desain grafis: Wibisono Setiyoadi

Komplek Ruko Gomong Square di malam hari memang tampak remang; sebab tidak semua rumah toko (ruko) di kawasan tersebut beroperasi. Terlepas dari itu, jika kalian sedang mencari tempat tongkrongan nyaman dan berkudapan lezat dengan harga terjangkau, datanglah ke sana; lalu temukan Kedai Retrois. Saya merekomendasikan menu nasi goreng dan tempe mendoan sebagai pemantik.

Kedai yang beroperasi sejak 2015 ini awalnya berlokasi di ruko bagian pojok block ke-3 dari Jalan Gunung Tambora—arah menuju gerbang samping Universitas Mataram (Unram). Kini mereka telah pindah, bergeser ke ruko lain meski masih dalam block yang sama di Gomong Square. Oh, iya, kita juga bisa menemukan kedai ini melalui Jalan Soromandi Lawata.

Buka usai magrib s.d. pukul 11 malam, kedai ini menawarkan suasana—yang saya sebut sebagai—ruang tamu seorang teman. Taburan interior kedai yang bernuansa masa silam membuat saya seperti sedang bertamu ke rumah teman. Saya masuk dan duduk di ruang tamu yang rasanya sudah sangat saya kenali. Well, jika saya dianggap mengada-ada atau berlebihan, silakan datang langsung ke lokasi untuk menguji pernyataan tersebut.

Tegar Anggaraksa, atau yang lebih akrab disapa Rio, adalah penikmat musik era lama. Seluruh interior dalam kedai ini merupakan koleksi pribadi miliknya. Besar dugaan bahwa inilah sebab kesan “rumah teman” muncul dalam benak saya.

Karena penasaran, saya sempatkan mengobrol santai dengannya perihal konsep interior. Lelaki asal Desa Apitaik, Lombok Timur ini ternyata sejak dulu ingin bekerja secara mandiri. Sejalan antara keinginan tersebut dan koleksi benda-benda lawasnya, ia memilih membuka kedai dengan menyusun interior musik era lama dan benda-benda lawas lain sebagai identitasnya.

Nah, bagi kalian yang akrab dengan lagu-lagu The Beatles, Queen, David Bowie, Guns N’ Roses, dan Nirvana, saya jamin interior yang melapisi sebagian besar dinding kedai akan langsung mendapat tempat khusus dalam memori kalian. Kalau pun tidak akrab, kalian akan sulit menahan diri untuk tidak berfoto bersama interior tersebut sebagai latar belakang.

Selain bermain pada tata ruang, kedai ini pun mengedepankan kenyamanan pelanggan dengan menyediakan dua hal—yang bagi Rio—penting sebagai daya tarik; yakni musik dan koneksi internet. Pengamatan lelaki 33 tahun ini tentang kebutuhan pelanggan masa kini mengantarkannya pada keduanya.

Baginya, setiap manusia pasti menikmati musik, apa pun gendre kesukaan mereka. Dengan menyediakan alat musik akustik sederhana, ia menyilakan para pelanggan untuk mengekspresikan diri melalui musik. Memainkan musik bersama teman adalah aktivitas yang umumnya ampuh mengusir rasa bosan.

Pun, jika tidak tertarik bermusik, para pelanggan dapat dengan bebas menikmati koneksi internet gratis. Tawaran ini tentu hampir mustahil ditolak pelanggan. Bermain online game bersama teman-teman, atau pun datang sendiri untuk online working, cocok saja di tempat ini.

Upaya-upaya menjaring pelanggan yang dilakukan tanpa obsesi kuat memang mengesankan bahwa Rio kurang serius menggarap bisnis kedai. Akan tetapi, itu bukannya tidak disadari olehnya. Berdua bersama sang istri, ia menjalankan kedai ini dengan prinsip sederhana: senang. Selama ia dan istri senang, maka tidak ada hal yang perlu dikejar seserius itu sampai harus terlihat obsesif.

Dan, lagi, tujuan pemilik kedai ini semakin mempertebal lapisan kesan nyaman saya terhadap tempat ini. Tidak ada obsesi kapital yang sengit, oleh karenanya, kedai ini membangun atmosfir ramah pelanggan.

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *