desainer grafis: Wibisono Setiyoadi

Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan agama Islam dipakai sebagai alat “pembenar” kebhatilan. Wajah Islam yang seharusnya damai, egaliter dan toleran berubah menjadi citra yang negatif. Fenomena ini kemudian diikuti dengan munculnya para pendakwah-pendakwah instan dengan berbekal ilmu agama minim. Karena berangkat dari pengetahuan agama yang minim inilah para pendakwah tersebut kemudian secara enteng mengkafir-kafirkan dan menyalah-nyalahkan orang yang berbeda keyakinan dengannya. Sialnya, para pendakwah yang memiliki sifat seperti ini malah laris didengarkan.

Pemaknaan Islam sendiri sebagai suatu ajaran yang saklek dan kaku perlahan-lahan akan berdampak pada terciptanya golongan yang tertutup dari budaya dan pandangan luar. Maka kemudian yang lahir dari “produk” Islam semacam ini adalah orang-orang yang merasa diri mereka paling Islami dan menganggap kelompok di luar mereka salah. Ajaran Islam yang berdimensi sosial akan sangat sulit tercapai dan terlaksana dalam kelompok-kelompok semacam ini. Malah yang kemudian muncul dari kelompok semacam ini adalah “arogansi” yang dibalut dalam jubah agama. Sikap tersebut membuat Islam seakan terlihat “angker” dan penuh dengan amarah. Termanifestasikannya sikap itu melalui cara-cara kekerasan seperti halnya menyatroni rumah makan ketika bulan puasa, membubarkan paksa tahlilan atau bahkan sampai aksi terorisme telah membuat wajah Islam tercoreng jauh lebih dalam.

Dalam sejarahnya, agama Islam telah melahirkan banyak para pemikir dan orang-orang hebat lainnya. Proses ini menandakan bahwa Islam dapat berdialog dengan berbagai disiplin keilmuan dan kebudayaan yang ada di dunia. Di Indonesia sendiri kita mengenal tokoh-tokoh cendekiawan muslim seperti halnya Nurcholis Madjid, Gus Dur, Emha Ainun Najib dan M. Quraish Shihab sebagai orang yang telah menyumbangkan berbagai macam pemikiran guna perkembangan Islam dan memperlihatkan arti kemanusiaan di dalamnya.

Dalam melihat fenomena Islam ekstrimis, saya sepakat dengan sebuah pernyataan yang pernah diucapkan oleh salah-satu tokoh NU terkemuka yaitu Ulil Abshar Abdalla. Beliau mengatakan bahwa: “Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru berlawanan dengan maslahat manusia itu sendiri, atau malah menindas kemanusiaan itu, maka Islam semacam ini adalah agama fosil yang tak lagi berguna buat umat manusia.”

Menghadapi gerakan-gerakan ekstrimis dalam beragama bukanlah sebuah persoalan yang mudah. Maka semua orang yang masih peduli dengan pluralisme yang ada di Indonesia harus berani bergerak, bukan hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya. Teman-teman yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren maupun di perguruan tinggi harus berani tampil di garda depan dalam upaya melawan pergerakan dari kelompok-kelompok tersebut. Tentu saja, dengan semangat kolektif yang sama; yakni perdamaian.

Avatar
Latest posts by Bima Satria H (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *