Seorang jurnalis harus memegang teguh nilai-nilai profesionalisme mereka sebagai syarat menghasilkan karya yang baik, yang berpihak kepada masyarakat. Oleh karena itu, sikap independen harus senantiasa melekat dalam diri seorang jurnalis. Bahkan ketika badai pandemi Covid-19 menerpa mereka, mereka harus mandiri menguatkan ketahanan hidup mereka, agar integritas tetap ditegakkan.

Nilai itulah yang terus dipegang oleh para anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Begitu juga para anggota AJI Mataram. Apalagi, seperti dikutip dari aji.or.id, AJI lahir sebagai perlawanan komunitas pers Indonesia terhadap kesewenang-wenangan rezim Orde Baru. Sikap itu semakin menggelora dalam momen Hari Ulang Tahun (HUT) AJI Indonesia yang diperingati tanggal 7 Agustus.

Ketua Dewan Etik AJI Mataram, Fitri Rachmawati atau yang biasa disapa Pikong, menyampaikan, di tengah pandemi ini, jurnalis harus super kreatif, bukan hanya menulis konten-konten sehat dan yang penting bagi publik. “Namun juga menguatkan ketahanan hidup mereka, agar integritas tetap bisa ditegakkan. Adalah ide AJI Mataram menjaga jurnalis tetap tegak dan terjaga,” ujarnya.

Pikong mengatakan, saat ini para anggota AJI Mataram secara mandiri melakukan upaya penguatan pangan. Sebagian ada yang bertani dan berkebun, atau menjajakan produk kuliner.

“Yang bertani menawarkan jasa utangan beras, bisa bayar bulan depan atau bahkan memberi gratis ke kawan-kawan anggota AJI Mataram, seperti Hanapi, anggota AJI yang tetap membuat konten-konten kebudayaan di YouTube. Dia tetap bertani. Kemudian Idham Khalid, wartawan Kompas.com yang meluangkan waktu liputannya untuk membantu orang tuanya di sawah, terlibat di masa tanam dan panen. Juga Nathea, jurnalis  Lombok Post yang berbisnis kuliner,” ujar Pikong, Ketua AJI Mataram periode 2016-2018.

Contoh-contoh itu, kata Pikong, sebagai upaya menguatkan ketahanan pangan mereka secara individu. Juga menggerakkan niat anggota AJI Mataram lainnya untuk meniru yang mereka lakukan.

Ujian Independensi di Tengah Pandemi

Ketua AJI Mataram, Sirtupilaili, menyampaikan, pandemi Covid-19 berdampak pada semua sektor kehidupan, tak terkecuali profesi jurnalis. Banyak jurnalis terdampak Covid-19, baik dampak kesehatan maupun dampak ekonomi. “Jurnalis sama seperti warga lainnya berisiko tinggi terjangkit covid-19. Tapi meski berisiko, jurnalis toh tetap harus bekerja karena tuntutan profesi dan ekonomi,” katanya.

Di saat badai pandemi tengah memuncak, keberadaan jurnalis justru sangat dibutuhkan untuk menyampaikan informasi yang akurat soal penanganan covid-19. Jurnalis pun harus tetap keluar rumah untuk mencari informasi. Dampaknya, kata Sirtupilaili, kini banyak jurnalis di beberapa kota seperti Jakarta dan Surabaya terjangkit Covid-19. Bahkan TVRI Surabaya, beberapa waktu lalu harus tutup karena karyawannya terjangkit. Klaster wartawan pun acap disebut beberapa waktu lalu.

Menurut Sirtupilaili, kondisi itu menunjukkan, jurnalis sangat rentan. Terlebih mereka harus bertemu dengan banyak orang dalam proses pencairan informasi. Sayangnya, perlindungan bagi jurnalis masih sangat lemah dari perusahaan. Banyak juralis tidak dibekali APD, suplemen tambahan untuk bekerja.

Di sisi lain, jurnalis juga terdampak secara ekonomi. Industri media yang terdampak banyak merumahkan karyawan, termasuk jurnalisnya. Di NTB hampir semua media besar terdampak, sehingga terjadi pemotongan upah, bahkan beberapa jurnalis dirumahkan. Meski menghadapi situasi sulit, jurnalis tetap dituntut tetap profesional dan menjaga independensi. “Masa sulit seperti ini merupakan batu ujian bagi independsi kita,” pungkas Sirtupilaili.

Awal Mula AJI Mataram

Pikong menceritakan awal mula ia berkenalan dengan AJI, sekaligus awal mula berdirinya AJI Mataram. Ia mengatakan, di tahu 2001, ia dan Abdul Latif Apriaman tanpa ragu mendaftar menjadi anggota AJI Denpasar, Bali.

“Saya masih memburuh di Harian Nusa Bali, kontributor Mataram-Lombok, sementara Latif menebar pesona di KBR 68H. Enam bulan kami menanti verifikasi dari para pengurus AJI Indonesia dan Denpasar, hingga akhirnya kartu keren itu (kartu anggota) terkirim ke rumah kami di Lombok tahun 2002,” kenangnya.

Kartu anggota itu ditandatangani Ati Nurbaiti, Ketua AJI Indonesia saat itu dan Solahudin, sebagai Sekjen AJI Indonesia. “Kata Latif kartu AJI yang kami dapat itu, seperti tanda pengenal Detektif FBI di film serial The X-file, yang diputar di sebuah stasiun televisi swasta ketika itu. Tahu dak? kami bangga sekali, berasa seperti detektif di tengah banyaknya wartawan yang tak dibekali ID dari organisasinya (saat itu),” ujar Pikong.

Kemudian lahirlah AJI Mataram pada 28 November 2008, terhitung sejak diterima menjadi AJI Kota oleh kepengurusan AJI Indonesia yang melakukan kongres di Denpasar Bali. Pikong menyampaikan, gerakan  AJI di Mataram, diperkenalkan oleh Sujatmiko, wartawan Harian Nusa yang bertugas di wilayah Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 2002. Sekarang Sujatmiko bekerja di Tempo dan bergiat di AJI Bojonegoro.

“Saya sengaja menyampaikan ini, agar kami tak hilang jejak. Sebagai penanda AJI Indonesia yang maco dan manis itu sudah 26 tahun, Dia makin matang untuk menjadi panutan sekaligus sahabat terkeren kami, dan kawan-kawan di Mataram. Kami ingin berada dalam rumah belajar yang sama, dengan kekuatan dan daya gerak yang sama, tidak tunduk pada mereka yang berkuasa, tapi tetap tegak,” pungkas Pikong.

 

Rony Fernandez
Latest posts by Rony Fernandez (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *