desainer grafis: Rori Efendi

Kian hari, industrialisme semakin menginternalisasi di hampir segala aspek kehidupan. Aktivitas yang berkaitan dengan industrialisme tak jarang membuat manusia jemu. Bersamaan dengan itu, beberapa cara dapat dilakukan untuk menghadapinya. Bagi seorang perokok, setidak-tidaknya sebatang rokok dapat membantu.

Menyoal rokok, terdapat beberapa jenis yang bisa kita temukan. Sebagian berasal dari tembakau konvensional, sebagian lainnya disebut sebagai alternatif tembakau. Alternatif tembakau dapat berbentuk rokok elektrik, koyok nikotin, atau permen karet nikotin, dan lain-lain. Sedangkan tembakau konvensional atau kretek merupakan bahan baku dari rokok yang dinikmati melalui proses pembakaran. Yang segera saya bahas lebih lanjut sepanjang tulisan ini.

Berasal dari sifat tembakau yang berbeda, segala jenis rokok tak ubahnya menjadi bahan perbandingan satu sama lain. Secara kuantitas waktu, tembakau konvensional unggul dalam hal ini. Eksistensi tembakau konvensional dibidani oleh tangan-tangan handal petani. Bertahun-tahun, para petani tembakau Indonesia telah berjasa dalam melakukan aktivitas tersebut.

Bersyukur, saya kenal dengan salah satu petani handal itu. Ialah seorang sahabat yang menjalani hidupnya sebagai petani tembakau. Beliau mengatakan bahwa Lombok Timur merupakan salah satu penghasil tembakau terbaik. Tepatnya di desa Suela, mata pencaharian masyarakat di sana sebagian besar adalah bertani tembakau. Dalam setahun, tembakau dapat dipanen hanya satu kali.

Proses tanam dilakukan ketika akhir musim hujan dan dipanen pada puncak musim kemarau. Kondisi tanah di desa Suela sangat kering walau berada dekat di bawah gunung Rinjani. Hal ini yang kemudian menjadi keunikan tersendiri dari tembakau Lombok Timur. Ditambah lagi, proses perawatan tanaman tembakau yang lumayan rumit. Demi rahasia dapur dan amanah sahabat, proses tersebut tak dapat saya dongengkan secara detil.

Satu-satunya yang masih bisa saya bagikan adalah terkait proses digecok. Daun tembakau digecok atau diiris secara tradisional oleh orang yang tentunya sudah berpengalaman. Tetapi, kerumitan-kerumitan dalam proses tersebut tidak serta merta membuat harganya melonjak tinggi. Tak jarang, harga jual tembakau justru turun ketika masa panen, sementara produksi rokok di pabrik tetap berjalan. Sehingga, keberadaan tembakau serta dinamikanya sangat berdampak pada perekonomian petani.

Sudah menjadi lumrah bahwa tembakau didistribusikan melalui beberapa pintu. Hampir semua tembakau akan berakhir di pabrik rokok. Dengan kehadiran pintu-pintu distribusi tersebut, membuat posisi petani dalam rantai pemasaran menjadi kurang menguntungkan.

Adanya akibat marjinalisasi tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal saya dalam merintis usaha tembakau. Dapat dikatakan bahwa hampir mustahil untuk bersaing dengan lapisan-lapisan distribusi yang akrab dengan industri pabrik rokok. Atau pun bertanding wacana dengan narasi dominan yang akan mematikan eksistensi tembakau Lombok. Tetapi, pola-pola yang berpotensi menghilangkan jejak petani tembakau dapat diminimalisir jika kita bergerak secara komunal dan organik.

Banyak cara bisa dilakukan dengan mengurangi lapisan tebal yang tak perlu hadir dalam proses distribusi tersebut. Sehingga, dengan mudah tembakau dari petani akan langsung berhadapan dengan tangan yang akan melintingnya. Dalam hal ini misalkan dengan membeli tembakau yang tidak melalui proses industrialisasi.

Rangkaian dan ketatnya tindakan industrialisasi akan mereduksi nilai-nilai peradaban khas suatu zaman. Baik itu nilai tradisional, kebudayaan, hingga karakter gotong royong. Praktek industrialisasi berpotensi membuat menusia jemu. Tetapi kejemuan itu dapat diminimalisir jika kita kembali ke hal-hal fundamental. Tindakan fundamen yang masih bisa diupayakan tentunya dengan mempertahankan dan menyebarkan nilai-nilai khas peradaban yang inheren satu sama lain.

Avatar
Latest posts by Cindy Parastasia (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *