desainer grafis: Dedy Kurniawan

Revolusi Kemerdekaan Indonesia masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi, terutama sejarawan. Analisis tentang unsur-unsur revolusioner terus digali untuk melihat revolusi kemerdekaan Indonesia secara utuh.

Yakni Benedict Anderson, Indonesianis kenamaan yang menyodorkan perspektif lain tentang revolusi kemerdekaan Indonesia. Jikalau suhu-nya, Goerge Mc. Turnan Kahin menjelaskan revolusi Indonesia dari perspektif “kesamaan nasib” dan peran internasional dalam proses revolusi, Ben memilih penjelasan secara jeli: bahwa dorongan-dorongan revolusi itu berasal dari Pemuda Indonesia yang telah meradikalisasi diri sejak akhir penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang.

Dalam buku-buku Ben, pembaca kerap menemukan detail-detail informasi penting; yang bagi pembaca dengan ketertarikan minim pada sejarah, mungkin akan terkesan membosankan. Namun, bagi para pemburu keobjektifan sejarah, ragam tulisan ahli politik dan sejarah ini mampu menyajikan fakta empiris. Salah satunya, perihal perjuangan para pemuda Indonesia dalam mendorong golongan tua agar segera mengambil langkah strategis demi Indonesia, seperti, melangsungkan (dengan segera) proklamasi kemerdekaan. Inilah kekuatan tulisan-tulisan Ben.

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Wikana, salah seorang pemimpin pemuda paling masyhur kala itu, menantang Sukarno dalam sebuah debat empat mata. Berangkat dari berita kekalahan Jepang, Wikana memaksa Bung Karno segera mengumumkan kemerdekaan tanpa menunggu penyerahan kedaulatan dari Jepang.

“Apabila Bung Karno tidak mau mengutjapkan pengumuman itu malam ini djuga, beresok akan ada pemboenuhan dan penumpahan darah,” ancam Wikana yang tak lain pula adalah anak emas Sukarno.

Tidak gentar menghadapi gertakan Wikana, Sukarno membalas “Ini leher saja, seretlah saja ke podjok itoe, dan soedahilah njawa saja malam ini djoega, djangan menunggu beresok.” (hal. 79)

Ketegangan-ketegangan semacam itu terjadi sepanjang proses menuju proklamasi. Dari ancaman Wikana malam itu pada Sukarno, di Pegangsaan Timur No. 56, berdampakah rasa malu dan sakit hati pada diri Wikana. Maka Ia pulang bersama kawanan pemuda lain, dan merencanakan “penculikan” yang terkenal itu, membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok.

Ben berhasil menjawab pertanyaan mendasar tentang mengapa para pemuda menculik Sukarno-Hatta (yang terbaca sebagai representasi golongan tua), dan memaksa untuk segera memproklamirkan kemerdekaan. Argumen arus utama yang diajukan adalah untuk mengamankan Sukarno-Hatta dari Jakarta, dengan asumsi bahwa pemuda tidak ingin Sukarno-Hatta dipaksa Jepang untuk memadamkan pemberontakan di Jakarta. Tindakan barisan pemuda ini terlihat seperti berusaha mengambil alih kekuasaan dari Jepang—padahal tidak.

Menurut Ben, alasan paling masuk akal ialah, nyatanya, para pemuda melakukan pembalasan terhadap kejadian kemarin yang telah membikin mereka malu; sekaligus mewujudkan keinginan utama mereka agar kemerdekaan Indonesia segera diumumkan. (hal. 86)

Kita semua tahu, pada akhirnya Sukarno-Hatta melangsungkan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dengan kondisi sederhana dan tanpa perayaan megah—semua dalam kondisi sembunyi-sembunyi. Di sana, Jepang tidak bertanggung jawab atas tindakan memerdekakan diri yang dilakukan Indonesia karena tidak sesuai kesepakatanya dengan sekutu.

Proklamasi yang terburu-buru ini kemungkinan tak akan terjadi apabila barisan pemuda tidak mendesak golongan tua—yang masih berharap Jepang mampu menyampaikan kesepakatan kemerdekaan Indonesia pada sekutu. Karena sudah terlanjur merdeka, maka dibentuklah sebuah pemerintahan beserta perangkatnya.

Ben dalam buku ini, ia tidak hanya bicara soal para pemuda, tapi juga secara tegas menyebutkan konsekuensi pembubaran PETA dan Heiho yang merupakan “barisan bersenjata” bentukan Jepang memiliki konsekuensi besar terhadap perkembangan militer dan politik Indonesia ke depannya.

Dengan dibubarkanya PETA dan Heiho, praktis negara baru ini tidak memiliki kekuatan militer sebagai pertahanan dan nilai tawar terhadap dunia internasional. Jejaring militer yang sudah “menasional” itu tiba-tiba dibubarkan oleh Jepang sebagai keputusan strategis agar Indonesia tidak memiliki kesempatan melancarkan pemberontakan.

Kekosongan ruang kepemimpinan militer nasional memaksa laskar-laskar di daerah membentuk kemiliteran pada lokus mereka sendiri dan melakukan perlawanan terhadap sekutu secara sporadis. Baru beberapa bulan kemudian, BKR dibentuk sebagai tentara nasional. Pembentukan militer secara mandiri ini berdampak pada pengaruh militer yang kuat di akar rumput. Kemudian, dalam perkembanganya, tatkala politisi sipil nasional ditangkap pada agresi militer Belanda I dan II, militerlah yang ambil andil melakukan perlawanan dan gerilya. Perasaan berperan terhadap kemerdekaan ini yang hingga saat ini perangainya dapat kita saksikan.

Penting untuk diketahui bahwa “tradisi jepang” dalam militer yang membuat posisi pimpinan militer sejajar dengan kabinet dan langsung berada di bawah kaisar berpengaruh terhadap militer Indonesia. Sudirman sendiri meyakini hal ini; bagaimana tentara keamanan rakyat langsung bertanggung jawab pada presiden. Selain karena tradisi militer yang didapatnya selama berada di PETA, Sudirman dan perwira PETA yang lain memiliki sentimen terhadap politisi nasional, terutama Sjahrir dan Amir. (hlm. 290)

Panglima Besar Jendral Sudirman yang masih tergolong muda (diperkirakan berumur 30 tahun), mampu memimpin sebuah “tentara nasional” dengan memadukan pertentangan antara perwira KNIL dan PETA. Perwira KNIL yang mayoritas sudah tua seperti Urip Sumoharjo, dapat menerima kepemimpinan Sudirman di tubuh tentara.

Namun tidak selesai sampai di situ, para pemuda yang tidak tergabung dalam orgisasi kemiliteran resmi, banyak yang berhasil mendapatkan akses senjata dalam jumlah besar dari Jepang. Ini menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah pusat dalam upayanya mengorganisir mereka dalam satu komando hirarkis. Maka dari itu, Amir Syarifuddin sebagai Menteri Keamanan  Rakyat (Pertahanan) membuat sebuah kongres pemuda pada 10-11 November 1945. Dengan tujuan politis mengorganisir pemuda radikal yang tersebar di daerah. Lahirlah Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) yang diketuai oleh Chairul Saleh—seperti diketahui memiliki kedekatan dengan Amir dan tujuan-tujuan organisasi yang tidak jauh dari Partai Sosialis hasil fusi Syahrir-Amir.

Sejak naiknya Syahrir ke tampuk Perdana Menteri di masa awal revolusi, politisi nasional yang tidak terwadahi dalam kabinet dan pemimpin pemuda radikal memilih berseberangan dengan Sjahrir. Oleh karena susunan kabinet yang tidak bisa disebut sebagai “perwakilan nasional” dan  programnya yang lebih mengutamakan diplomasi daripada perlawanan bersenjata. Dari sekian banyak tokoh oposisi, tidak mungkin kita tidak menyorot Datuk Ibrahim (Tan Malaka) sebagai oposan terkemuka kala Sjahrir menjadi Perdana Menteri.

Tokoh legendaris yang hingga kini masih dikagumi pemikiran dan sikapnya oleh pemuda yang mendaku revolusioner, tapi tidak berani menirunya. Setelah petualanganya ke Belanda, pelariannya ke Cina, Hongkong, dan berbagai negara, Tan akhirnya kembali ke Tanah yang ia cintai. Pada awalnya hubungan Tan dan Sjahrir harmonis, tapi ketika Sjahrir-Amir berkuasa dengan segala program yang ia bawa, membuat hubungan keduanya renggang. Pada puncaknya, Tan Malaka dengan Persatuan Perjuangan (PP) mampu menggalang sebagian besar tokoh politisi, pemuda, dan kalangan rakyat, dan terutama Sudirman yang memang sebelumnya berseberangan dengan Amir (menteri Pertahanan).

Sebagai penulis, Ben dengan tekun memeriksa dan menganalisis berbagai pendapat tentang sebuah peristiwa maupun tokoh. Lalu mengujinya dengan kejadian-kejadian lain, sehingga sebuah jawaban atas pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” dapat ia ajukan dengan presisi. Salah satu contoh, soal pecah  kongsi Sjahrir-Tan Malaka. Versi pertama menyebutkan, bahwa Tan Malaka menemui Sjahrir untuk melakukan persekongkolan menjatuhkan Sukarno-Hatta, dengan imbalan Sjahrir menjadi Perdana Menteri/Presiden, sedang Tan Menteri. Versi kedua, bahwa Tan Malaka dan Sjahrir melakukan pertemuan pada bulan Oktober di Serang. Di situlah Tan memberikan pandangan terkait usulan untuk memperkuat pemerintah, alih-alih membentuk partai yang akan berakibat pada sulitnya konsolidasi nasional.

Menurut Ben, Versi kedua (versi Tan Malaka) adalah versi yang paling masuk akal. Ia melakukan verifikasi dengan hubungan keduanya yang renggang tatkala Sjahrir menjadi Perdana Menteri. (hlm. 329)

Saya pikir, terlepas dari popularitasnya yang kalah dari Imagined Communities, Revoloesi Pemoeda merupakan karya monumental (disertasi) bagi Sejarah Indonesia. Terutama sumbangsihnya memberikan perspektif liyan menyorot peran pemuda dalam arus revolusi Indonesia. Bahwa penelitian-penelitian tentang masa lalu kita bukan hanya tumpukan karya akademis saja, melainkan bagaimana upaya penelusuran sejarah bangsa untuk mengumpulkan mozaik peradaban Indonesia. Terakhir, sulit untuk tidak angkat topi kepada Uncle Ben. Selamat jalan katak di luar tempurung, karyamu abadi.

 

Judul : Revoloesi Pemoeda

Penulis : Benedict Anderson

Penerbit : Marjin Kiri

Cetakan : Pertama, April 2018

Halaman : i – xxvi +566 halaman

Avatar
Latest posts by Miftahul Ulum (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *