desain grafis: Dedy Kurniawan

Rasanya ada yang kurang pada lebaran tahun ini, setelah mendengar keputusan Presiden Joko Widodo yang melarang aktivitas mudik menjelang lebaran 2020 guna mencegah penyebaran Covid-19. Larangan ini diputuskan dalam Rapat Terbatas di Istana Merdeka, Jakarta pada 21 April 2020 melalui video konferensi.

Larangan ini menjadi ujian bagi para perantau. Pasalnya tradisi mudik lebaran selalu menjadi ajang tahunan untuk pulang ke kampung halaman melepas segala kerinduan, mudik dan lebaran adalah dua hal yang sukar dipisahkan karena telah menjadi tradisi sejak lama di Nusantara. Tradisi mudik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, tradisi primordial yang dilakukan oleh masyarakat petani Jawa.

Menurut Silverio Raden Lilik Aji Sampurno dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, sejarah mudik bermula dari kekuasaan Kerajaan Majapahit yang luas hingga Sri Lanka dan Semenanjung Malaya, luasnya kekuasaan ini yang menyebabkan sang Raja menempatkan para Patih di berbagai daerah untuk melindungi wilayah kekuasaan. Suatu waktu para Patih diminta pulang untuk menghadap Raja dan mengunjungi kampung halaman, peristiwa ini yang menjadi asal mula mudik di Indonesia.

Sementara menurut Jakob Sumardjo seorang ahli kajian filsafat Indonesia, istilah mudik memiliki akar bahasa Jawa Ngoko “Mulih Dhilik” yang artinya pulang sebentar, orang dalam rantauan yang pulang ke kampung halaman namun hanya sebentar karena harus kembali lagi ke tanah rantauan. Pendapat lain datang dari sejarawan Betawi Ridwan Saidi, mudik berangkat dari istilah “Menuju Udik” yang artinya menuju selatan karena pada masa itu orang Betawi memiliki kebiasan berniaga di pesisir utara Jakarta dan tinggal di daerah selatan yang lebih sepi, Jakarta sebagai kota tujuan rantau terbesar di Indonesia memengaruhi populernya istilah mudik.

Urbanisai pada era Orde Baru kian memperkuat pondasi dari fenomena mudik yang sering kita lihat menjelang lebaran. Pada tahun 1970 terjadi percepatan urbanisasi yang puncaknya pada tahun 1980-an, kebijakan politik dan ekonomi Indonesia pada sejak 1970-an mendorong aktivitas perdagangan terpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa termasuk Jakarta, “Kecenderungan di masa itu adalah memusatkan semua industri protektif di Jawa, yang beruntung bisa menikmati kedekatan pasar dan ketersediaan infrastruktur,” tulis Manuelle Franck dalam buku Revolusi Tak Kunjung Selsai.

Urbanisasi menjadikan Jakarta dan kota besar lainnya di Pulau Jawa menjadi tanah harapan, tempat untuk warga dari daerah berbondong-bondong datang ke kota-kota besar untuk mencari penghasilan dan hidup yang layak  Akibatnya, populasi penduduk di kota kota besar di Pulau Jawa melonjak, kepadatan populasi ini sangat terasa menjelang mudik lebaran. Majalah Prisma edisi Mei 1977 menyebutkan: “Pemerintah Kota DKI Jakarta telah gagal membendung deras arus urbanisasi. Sepanjang tahun 1970-an, geliat pendatang baru kian agresif dan menjadi momok bagi ibu kota Jakarta.”

Pada dimensi spiritual kultural, mudik dianggap sebagai tradisi warisan yang dimiliki sebagian besar masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu. Nilai spiritual yang tertanam dalam tradisi mudik inilah yang kemudian mendukung kelahiran fenomena sosial tersebut di masyarakat.

Selain itu, mudik memiliki dimensi psikologis. Pulang ke kampung halaman bagi para pemudik bukan hanya sebatas untuk merayakan lebaran bersama keluarga, tetapi juga untuk menghilangkan kepenatan beban kerja. Kerasnya kehidupan kota, bisingnya kota, dan berbagai tekanan kerja lainnya membuat para migran ini rentan mengalami depresi. Tenangnya suasana kampung halaman, sejuknya alam pedesaan, ramahnya keluarga dan kerabat menjadi alasan yang paling kuat untuk melakukan mudik.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *