desainer grafis: Wibisono Setiyoadi 

Antroposentris sebagai cara berpikir lahir ketika manusia hendak membebaskan diri dari ‘belenggu’ kekuasaan Tuhan. Dalam antroposentrisme manusia adalah pusat alam semesta, karena itu nilai dan prinsip moral hanya berlaku bagi manusia, kebutuhan dan kepentingan manusia berada di tataran tertinggi dan paling penting sifatnya. Dengan begitu tanggung jawab moral manusia atas lingkungan hidupnya dianggap berlebihan dan tidak relevan.

Dasar pikiran antroposentris kemudian menjadi lisensi bagi manusia untuk mengeksploitasi lingkungan demi kepentingan manusia sendiri. Akibatnya kerusakan lingkungan muncul sebagai efek buruk yang bukan hanya dialami makhluk hidup selain manusia, tetapi justru juga menyengsarakan manusia. Bumerang kerusakan ini menerbitkan kesadaran baru yang kemudian menjadi gerakan-gerakan ekologis, di mana pikiran bahwa manusia adalah pusat semesta diralat menjadi manusia adalah bagian dari semesta.

Ekologi mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya. Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan-sistem dengan lingkungannya. Apa yang diperhatikan oleh ekologi antara lain perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya serta faktor-faktor yang menyebabkannya. Konsep ekologi bertumpu pada kondisi homeostatis, yaitu kecenderungan sistem biologi untuk menahan perubahan dan selalu berada dalam keseimbangan.

Pameran ukir kayu bertajuk “Pamulungan” karya Ade Kusuma yang berlangsung di Galeri Gudang, eRKaeM, 15-21 Juli 2020, mengusung semangat seperti itu. Sepuluh karya ukir yang dipamerkan memperlihatkan tubuh-tubuh manusia yang tak lengkap dan melekat pada bentuk lain yang merupakan representasi dari lingkungan sekitarnya. Ketidaklengkapan ini memberi ruang tafsir, sehingga karya-karya tersebut tidak melulu dilihat dari segi tingkat keperajinannya, melainkan juga dari gagasannya.

Gagasan ekologi berupa interaksi organisme dengan lingkungannya yang membentuk kesatuan sistem menuju situasi homeostatis, tampak dalam kemelekatan tubuh yang tak lengkap itu, sehingga selain menunjukkan bentuk relief sebagai hasil ukir, bentuk itu sendiri menjadi representasi dari gagasan. Tubuh-tubuh yang tak lengkap itu seperti mengalami proses ‘perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya’. Faktor-faktor penyebabnya barangkali dapat kita lihat dari bagaimana karya-karya ini diberi judul. Judul-judul seperti ‘Dakwa’, ‘Gelisah’, dan ‘Tanda Tanya’ mengisyaratkan suatu proses menuju suatu kesadaran tertentu.

Karya berjudul “Dakwa” menampakkan separuh tubuh bagian samping, tanpa wajah, dengan tekstur seperti bayang-bayang yang melekat ke dinding kayu dengan warna yang sama. Dalam “Gelisah”, tubuh tanpa kepala dengan kedua tangan disilangkan seperti berusaha menutupi areal kepala tampak sedang menunggang semacam monumen dengan telapak kaki menyatu dengan landasan monumen tersebut. Warna tubuh dan warna monumen itu berbeda. Sementara dalam “Tanda Tanya” yang tampak dari sosok manusia hanya wajah yang terpejam dan sepasang kaki, sedang anggota badan lainnya tidak ada. Wajah dan sepasang kaki itu melekat pula pada bentuk monumen yang bagian bawahnya memperlihatkan warna coklat kayu dan bagian atasnya warna hijau batu.

Di antara karya-karya itu, ada satu yang paling kontekstual dengan situasi kekinian, yakni yang berjudul ‘Kho..Rona’. Dalam karya itu tampak separuh tubuh manusia yang membelakangi pemirsa sedang berhadapan dengan bentuk virus korona. Manusia dan virus itu berada dalam tubuh sebatang kayu, seakan-akan tiga jenis makhluk hidup itu; manusia, virus, dan pohon, adalah satu kesatuan sistem yang sedang bernegosiasi untuk mencapai keseimbangan; bahwa manusia tak lain adalah bagian dari alam, bagian dari keberadaan, bukan cuma pohon-pohon, tetapi juga virus yang tak kasat mata. Kesadaran akan rantai ekologi jadi penting untuk membentuk cara berpikir dan bersikap terhadap lingkungan. “Pamulungan” yang dijadikan tajuk pameran juga cukup paralel dengan semangat itu, sebab bahan-bahan yang dipakai berasal dari hasil memulung, suatu kerja recycle yang dekat dengan persoalan lingkungan.

“Pamulungan” adalah pameran tunggal pertama Ade Kusuma setelah lama tidak aktif. Selain mengukir dan membuat patung, ia juga melukis. Mula-mula ia banyak bekerja dengan media batu dan sempat berpameran di Dusseldorf, Jerman (sekitar 1994). Ketika ditanya perihal kecenderungannya menampilkan tubuh-tubuh yang tak lengkap, Ade beranggapan bahwa ketidaklengkapan akan memberikan ruang tafsir bagi apresian, bahwa sesuatu yang lengkap justru menyempitkan ruang tafsir tersebut.

Hal lain yang menarik dari pameran ini adalah hadirnya Galeri Gudang yang merupakan bagian dari kolektif eRKaeM sebagai ruang alternatif bagi kerja-kerja kesenian, bukan hanya seni rupa, tetapi juga dari bidang lainnya. Sebagai ruang yang lintas disiplin, posisi dan peran eRKaeM patut mendapat apresiasi, terutama ketika ruang dan program kesenian lebih banyak dikelola pemerintah dengan carut-marut birokrasinya.***

Kiki Sulistyo
Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *