desainer grafis: Dedy Kurniawan / Sumber Foto: Komunitas Erkaem, SFNlabs

Kesan gelap menyergap begitu mata menatap gambar-gambar karya Syamsul Fajri Nurawat dalam pameran “Air Palem, Burung Hantu, dan Pohon Kamboja” di Galeri Gudang. eRKaeM, 21-28 Oktober 2020. Ada sepuluh gambar dan dua karya founding object yang dipamerkan. Dalam sebagian karya gambar dengan media ballpoint di atas kertas, tidak mudah mengurai figur-figur yang tampak. Bukan karena bentuknya abstrak, melainkan karena figur-figur itu seperti berada di tengah kesesakan ruang, sekaligus juga menyesakkan ruang. Pada saat bersamaan terlihat juga kesan dikaburkannya batas antara latar dan objek sehingga figur-figur yang tercandra itu seperti menjadi bagian -atau terbentuk- dari latar. Dengan begitu pula, kesan gelap tadi lebih berasosiasi sebagai bayangan.

Bayangan muncul akibat represi cahaya. Dalam lanskap sosial, cahaya itu hadir berupa aturan-aturan yang selalu bercita-cita membawa individu atau masyarakat ke arah yang lebih baik. Aturan-aturan tersebut memang memungkinkan masyarakat berfungsi dan individu dapat mencapai standar hidup. Namun aturan-aturan itu juga membawa efek samping berupa represi, baik secara pribadi maupun kolektif. Dan dalam aspek psikologis represi akan melahirkan apa yang disebut Carl Gustav Jung sebagai “disonansi kognitif”.

Disonansi kognitif adalah tekanan psikologis yang dialami seseorang yang secara bersamaan memegang dua atau lebih kepercayaan, ide, atau nilai yang bertentangan. Namun dalam karya-karya di pameran ini pertentangan itu tidak menelurkan semacam hipokrasi, melainkan lebih berupa anxiety [kegelisahan]. Proyeksi dari kegelisahan itu kemudian memancarkan struktur adikodrati. Lihat, misalnya, karya bertajuk Sebuah Adegan Mengenai Metamorfosa. Karya yang mengambil tipografi evolusi ini menampakkan seekor burung hantu yang bermetamorfosis menjadi sosok manusia bertopi tarbus, mirip pemain rudat. Di belakang –atau di samping- figur-figur itu tampak bidang dekoratif cermin seperti menegaskan adanya bayangan. Tiga figur paling belakang seakan berada dalam cermin, hanya sosok manusia itu yang berada di luar cermin.  Burung hantu dan manusia tidaklah bertentangan, sesuatu yang biasanya muncul dalam laku disonan.

Karya dengan kesan serupa, namun dengan bentuk berbeda adalah Self Portrait. Figur wajah dengan mulut menganga dan mata tanpa bola menyembul dari balik jubah yang dikuak sepasang tangan. Dilihat dari posisinya wajah itu tidak berada di bagian kepala, melainkan di bagian dada. Sementara bagian kepala kosong belaka. Mulut yang menganga itu mengesankan penderitaan, sementara mata tanpa bola mengesankan kebutaan. Ini pun tidak menampakkan pertentangan. Apa yang muncul malah penguakan, upaya untuk membongkar sang bayangan, sesuatu yang mungkin sudah lama disembunyikan.

Baik ‘burung hantu’ maupun ‘wajah di dada’ bisa mencerminkan ‘diri yang sebenarnya’, sementara ‘sosok manusia bertopi tarbus’ dan ‘kekosongan di posisi kepala’ adalah ‘diri dalam pikiran’, atau bisa juga sebaliknya. Disonansi kognitif, putusnya hubungan antara diri yang sebenarnya dan diri dalam pikiran, secara lebih obyektif dapat kita lihat dari dualitas khazanah yang dipancarkan oleh figur-figur dalam gambar dan terutama dalam karya founding object di pameran ini.

Figur-figur manusia dalam gambar-gambar Syamsul Fajri Nurawat–dengan arsiran yang menampakkan otot, serta gestur-gestur skulpturis- mengingatkan pada figur-figur pahlawan super dunia barat atau sosok-sosok dewa dalam mitologi Yunani. Namun di tengah-tengah itu ada juga fitur-fitur mistis yang banyak beroperasi di dunia timur. Tarik-menarik antar khazanah itu tampak verbal dalam salah satu karya founding object di mana satu pitcher tuak [bukan bir, misalnya] diletakkan bersama sepatu bot, topi coboy, dan selembar scarf, sementara sebuah video pertunjukan tampil di layar.

Dalam pengantar kuratorialnya, Asta Tabibuddin menyebut pameran ini sebagai semacam perjalanan spiritual untuk menemukan kembali “Air Palem, Burung Hantu, dan Pohon Kamboja”. Memang, dari aspek motif, pameran ini seperti bayangan dari sebuah pertunjukan dengan judul sama yang pernah digarap Syamsul Fajri Nurawat  beberapa tahun lalu. Dari motif ini bisa dilihat dualitas yang kian melebar ke soal medium ekspresi. Seni pertunjukan yang kolektif bertaut bayang dengan seni rupa yang personal. Bisa juga pameran ini dilihat sebagai artefak dari pertunjukan yang sudah berlalu; artefak bayangan yang mungkin saja memunculkan bayangan-bayangan lain sebagai representasi dari disonansi kognitif yang dipicu oleh represi-represi artistik sebagai risiko dari pencarian spiritual.***

Kiki Sulistyo
Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *