desainer grafis: Rori Efendi

Sedatangnya ke Indonesia, Habib Rizieq (HR) langsung menyerukan ajakan revolusi bertajuk ‘Revolusi Akhlak’ kepada para pengikutnya yang setia menunggu sampai menyemut ke ruas-ruas jalan sekitar Bandara International Soekarno Hatta sejak subuh. Membeludaknya jumlah massa mengakibatkan beberapa properti pelayanan publik rusak. Jangan salah paham, ini juga bagian dari strategi revolusi akhlak. Dengan disertai contoh nyata, membuat ajakan revolusi akhlak oleh HR semakin jelas urgensinya. Nah, mantab. Ini yang kita butuhkan.

Kita memang sedang mengalami krisis akhlak alias sopan santun. Kita perlu banyak belajar dari sang Imam besar tentang apa itu akhlak. Dan yang lebih urgent lagi, dengan memahami apa itu akhlak, setidaknya kita bisa lebih paham arti toleransi. Seperti yang dicontohkan Novel Bakunin Bamukmin, Wakil Sekjen PA 212 yang turut menjadi panitia penyambutan, dengan rendah hati terpaksa meminta maaf kepada masyarakat atas kerusakan yang terjadi akibat membludaknya jumlah massa.

Bukan, ini keliru. Seharusnya masyarakat dan negara yang meminta maaf. Masyarakat semestinya tahu bahwa kemarin hari seorang Imam besar akan datang ke Indonesia, maka idealnya semua kegiatan diliburkan. Di sisi lain, pemerintah terlalu menyepelekan kedatangan HR. Personel keamanan yang dikerahkan pun kurang banyak. Tidak dapat menyeimbangi kekuatan massa. Yah, evaluasi untuk kita bersama kalau-kalau peristiwa yang sama terulang lagi di 2024 nanti.

Dahlah, lupain semua kasus-kasus kontroversial yang pernah memperkeruh citra mulia HR, lagipula kita memang harus memaklumi setiap kekhilafan manusia. Kita pun tak juga perlu menunggu bulan fitri untuk memaafkan dan menerima kembali HR. Toh niatnya datang (kok datang? Iyalah kan sebelumnya pulang) ke Indonesia baik. Bahkan HR sampai mengaku: “Kalau tidak ada kewajiban dakwah di sini (Indonesia), sekali lagi saya katakana saya tidak ingin meninggalkan Mekah,” – yang terekam di kanal youtube Front TV (menit: 45:35-45:39 ).

Betapa mulianya tekad HR memberikan kita pertolongan di tengah krisis moral era milenial sekarang.

Namun, untuk mencapai revolusi yang dicita-citakan, HR rasanya perlu melewati semacam konskuensi politik. Maksudnya begini, agak sulit kalau sekadar mengandalkan massa FPI yang jumlahnya mungkin belum sebanyak kader Partai Solidaritas Indonesia. Itutuh, partai yang iklan politiknya sering viral. Iya-iya, kontennya bagus. Cie.

Balik lagi. Revolusi akhlak akan sulit terjadi ke seluruh penjuru negeri tanpa gerakan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Belum lagi pasti banyak kader yang rontok idealismenya pasca ditinggalkan HR. Kalau pun bisa revolusi ya mentok di Jakarta. Jakarta lagi, Jakarta lagi. Jakarta kan sudah kelewat berakhlak, waktunya HR berkeliling Indonesia dong. Lagi-lagi, kalau sekadar mengandalkan massa FPI, saya yakin masih belum cukup. Harus ada sentuhan dari HR secara langsung dan bersifat jangka panjang. Apalagi kalau selama berkeliling nanti HR melakukan semacam aksi simbolik dengan berpuasa sampai revolusi akhlak benar-benar tuntas biar lebih oke-oce.

Maka dari itu, sejumlah siasat perlu disusun untuk mempermudah dan mempercepat revolusi akhlak. Berikut beberapa rekomendasi untuk HR supaya dipertimbangkan:

  1. Masuk Partai Politik

Selain masa FPI, bayangkan bila HR juga dibantu oleh kader dari partai politik. Ini ide yang cemerlang, bergabung ke partai dan mengajak seluruh kader bergerak ke dalam satu tujuan, yakni revolusi akhlak. Kalau mau pertimbangan lebih serius lagi, HR Harus melakukan riset, kira-kira di antara banyak partai di Indonesia, mana yang paling berakhlak untuk dijadikan mitra revolusi. Walau nominasi terkuat adalah PKS dan Partai Gelora, namun tidak menutup kemungkinan PDIP masuk ke dalam bursa. Menggaet PDIP adalah toleransi total yang dapat membuktikan bahwa revolusi akhlak tidak memandang bulu maupun ideologi.

  1. Mencalonkan Diri Menjadi Presiden

Mencalonkan diri menjadi Presiden adalah alternatif selanjutnya. Lebih-lebih kalau menang. HR bisa memaksimalkan peran negara untuk menganggarkan secara khusus perjalanan HR dalam mensyiarkan revolusi akhlak. Jadi ini juga itung-itung hemat biaya. Pasca Pilkada DKI Jakarta 2017, FPI tampak kurang eksis lagi di gelanggang politik. Biasanya kalau sudah begitu, iuran untuk uang kas organisasi agak menurun. Minimal kalau kalah, HR sudah pakai dana koalisi untuk berkampanye sembari menyisipkan pesan-pesan yang berkaitan dengan revolusi akhlak. Sekarang HR tinggal pilih-pilih pasangan aja. Kabarnya Giring Nidji sudah siap lho. Bisa dibayangkan kolaborasi antara generasi boomer dan milenialnya tambah josh. Formasi mutlak auto-win.

  1. Kolaborasi Sama Om Deddy Corbuzier

Yak, kita semua tahu kalau Om Deddy adalah bapak youtuber-nya Indonesia. Setiap episode podcastnya punya pengaruh yang jelas di kancah sosial dan pertahanan negara. Tidak hanya pengaruh dari konten, blio juga punya jaringan yang bisa menyusup ke mana saja, bahkan sampai ke sudut penjara terketat. Nah, bayangkan saja kalau revolusi akhlak ambasadornya adalah Om Deddy. Yakin deh, nggak butuh waktu lama supaya bisa mengubah tatanan moral dan tabiat masyarakat menjadi lebih baik. Kerjasama ini juga adalah kesempatan yang bagus buat Om Deddy sembari mendalami elmu agama Islam ke HR. Yang sanat kelimuannya sudah pasti jelas dan kontenable.

Saya yakin apa yang dicita-citakan HR akan mendapatkan dukungan penuh dari berbagai elemen. Ya, termasuk Pak Jokowi. Bukan tidak mungkin revolusi akhlak menjadi penyempurna dari kekurangan revolusi mental-nya Pak Jokowi. Apalagi seperti yang dikatakan HR, kata ‘mental’ adalah diksi yang dipakai oleh Karl Marx: “Kenapa nggak pakai mental? Karena kata mental dipakai sama Karl Marx. Karl Marx yang pakai, gerbongnya komunis. Makanya saya nggak mau pakai,” tegas sang Habib masih di video dari Front TV (menit: 53:14-53:22).

Kalau benar yang dibilang HR itu, berarti selama ini kita sudah bertentangan dengan negara sendiri.

Kesimpulannya, tujuan HR datang ke Indonesia itu mulia, membuat perubahan melalui revolusi akhlak. Kalau ada yang bilang kedatangan HR ke Indonesia sebagai pengalihan isu dari protes besar-besaran Omnibus Law sudah pasti adalah konspirasi belaka.

Nah, sekarang kan HR tinggal mencaritahu, siapa dari kita di negara Indonesia tercinta ini yang paling membutuhkan revolusi akhlak dan berhak ditetapkan sebagai segmen utama.

Tapi sebelum itu, saya sarankan HR dengerin lagu Manusia Setengah Dewa karya Om Iwan Fals sebagai refrensi untuk melakukan pemetaan. Kali aja HR dapet ilham. Terutama satu larik dalam lagu itu yang paling penting untuk didengarkan: “masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri…”

Robbyan Abel R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *