pewarta cerita: Robbyan Abel Ramdhon / desainer grafis: Dedy Kurniawan

Saya bertemu dengan Bang Chole pada hari Selasa (22/09/2020) di Aroo Creative Space. Malam itu hujan turun cukup deras. Sisa-sisa genangan hujan memantulkan bayangan kebersamaan kami. Kami memulai wawancara sekitar pukul sebelas malam. Kursi kedai sudah dirapikan, beberapa lampu dipadamkan, sepi. Dan Bang Chole menceritakan proses kreatifnya.

Nama sebenarnya adalah Solehudin, namun baginya, nama tersebut mempunyai tanggung jawab yang begitu berat. Beruntung, kehidupannya di masa lalu bersama teman-temannya telah menyelamatkan lelaki yang suka mendaki gunung itu. “Chole,” begitu ia dipanggil. Dengan nama itu juga saya mengenalnya pada awal tahun 2020 lalu di perpustakaan milik sebuah komunitas literasi di Kota Mataram. “Nama rimba yang kadar tanggung jawabnya tidak seberat Solehudin,” guraunya.

Bang Chole telah bergiat di bidang seni rupa semenjak tahun 2006, dan mulai menekuninya secara profesional dengan kategori yang lebih spesifik yaitu mural pada tahun-tahun 2008an. “Berawal dari melakukan mural di tembok-tembok kamar teman, dan teman-teman saya paling sering minta dibuatkan logo band Slank,” kenangnya. Namun tahukah anda, bahwa Bang Chole menyentuh kuas dan benar-benar menggunakannya sebagai alat menggambar ketika usianya baru menginjak enam tahun, melalui saudaranya yang seorang pelukis kanvas sekaligus juga yang pertama kali mengenalkannya pada seni rupa.

Ada satu karyanya yang ia sebutkan, dan karya tersebut baginya paling berkesan. Karya itu berjudul: “Terlahir Mengalir, Tumbuh Menyembuh” – karya yang diciptakan untuk merayakan hari lahirnya. Sayang saya tak sempat bertanya karya itu diciptakannya untuk merayakan hari lahirnya di usia berapa. Bang Chole menanggap seni rupa dan segala aspeknya merupakan medium untuk mengalirkan isi hati. “Seni rupa adalah medium curhat saya,” katanya. Tapi, Bang Chole punya dua jawaban dari pertanyaan itu: Seni rupa adalah output dari imajinasi,” lanjutnya.

Bang Chole juga membeberkan beberapa playlist musik yang selalu diputarnya setiap kali mulai berkarya, antara lain: RATM, Cinema Club, Elephant Kind, .Feast, dan Navicula. “Banyak lagi, sih, sebenernya, tapi RATM itu lagu wajib saya,” tegasnya.

 

Jenuh

Bang Chole juga bercerita, bahwa pernah pada beberapa fase ia mengalami kejenuhan. Untuk mengatasinya, Bang Chole biasanya mencari kesibukan-kesibukan lain. Ya, bisa dibilang “pelampiasan” sebelum bangkit kembali mood menggambarnya. “Pernah terjebak dalam situasi yang menjenuhkan. Ya, pas pandemi ini. Akhirnya nyoba-nyoba bergelut bareng teman-teman media sampai jadi MC dadakan,” ungkapnya.

Pernah pula hal menyedihkan terjadi selain karena mood menggambar tiba-tiba hilang, ”pernah diundang live mural, tapi kayak keberadaan muralis nggak dihargai gitu sama panitia maupun pesertanya,” cerita Bang Chole.

Meskipun sering kehilangan mood menggambar, tapi tak sulit bagi Bang Chole membangkitkannya kembali. Dan ketika saya bertanya sebaliknya, tentang apa yang paling membuatnya senang, Bang Chole menjawab: “kalau mural dibebaskan (tema-nya),” singkatnya.

Mural di Lombok

Menurut Bang Chole, penerimaan terhadap seniman mural dan karya mural di Lombok sebenarnya cukup baik. Apalagi ketika diselenggarakannya acara-acara mural di kampung-kampung, masyarakat pasti antusias. Kegiatan seperti ini biasanya dilakukan secara kolektif oleh para seniman mural. “Walau iklim mural di Lombok kadang bagus dan kadang kurang bagus, tapi masyarakat sebenarnya selalu antusias kok digambarin tembok-temboknya,” tuturnya.

Ketika saya bertanya apa yang membuat penilaian terhadap iklim mural bisa menjadi “bagus” dan “tidak bagus”, Bang Chole menyinggung jarangnya aktivitas kolektif yang dilakukan para seniman mural. Atas dasar keresahan itu, Bang Chole mempunyai cita-cita membentuk gerakan kolektif atau kolaboratif secara berkelanjutan untuk membentuk iklim estetika di Lombok, khususnya Kota Mataram. “Banyak hal yang ingin sekali saya kerjakan, mulai dari membuat studio pribadi, gerakan sosial, acara-acara kesenian, dan sebagainya. Tapi pelan-pelan,” pungkasnya.

Q&A

(R)obbyan Abel R / (C)holenesia

R: Kapan kali pertama anda “memegang” kuas?

C: Pertama kali megang kuas umur 6 tahun, karena kakak saya seorang pelukis kanvas, dia yang pertama kali mengenalkan dunia seni rupa kepada saya.

R: Menurut anda, seni rupa itu apa?

C: Seni Rupa menurut saya adalah output dari imajinasi

R: Apa judul karya seni rupa pertama yang anda sukai?

C: Judul karya seni rupa yang pertama kali saya suka: the las supper oleh Leonardo da Vinci

R: Siapa seniman yang menemani proses kreatif anda?

C: Altha Rivan

R: Apakah karya anda terklasifikasi dalam aliran seni rupa tertentu?

C: Tidak menentu, saya pribadi masih suka aliran-aliran lain.

R: Apa judul karya anda yang menurut anda paling berkesan?

C: “Terlahir Mengalir, Tumbuh Menyembuh” judul itu saya ciptakan untuk saya pribadi pada saat hari ulang tahun saya.

R: Apa rencana yang akan anda realisasikan terkait perjalanan kreatif anda?

C: membuat satu studio, membentuk komunitas kreatif di kampung halaman.

R: Berikan saya satu kalimat penutup.

C: Mural seharusnya balik ke rakyat, untuk membahagiakan rakyat, karena mural tidak melulu tentang cuan.

lasingan
Latest posts by lasingan (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *