desainer grafis: Ahmad Khairul Fahreza

Udin Sedunia masih asyik berproses dalam dunia seni meski tak lagi malang melintang di layar kaca. Diwawancarai secara daring, pria kelahiran 31 Agustus 1981 ini menceritakan kisah pertemuannya dengan dunia seni, terkhusus seni musik. “Saya suka seni dari kecil, dari SD. Pas ditanya mau jadi apa, saya bilang mau jadi artis kayak Rhoma Irama.”

Ia pun menambahkan bahwa, dulu, di kampungnya ia rajin mengikuti lomba-lomba karaoke. Kemudian, saat beranjak remaja—tepatnya masa SMA—pria berzodiak virgo ini belajar menulis lagu. “Saya pelajari semua genre musik,” simpulnya.

Dengan pengalaman menulis lagu sejak remaja, maka tidak heran jika ia mampu menghasilkan lagu “Udin Sedunia” yang akhirnya melambungkan namanya di kancah hiburan tanah air. Bagaimana lagu tersebut tercipta?

“Udin sebenarnya saya ciptakan tahun 2009, pas kuliah di STKIP Hamzanwadi Selong,” kenangnya. Ia pun mengaku terinspirasi dari pengalamanya ketika bekerja sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke Lombok Timur untuk kuliah. Bertempat di Jalan Energi, Karang Panas, Ampenan, Kota Mataram, ia dan salah satu teman indekost-nya, Saefudin, bekerja di sana.

“Saya sering diledekin begini, Udin di kamar Kamarudin, di masjid Alimudin, ayo berjamaah ke masjid! kejadian nyata ini terjadi tahun 2006, tapi baru kepikiran lagi di 2009.” Setelah digarap serius, akhirnya terciptalah lagu fenomenal tersebut.

Lagu “Udin Sedunia” dinyanyikan pertama kali ketika Udin mengamen di Taman Selong. Namun, pada saat itu, lagu tersebut belumlah berjudul “Udin Sedunia”; ia sekadar dinyanyikan tanpa menyebut judul lagu. Satu pantikan judul ternyata didapat Udin dari salah seorang ibu penjual es kelapa muda di tempatnya biasa mengamen. Ibu itu menyeletuk sembarang, “Udiiin udiiiin sedunia aja dinyanyiin! Nggak ada lagu lain?”

“Mungkin dia bosan, tapi ternyata jadi bagus,” ujarnya sambil tertawa. Dengan lahirnya judul, maka utuhlah ciptaannya tersebut sebagai sebuah lagu. Di awal 2011, Udin merekam lagu tersebut dan menyebarkannya melalui kanal youtube miliknya.

Setelah terkenal dan mencoba terjun ke dunia hiburan; memandu acara musik, bermain sinetron dan film, dll, Udin tetap tak lepas dari musik. “Ada beberapa lagu saya yang dinyanyikan artis lain. Ada banyak, dan tidak hanya satu genre. Banyak,” jelasnya.

Lagu-lagu ciptaan Udin, yang dinyanyikan artis lain, di antaranya: Ruth Sahanaya, “Simfoni dari Hati” (jazz); Zian Zigaz, “Sayang Sih Sayang” (pop rock); Dinar Candy, “Bigo Lagi” (dangdut edm); Aditya Gumelar, “Tuhan Tahu Aku Mencintaimu” (pop ballad); Denis Nirwana Band ft Putri Bella, “Buah Ramadhan” (religi pop melayu); Raditya Jason, “Setia tapi Tersiksa” (religi pop); Rizky Ridho, “Surga tanpa Hisab”, “Hijrahku” (religi pop), dan masih banyak lagi.

Kini Udin sedang fokus menggarap kanal youtube miliknya: UDIN SEDUNIA OFFICIAL. Kanal tersebut berisikan video aktivitas sehari-harinya dan beberapa lagu ciptaannya. Tak hanya itu, ia pun akan menyodorkan kita lagu-lagu dari Lombok—bekerja sama dengan D-STUDIO. “Sekarang juga lagi siapkan mini album lagu daerah. On progress,” ceritanya.

Bicara soal lagu daerah dan musisi Lombok, Udin melihat ada banyak potensi di Pulau 1000 masjid ini. Menurutnya, dari potensi tersebut, mereka—penggarap musik, dll—idealnya mampu mempromosikan karya secara kreatif. Memanfaatkan kanal di media sosial adalah cara yang ampuh karena setiap orang punya kesempatan yang sama di dunia digital. “Anak muda sekarang, saya lihat, kadang gengsinyaa ketinggian buat ngaku dan ngembangin lagu daerah sendiri,” jelasnya. Dari sana, akhirnya muncul sikap merendahkan lagu daerah sendiri; dan itu membuat Udin sedih dan miris.

Meski tidak semua musisi bersikap demikian, tapi, baginya, tetaplah sikap tersebut sangat disayangkan. “Jangan lupa akar. Tetap kembangkan lagu daerah kita, jangan gengsi!” simpulnya menutup wawancara.

lasingan
Latest posts by lasingan (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *