desain grafis: Rori Efendi / foto: Bayu Pratama

Komunitas Akarpohon Mataram kembali mengadakan Microfest; sebuah festival yang digagas sebagai sarana bagi sirkulasi gagasan dalam bidang sastra dan musik. Microfest tahun ini adalah edisi kedua dengan tema “Kinetik”: energi yang dimiliki oleh suatu hal ketika ia bergerak menjadi sumber penciptaan. Sastrawan-sastrawan yang diundang membicarakan proses kreatif mereka, bagaimana sebuah warna khas yang menjadi ciri dalam karya diperbincangkan kembali melalui dialog antara pemantik, sastrawan, pemusik, dan audiens. Microfest “Kinetik” 2020 telah berlangsung dalam lima sesi acara dari tanggal 12 Oktober – 17 Oktober 2020 yakni masing-masing memiliki tajuk sebagai berikut: “Pemandangan Puisi” (12 Oktober 2020), “Puisi Musik” (13 Oktober 2020), “Dusun Fiksi” (14 Oktober 2020), “Musik Puisi” (15 Oktober 2020), dan “Mental Fiksi” (17 Oktober 2020). Para musisi yang diundang pun dari berbagai lintas genre seperti folk, jazz, hingga blues.

Tiga sastrawan yang berbicara kali ini ada Irma Agryanti dengan pemantik Ilham Rabbani, Arianto Adipurwanto bersama Aliurridha Al-Habsyi sebagai pemantik dalam sesi “Dusun Fiksi”, dan Maywin Dwi-Asmara dengan pemantik Bulan Nurguna. Juga dua musisi yang menjadi pembicara ada Ary Juliyant dengan pemantik Dedy Ahmad Hermansyah dan Wing Sentot Irawan yang dalam sesi bertajuk “Musik Puisi” dipantik oleh Robbyan Abel R.

Tajuk “Pemandangan Puisi” mengantar pada pembicaraan mengenai puisi Irma Agryanti yang menangkap momen puitik dari suatu pemandangan alam dengan menghadirkan detail-detail lain. Kelompok musik Trainees (pop-jazz-fusion) merespon puisi Irma Agryanti berjudul “Anjing Gunung” ke dalam bentuk komposisi musik yang dalam proses kreatif menurut beberapa personelnya telah melalui saling bertukar gagasan langsung dengan penyair Irma Agryanti.

Sesi kedua “Puisi Musik” bersama Dedy Ahmad Hermansyah, Ary Juliyant membincangkan perihal posisi puisi dalam penciptaan musiknya. Pengalaman selama puluhan tahun berkecimpung di dunia musik, menghadirkan banyak cerita tentang proses kreatif Ary Juliyant dalam menggarap puisi sebagai sumber penciptaan. Di hari ketiga, Microfest “Kinetik” 2020 menghadirkan perbincangan bertajuk “Dusun Fiksi”. Aliurridha Al-Habsyi memantik diskusi tentang dusun kelahiran Arianto Adipurwanto yakni Lelenggo yang menjadi sumber penciptaan bagi karya-karyanya. Serta ada pula pembahasan mengenai psikologi sosial masyarakat dan bagaimana penulis menempuh risiko bahasa dalam pengucapan karya-karyanya. Sasakustik mengolah cerpen Arianto Adipurwanto berjudul “Kisah-Kisah yang Hanyut di Sungai Keditan” menjadi sebuah lagu yang liriknya menurut sang vokalis hasil silang antara kesan selama membaca cerpen dengan empiris di kesehariannya sendiri.

Di hari-hari berikutnya, Microfest “Kinetik” 2020 masih menghadirkan keseruan yang sama, sebentang lapang akan proses di balik kerja sastra dan musik, saling silang antar keduanya dan bagaimana hal itu banyak menimbulkan keterkejutan baik dari pembacaan pemusik atas karya yang digarap, maupun oleh pembicara sendiri yang seolah mengadakan refleksi atas karya-karyanya. Sebentuk “pulang ke dalam diri” itu memperoleh perhatian yang mendalam dari segenap audiens. Oleh pemantik, perbincangan diarahkan berputar dan berarus kuat menghadirkan pusaran yang membentangkan jaring-jaring baru akan proses penciptaan. Tak sepenuhnya rahasia namun nada kemisteriusan masih seakan menari-nari di latar belakang tentang bagaimana setiap penciptaan telah melalui kerja yang tak pernah mudah dan tantangan-tantangan baru yang masih menunggu ke depannya.

Dalam sesi “Musik Puisi”, Wing Sentot Irawan membagikan pengalamannya ketika berhadapan dengan teks yang dijadikan lirik lagu lalu dikembalikan menjadi bentuk puisi. Kerja naluri hingga membentuk apa yang disebutnya sebagai “unity” adalah menghadirkan secara serentak setiap momen maupun detail di sekitar ruang saat karya itu diciptakan.   Microfest tahun ini ditutup oleh sesi bertajuk “Mental Fiksi”. Maywin Dwi-Asmara menceritakan pengalaman empiris ketika ia berhadapan dengan kompleksitas gangguan kejiwaan dan menuangkannya ke dalam bentuk fiksi. Menurutnya, penulisan fiksi sangat membantu dalam memberi ruang bagi pemahaman terhadap diri sendiri juga orang-orang dengan pengalaman serupa serta menghadirkan kembali data-data dari jurnal tentang penyebab dari berbagai gangguan kejiwaan itu.

Dari cerpen Maywin Dwi-Asmara berjudul “Di Mana Kau Berada Pada Pukul Tiga Pagi?”, musisi Paris Hasan mentransformasinya ke dalam lirik berbahasa Inggris. Pengalaman Paris Hasan menggarap cerpen Maywin kali ini baginya merupakan pengalaman yang mengantar pada berbagai tangkapan surealis nan mengasyikkan.

Kesadaran penciptaan baik dalam sastra dan musik membawa seniman semakin memperdalam persoalan. Tidak hanya menjadi satu bagian dengannya, tetapi juga melebur bersama-sama.  Microfest sebagai sarana untuk saling berbagi persentuhan yang beragam dari segi motif dan cara penyampaian karya ini direncanakan akan digelar setiap tahun. Komunitas Akarpohon sebagai penyelenggara utama tahun ini berkesempatan bekerja sama dengan berbagai komunitas seperti Aroo Creative Space, lasingan.id, Overact.theater, Kedai Buku Klandestin, Komunitas Teman Baca, dan eRKaeM. Sebagai festival kecil yang efeknya diharapkan besar, Microfest akan senantiasa menularkan denyut kreativitas sebagai jalur lain yang menyaran ke berbagai potensi untuk lahirnya kebaruan dalam berkarya. Oleh karenanya, kita tentu tidak sabar menanti penyelenggaraan Microfest untuk tahun-tahun ke depannya. Akhir kata, sampai jumpa di Microfest 2021. Salam kreatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *