sumber ilustrasi: instagram Abhy Summer

Abhy Summer meluncurkan album perdananya bertajuk Black & Blue di Kedai Warpindo, pada Sabtu pekan lalu (18/07/2020). Sebelumnya Lasingan.id diundang untuk menyaksikan momentum bersejarah tersebut. Saya pun datang bersama Maksum Roby. Saya hadir lebih dulu pada pukul 16.00. Sesuai jadwal yang telah ditentukan. Sayang acara tidak berjalan pada waktu yang semestinya. Acara baru dimulai sektiar sejam kemudian.

Saya duduk di pojok belakang, tempat sebagian sofa disediakan untuk para tamu. Meski mulanya seorang lelaki bernama Rizki Fadly, yang nantinya saya ketahui berperan sebagai pembawa acara menawarkan untuk duduk di depan. Saya teringat Lindsay Duncan ketika memerankan Tabitha Dickinson dalam film Birdman (2014), perempuan yang berprofesi sebagai kritikus teater itu tak pernah mengambil kursi paling depan setiap kali menonton pertunjukan (sebenarnya tak juga terlalu belakang). Hal ini dikarenakan, perlu ada semacam jarak antara pendengar dan karya yang dinikmatinya. Sebagaimana seniman yang tak boleh terlalu menyatu dengan karyanya.

Mengapa demikian? – tentu saja supaya ruang tafsir bisa terbuka lebih lebar, dan konskuensi kritis terhadap karya tersebut dapat dilahirkan.

Singkat cerita, acara dimulai dengan sesi diskusi oleh Ade Merteyana (Manajer/Belibis6 records), Ferdi Soewandi (produser/music director), dan Abhy Summer. Sesi diskusi dibuka oleh Ade yang menceritakan bagaimana mula-mula pertemuannya dengan Abhy dan juga rencana mereka menggarap album pada 2019 lalu. Ade mengaku, ketertarikannya terhadap lagu Abhy – selain karena bagus – berasal dari sejarah dari tiap-tiap lagu yang termaktub dalam album Black & Blue. Sejarah disertai gagasan yang kuat, katanya.

Menurut saya Ade adalah sosok kurator yang memiliki selera dengan level filosofi tertentu. Ia tak mau sembarangan memilih musisi untuk ikut bergabung dalam Belibis6 records, sebaliknya, ia akan bertaruh habis-habisan untuk musisi yang memiliki potensi seperti Abhy. Ade bercerita, pada awal pertemuannya dengan Abhy, corak musik yang dibawakan lelaki kelahiran Bima tersebut belum sebewarna sekarang. Perlu proses diskusi yang panjang hingga mencapai titik matang.

Selesai sesi diskusi dan menjawab beberapa pertanyaan, akhirnya Abhy membawakan sejumlah lagunya untuk para tamu. Hari itu adalah pertama kalinya saya menonton live performance Abhy Summer. Penampilannya sesuai ekpektasi saya saat mendengar Chill out melalui Youtube. Kekuatan suara Abhy tak melemah sedikit pun: seperti suaranya dalam rekaman. Yang menjadi perhatian saya justru Ferdi. Dalam penampilannya, Ferdi melakukan cukup banyak improve.

Bukan dalam konotasi yang buruk, justru improve yang dilakukan Ferdi adalah hal yang wajar bilamana seseorang memainkan musik electro. Instrumen electro yang dipadukan dengan Blues and RnB membawa pengaruh konkret bagi para pendengar. Setidaknya seperti yang saya lihat waktu itu, tak satu pun dari para pendengar yang diam. Mereka melakukan gerakan-gerakan tertentu seolah-olah sedang bereaksi atas apa yang mereka dengar. Musik yang diantarkan Ferdi membuat siapa pun bisa berjoget. Walau melakukan banyak improve, saya yakin terdapat satu nada – (yang tak terjelaskan) – yang menjadi induk bunyi dari permainan musiknya. Satu nada yang mengikat dentuman-dentuman lain yang meski berlari seliar apapun akan tetap berada dalam satu trah – dan kembali padanya.

Album yang diluncurkan Abhy patut mendapat apresiasi. Selain karena nuansa musik yang dibawakannya terbilang langka – setidanya untuk wilayah Lombok – kemunculan Abhy juga turut serta memeriahkan gerakan musik di Lombok. Di samping itu, lelaki yang sebelumnya sering bernyanyi di pantai Gili tersebut, telah membawa angin segar di tengah kehampaan kita ditimpa pandemi.

Walau demikian, Black & Blue tak boleh lepas dari kritik. Sebagaimana setiap karya seni yang dipamerkan, mutlak menjadi milik penikmatnya. Dalam istilah Roland Barthes: “The death of the Author.”

Saya meletakkan kritik pada konsep album. Album Black & Blue terdiri dari sebelas lagu yang diciptakan dalam rentang waktu yang berbeda, dan dengan gagasan yang berbeda pula. Dari kesebelas lagu tersebut, saya tidak menemukan judul yang memiliki asosiasi terhadap kata ‘Black & Blue’. Kata Black & Blue justru lebih merepresentasikan Abhy secara personal ketimbang isi albumnya sendiri.

Kenapa saya mengatakan demikian?

Begini, karena pada sesi diskusi dan di sela-sela performance, Abhy sempat menceritakan bahwa setiap lagu dalam album tersebut memiliki sejarah berbeda-beda yang bersumber dari pengalamannya. Ditambah lagi dari release yang disebarkan oleh pihak manajer, mengatakan bahwa setiap lagu dalam Black & Blue mengandung berbagai tema dan merupakan petanda dari perjalanan Abhy “menuju manusia yang lebih baik”. Seperti Chill Out tentang “kemanusiaan dan kenyataan bahwa hidup kita semua precious”, Late Night Lover tentang “cinta tanpa pandang bulu”, atau Funny Greeny yang menjadi respons atas kerinduan manusia terhadap situasi sebelum kedatangan Covid-19.

Dari tiga sampel lagu di atas saja kita bisa menduga bahwa lagu-lagu lain di dalam album Black & Blue dipilih secara sporadis. Sehingga hal ini yang menyebabkan penamaan Black & Blue pada album justru tidak merepresentasikan kesemua isi lagu, melainkan hanya menjadi metafora dari sosok Abhy itu sendiri: seorang lelaki pantai berkulit gelap dengan perjalanan hidupnya yang filosofis. Sekilas, album ini tampak tampil tergesa-gesa. Bahkan saya yakin, Ferdi pada penampilan terakhirnya di Warpindo, masih mensiasati inovasi baru sampai lirik-lirik lagu milik Abhy dan musik electro miliknya dapat melakukan perkawinan dengan damai. Hal yang sama juga saya rasakan dari tempo menyanyi Abhy, yang terdengar seperti sedang berusaha menjaga kestabilan antara ketukan lirik dan musik yang mengiringinya. Abhy dan Ferdy seperti dua pembalap yang berlomba mencapai garis finis tanpa maksud saling mengalahkan.

Robbyan Abel R
Latest posts by Robbyan Abel R (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *