak ada yang berbeda dari warung-warung pada umumnya. Namun yang membuat tongkrongan ini istimewa adalah para pedagang di sana, terutama salah satu warung yang dimiliki oleh Pak Sa’I dan Biq Sa’i. Mereka ini adalah pasangan suami istri yang berjualan di sana mungkin sudah lebih lama dari umur saya . Merekalah yang membuat tongkrongan ini rasanya lebih special dari tempat-tempat lainnya.

Emyu mulanya berlokasi di depan Masjid Raya Mataram dan berdekatan dengan SMA Muhamadiyah Mataram. Namun karena adanya kebijakan penertiban dari pemerintah, akhirnya harus membuat warung-warung emyu pindah lokasi sedikit lebih ke arah utara. Tepatnya di samping SDN 5 Mataram dan dekat dari Lapangan Islamic Center. Perpindahan mengakibatkan beberapa penyesuaian seperti berkurangnya tempat duduk dan berubahnya suasana di emyu itu sendiri. Namun, beberapa penyesuaian tersebut tidak membuat pelanggan dari Biq Sa’I dan para pedagang emyu lainnya berkurang. Meskipun tempat ini sudah berpindah lokasi dan sudah tidak sedekat dengan SMA Muhammadiyah, tetap saja para pelanggan yang datang menyebut tempat ini sebagai emyu

Dari beberapa deret warung, ada satu warung yang jadi pilihan tetap ketika saya dan teman-teman berkunjung. Yaitu warung yang dimiliki Biq Sa’I. Warung Biq Sa’i ini adalah  warung yang saya kunjungi saat pertama kali datang ke emyu, ketika diajak oleh salah seorang teman 7 tahun lalu. Dan sampai sekarang bila saya ingin melakukan makan siang atau sekadar mencari kopi, saya pasti memilih warung emyu Biq Sa’i.

Jam buka dari warung-warung emyu lumayan bervariasi. Kita bisa mengunjungi emyu pada pukul 7 pagi atau sebelum pukul 10 malam. Waktu operasional ini sebenarnya bersifat kondisional saja, dan hanya beberapa warung saja yang memilih tetap berjualan sampai malam. Namun warung Biq Sa’i dan Pak Sa’i biasanya pada waktu magrib sudah beres-beres untuk tutup. Saya biasanya berkunjung ke sana ketika siang hari saat jam makan siang atau pagi sembari menunggu jam kuliah selanjutnya.

Saya rasa, semua yang membaca dan pernah berkunjung ke warung Biq Sa’i di emyu sepakat bahwa beliau adalah orang yang sangat ramah kepada pelanggan. Dan yang paling membuat saya salut adalah, bisa dibilang, beliau itu menghafal hampir semua nama-nama pelanggan. Mungkin hal ini yang membuat banyak pelanggannya yang sudah merantau untuk bekerja atau kuliah di luar Lombok tetap menyempatkan diri bersilaturahmi ke Biq Sa’i saat mereka sedang pulang kampung.

Selain itu, setiap kali berkunjung ke sana, ada saja topik obrolan yang dibahas Biq Sa’i bersama pelanggannya. Mulai dari perkenalan singkat untuk mereka yang pertama kali berkunjung ke sana, kabar tentang bagaimana perkembangan kuliah atau kerjaan, cerita-cerita lain tentang pengalaman melewati bencana gempa sampai dengan perkembangan dari anak Biq Sa’i sendiri. Rasanya seperti mengobrol dengan ibu sendiri. Begitu akrab dan hangat.

Mungkin bagi sebagian orang terutama mereka yang merantau untuk bersekolah atau bekerja di Mataram, Biq Sa’I bagaikan ibu buat mereka di tanah perantauan. Lihat saja, beberapa pelanggan tetap yang datang tidak jarang ngutang di sana ketika akhir bulan atau saat belum dapat kiriman uang dari kampung. Biq Sa’i selalu menyapa mereka dan santai saja ketika ada pelanggan yang minta berhutang. Hitung-hitung saling membantu dan InsyaAllah rejeki sudah ada yang ngatur, katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *