desain grafis:  Ahmad Khairul Fareza

Maria Enders (Juliette Binoche), seorang aktris film dan teater ternama bersama asisten pribadinya, Valentine (Kristen Stewart) berada dalam sebuah kereta menuju Zurich untuk menghadiri sebuah acara penganugerahan mewakili Wilhelm Melchior, sutradara teater sekaligus sahabat dekatnya. Bersama suara bising kereta yang berjalan melewati pegunungan Alpen, Valentine terlihat berdiri terhuyung-huyung menahan guncangan kereta sambil terus berbicara lewat telepon. Ia harus sedikit berteriak untuk mengimbangi deru kereta agar lawan bicaranya tidak salah tangkap dengan apa yang ia katakan. Suara yang ribut, tekanan dari pijakan tempat berdiri, seakan memperoleh kesan penebalan sebab dalam kondisi bising itu kabar yang datang justru tak mengenakkan. Urusan perceraian Maria yang belum selesai, juga kabar yang tak kalah buruk lainnya ketika Maria menyingkir sebentar ke gerbong yang lebih sepi demi menerima telepon lain. Ruang yang berpindah ke gerbong yang lebih gelap, seolah menandakan kabar buruk selalu meminta lokus tersendiri agar si penerima meresapi kabar buruk itu baik-baik, hingga Maria sendiri merasa tidak percaya ketika Valentine memberitahu bahwa Wilhelm, sutradara yang mengangkat karirnya pada waktu ia masih muda dulu, telah meninggal dunia. Jadilah, acara malam yang seharusnya bertema penganugerahan itu menjadi acara tribute untuk jasa-jasa Wilhelm di dunia seni peran.

Gambaran guncangan kereta yang tadi sebagian mengawali paruh pertama film, masih meninggalkan gemanya lewat kegelisahan Maria yang tiba-tiba mendapat tawaran dari sutradara muda Klaus Diesterweg (Lars Eidinger) untuk memerankan Helena, karakter wanita berusia empat puluh tahun yang mencintai perempuan muda berusia dua puluh tahun bernama Sigrid dalam drama berjudul Maloja Snake. Maria menolak tawaran itu sebab ia bersikukuh ia tetaplah Sigrid yang dulu. Peran Sigrid yang pernah ia mainkan ketika masih berusia delapan belas tahun. Sigrid perempuan muda yang lekat pada kebebasan, hal-hal yang berhubungan dengan sifat tak terduga. Dan Maria melakukan sekian penyangkalan bahwa ia tidak mungkin memerankan karakter Helena yang dianggapnya wanita rapuh meski usianya kini tak jauh beda dengan usia karakter Helena.

Toh, meski mencoba melakukan upaya pelarian, Maria pada akhirnya menerima tantangan memerankan Helena. Memainkan kembali drama yang dulu melambungkan namanya, kali ini dengan karakter yang berbeda. Tentu bukan semata-mata karena drama ini ditulis oleh Wilhelm, mendiang sutadara yang turut berjasa bagi perjalanan karirnya, tetapi juga sudut pandang Valentine sendiri yang membuat Maria memiliki pertimbangan lain. Dari sini, cerita kemudian bergulir dengan banyak persoalan yang sekilas nampak hanya bergaung di dasar seperti pertanyaan eksistensi mengenai usia, waktu, interpretasi terhadap perubahan hidup. Ada pula kesenjangan generasi, ideologi, relasi antar sesama perempuan yang begitu rumit, hingga pertentangan estetika antara mereka yang mewakili selera tinggi dari kalangan film “serius” dan teater dengan mereka yang mencoba melihat sisi lain dari film-film yang mengeksplor tema superhero dan mesin waktu menuju masa depan itu.

Dari sekian banyak soal yang telah disebutkan tadi yang anehnya dapat kemudian terajut tanpa saling menenggelamkan yang lain, bila dikaitkan dengan penggambaran film Clouds of Sils Maria (2014) di mana terdapat interaksi yang mendalam antara Maria dan Valentine, maka bolehlah lensa fokus hanya kita arahkan pada krisis eksistensi yang dialami Maria. Kenyataan bahwa Maria memainkan kembali drama Maloja Snake dengan karakter yang berbeda membuatnya menderita. Ia benci karakter Helena yang dianggapnya menggambarkan sosok wanita yang kalah. Wanita yang dikalahkan oleh umur, oleh ketakutan-ketakutannya, rasa cemburu terhadap Sigrid, ketidakberdayaan menyaksikan perubahan sementara ia terus dihantui akan gairah yang terdapat pada orang-orang muda. Kita bisa melihat sisi lain dari rasa ingin memilikinya terhadap Sigrid tidak semata-mata karena ia dibutakan oleh perasaan cinta yang mendalam, melainkan juga rasa kehilangan akan usia muda dan ingin merengkuh sisa-sisa kejayaan itu yang tercermin dari pribadi Sigrid. Tapi, benarkah begitu? Benarkah usia tua memang membuat kita tidak berdaya, lapuk, dan seakan kehilangan masa depan seperti yang ditakutkan oleh Helena? Oleh Maria?

Kesenjangan generasi yang terjadi di film ini, tidak hanya ditampakkan melalui asosiasi yang sudah lazim kita ketahui. Seperti halnya generasi muda yang kerap diasosiasikan dengan kualitas macam kebebasan, masa depan yang panjang, spontanitas, ide-ide gemilang, atau kemajuan. Segala sesuatu yang nampaknya segar dan baru. Sedangkan, generasi tua sebaliknya, kecuali tentu saja pandangan yang mestinya bijak bestari sebab usia tua menandakan telah terlampaui juga banyak pengalaman yang kiranya dapat memperkaya sudut pandang seseorang. Clouds of Sils Maria menghadirkan pula pada kita ambiguitas pandangan dari masing-masing wakil generasi itu. Valentine sebagai sosok perempuan muda yang tenang, selalu percaya diri mengemukan apa yang dipikirkannya perihal apa saja, bahkan dapat memberi tafsir lain pada naskah drama Maloja Snake hingga Maria akhirnya berani mencoba lagi untuk terus berlatih memainkan karakter Helena. Kemudian ada sosok baru, Jo-Ann Ellis (Chloe Grace Moretz) seorang aktris perempuan muda Hollywood. Ia tak hanya tampil untuk menunjukkan streotip aktris pendatang baru Hollywood yang liar dan kerap membuat sensasi agar semakin terkenal, atau karakter Sigrid yang lugas dan penuh kejutan, tetapi juga mewakili gambaran perihal cara pandang dari mereka yang muda yang kerap membelot sama sekali dari yang tua. Ini bisa kita saksikan melalui scene ketika Jo-Ann Ellis usai berlatih sebagai Sigrid menolak saran Maria untuk menambahkan improvisasi adegan di babak terakhir dengan cara yang dilakukan Maria ketika dulu berperan sebagai Sigrid. Akhirnya, keduanya, baik Valentine maupun Jo-Ann Ellis menjadi “pelatuk” bagi Maria yang memunculkan secara samar berbagai kegelisahannya ke permukaan.

Boleh jadi, kita akan memuji sikap terbuka Valentine dan Jo-Ann Ellis dan menyalahi sikap Maria yang terkesan lebih merasa terancam akan eksistensi dirinya. Tapi, apakah dengan begitu kegelisahan Maria menjadi tidak berarti? Bukankah seseorang baru bisa tahu keterbatasan diri yang berhubungan dengan eksistensinya justru ketika ia secara sadar memiliki pengetahuan tentang hal itu? Pengetahuan tentang hidup yang amat singkat dan betapa tidak berdayanya manusia menghadapi waktu yang kian tergerus membawa pada renungan yang lebih jauh dari sekedar peralihan fase hidup seseorang. Pengetahuan yang melahirkan kegelisahan untuk selanjutnya dapat bertransformasi menjadi penerimaan setelah melalui kontemplasi. Ini tercermin dari sikap Maria yang tetap melanjutkan pekerjaannya di teater memerankan Helena, yang sekaligus berarti merupakan sikap penerimaannya melihat kembali sesuatu yang semula ia takuti.

Lalu bagaimana dengan Valentine dan Jo-Ann Ellis? Apakah karena mereka masih muda maka pengetahuan akan hidup yang rapuh belum menghampiri kesadaran mereka? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Sepertinya kita menemukan sebuah tanda dari pertanyaan itu melalui pertanyaan yang diajukan Valentine sendiri kepada Maria tentang mengapa ketika dulu Maria diminta berperan sebagai Sigrid, ia tidak menolak atau mengajukan berbagai tuntutan seperti yang ia lakukan sekarang saat diminta berperan sebagai Helena. Jawaban Maria sangat sederhana, “Karena waktu itu aku masih muda.” Melalui tanggapan Maria itu pun, kita tidak bisa serta merta memberi batas pemisah antara mereka yang muda yang melulu melihat sesuatu dengan dangkal, sedangkan yang tua meresapi sesuatu lebih dalam. Tak ada batas tegas antara  the good dan the bad sebab semua tampil secara manusiawi dalam film ini.

Pun Maria bukanlah seorang yang berumur yang bisa dengan mudah menyatakan penyebab kegelisahannya. Melalui scene ketika Maria dan Valentine berlatih drama Maloja Snake, terjadi kekaburan batas dialog antara yang fakta dan fiksi. Pada pengamatan sekilas, sulit membedakan apakah dialog yang diucapkan itu adalah memang dialog Helena? Atau justru ungkapan hati Maria? Apakah benar yang diucapkan Valentine adalah dialog Sigrid? Atau justru kata-kata Valentine sendiri? Kekaburan batas dialog tersebut boleh jadi hadir sebagai metafora alam bawah sadar Maria. Kegelisahannya justru diwakilkan oleh dialog Helena pada naskah drama. Maria sendiri tidak dapat menyatakan krisis dari dalam diri yang dialaminya sebab itulah ia selalu melakukan penyangkalan semisal penolakannya di awal ketika diminta memerankan Helena dikatakannya karena terpengaruh takhayul dari pemain lama yang meninggal sesudah memerankan Helena. Maria juga berdalih dengan menggunakan masalah perceraiannya sebagai tameng. Justru dengan menyimak dialog Helena, benang kusut perihal rasa sakit yang terpendam dapat diurai satu-satu.

Tidak hanya menampilkan akting dari jajaran castnya yang memukau sehingga film terasa subtil, suguhan sinematografi dalam Clouds of Sils Maria seperti formasi awan bernama Maloja Snake yang menuruni bukit-bukit di wilayah Maloja memberi nuansa hangat dan menyiratkan makna yang lebih. Di film dikatakan fenomena awan Maloja Snake menandakan perpindahan waktu juga penanda cuaca buruk. Namun, meski begitu ia menjelma menjadi pemandangan yang indah, yang dinantikan oleh wisatawan di sana. Maloja Snake menjadi metafora dari krisis eksistensi seorang Maria. Perpindahan waktu yang kontras seperti halnya awan Maloja juga fase krisis yang dialami Maria, betapa pun dianggap buruk, ia dapat hadir sebagai perwujudan dari rasa sakit yang demikian indah.

Data Film:

  • Judul: Clouds of Sils Maria
  • Sutradara: Olivier Assayas
  • Skenario: Olivier Assayas
  • Sinematografi: Yorick Le Saux
  • Genre: Drama
  • Durasi: 123 Menit
  • Pemain Utama: Juliette Binoche/Kristen Stewart/Chloe Grace Moretz
  • Tahun Rilis: 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *