pewarta: Robbyan Abel Ramdhon / desain grafis: Rori Efendi

Abhy Summer dikenal sebagai salah seorang  penyanyi yang tumbuh di Gili Air, Lombok. Pada 2015 silam mengikuti ajang x-factor yang membuat namanya semakin melambung di gelanggang musik nasional. Dan agustus 2019 lalu, Abhy turut mengisi kemeriahan panggung Mataram Jazz di Epicentrum Mall.

Belakangan ini, Abhy baru saja merilis lagu barunya berjudul Chill Out melalui kanal Youtube miliknya. Sebelumnya, Abhy juga merilis dua lagu lain: Family dan Brave. Dalam wawancara bersama Robbyan Abel Ramdhon, Abhy mengungkapkan bahwa ketiga karyanya yang dipublikasikan selama masa pandemi ini memiliki saling keterkaitan. Ketiganya diangkat berdasarkan perjalanan hidup Abhy sendiri.

Melalui lagu Chill Out Abhy mengajak orang-orang, terutama golongan muda, untuk lebih bersantai dalam menghadapi tekanan dunia. Tak usah terlalu panik sampai harus mengekspresikan kekacauan mental melalui tindakan kekerasan, live a life learn a lesson, kata Abhy. Seperti Chairil Anwar, Abhy juga beranggapan, bahwa hidup hanya menunda kekalahan. Namun sebelum sampai pada kekalahan itu, setiap dari kita memiliki kesempatan masing-masing untuk menikmati kebahagiaan, tentu saja dengan cara yang berbeda-beda.

Pria yang mengaku dipengaruhi oleh Rhoma Irama ini, juga memberikan sedikit bocoran tentang albumnya yang berjatuk “Black and Blue”. Di dalam album tersebut, tidak hanya Chill Out, Brave, dan Family, melainkan masih terdapat tujuh lagu lain yang belum diedarkan secara luas. Tentang narasi apa yang berusaha dikembangkan Abhy dalam lagu-lagunya, simak wawancara Robbyan Abel Ramdhon bersama Abhy Summer berikut ini.

Abhy (A) & Robby (R)

R: Apa yang membuat Anda mengawali dan tetap berkarya di dunia musik?

A: Mendengarkan dan menyanyikan lagu itu buat saya tenang dan bahagia, alasan yang cukup kuat untuk saya tetap berkarya selagi hayat masih dikandung badan.

R: Anda sudah mempublikasikan tiga karya secara resmi di kanal Youtube Anda, yakni Family (Februari, 2020), Brave (Februari, 2020), Chill Out (Mei, 2020), apakah ketiga karya ini memiliki saling keterkaitan?

A: 3 lagu tersebut dan 7 lagu lainnya dalam Album “BLACK AND BLUE” yang Insha Allah akan segera rilis secara digital di masa pandemi COVID-19 ini adalah gambaran hidup yang telah saya lalui selama 31 tahun masa hidup saya. Semuanya berkaitan satu sama lain dan saya tulis dengan keyakinan bahwa di luar sana ada banyak orang yang pernah merasa, melihat dan alami hal yang sama seperti yang saya alami.

R: Bisakah Anda ceritakan secara singkat, bagaimana masing-masing karya tersebut terbentuk, apakah terdapat narasi khusus yang ingin Anda bangun di dalamnya, terutama pada karya Anda yang terbaru?

A: Ke-10 lagu dalam Album saya bertajuk Black and Blue bertema dasar ‘human interest’. Kesepuluhnya punya narasi khusus yang mengacu pada satu narasi dasar: Live a life Learn a lesson, semua kita di akhir pasti kalah dan mati, selama hidup, semua kita berusaha gapai satu titik, bahagia. Masing-masing dari kita punya cara dan jalan sendiri memaknai dan menggapainya. Sebelum akhir yang pasti itu datang tepat depan muka kita.

R: Apa maksud angka-angka (1,2,3,4,5,6,7,8,9,10) yang mengawali setiap bait dalam lirik Chill Out?

A: Saya mau ngajak orang-orang berhitung kali aja ada yang bingung, alihkan kepadatan, kepenatan dan keterdesakan otak dan adrenalin yang memicu tindak kekerasan pada diri atau orang lain secara fisik atau pun mental, biar bisa santai/chill out sejenak dan memahami pesan saya, kali aja ada jiwa yang bisa terselamatkan sebelum gila.

R: Dalam official video lagu Chill Out, tepatnya pada setiap adegan (menit; 1:11/1:15/2:28/) yang memuat kata “Chill Out” Anda melakukan gerakan non-verbal dengan mengacungkan “jari tengah”, apakah simbol tersebut sedang berusaha merespons suatu kondisi tertentu yang dibicarakan dalam lagu Chill out?

A: Itu bagian teatrikal yang natural muncul dari saya selaku penulis dan satu-satunya selain Tuhan yang mengerti maksud lagu saya.

R: Ada kesan RnB ketika saya mendengar karya Anda, apakah sejak awal Anda berniat untuk meletakkan karya Anda dalam kategori genre musik tersebut?

A: Saya bukan penyanyi RnB, Dangdut, Rapp, Pop, Rock, Keroncong, Jazz, Campursari, dsb. Bila nada yang keluar dan tone yang terbentuk memberi kesan genre tertentu biar saja pendengar yang menilai, bebas. Intinya, saya nyanyi pakai hati saya, karena ke-10 lagu ini adalah kisah jalan hidup yang pernah saya lalui sendiri, dan mungkin mewakili beberapa orang yang merasakan sentuhan entah dari musik atau liriknya.

R: Siapa musisi yang paling mempengaruhi Anda dalam berkarya?

A: Ratusan, tapi saya sebut beberapa nama saja, George Garswin, Ella Fitzgerald, Bill Weather, Sting, Bobby Hebbs, Amy Winehouse, Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, Iyeth Bustami.

R: Apakah Anda memiliki kebiasaan tertentu setiap kali akan mulai membuat karya? (boleh dijawab/boleh tidak dijawab)

A: 1. Saya bermotor aja pelan-pelan sampai ke bangsal Kabupaten Lombok Utara (KLU) trus balik lagi sore-sore; 2. Ngurung diri di toilet 2 jam-an gitu; 3. Nonton lagi film-filmnya Shahrukh Khan, yang ketiga ini biasa saya lakukan untuk menstimulasi rasa dalam karya.

Seperti jawaban yang telah diberikannya dalam wawancara, Abhy tidak terlalu tertarik bila karyanya diidentifikasikan hanya pada satu jenis aliran musik tertentu saja. Baginya, setiap karyanya berhak untuk dinilai secara bebas oleh para pendengar. Abhy cuma berharap, pengalaman hidup yang ia bagikan melalui musik, bisa memberikan “sentuhan” untuk orang lain yang mendengarkannya.

lasingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *