desainer grafis: Ahmad Khairul Fareza

Salah satu pemahaman dalam agama Islam (dan agaknya ini jamak dianut oleh berbagai agama dan kebudayaan) adalah kematian tidak diketahui kapan datangnya. Tidak diketahui, tidak pula dapat diketahui. Kematian adalah rahasia, dan di situlah daya pikatnya: ketidaktahuan itu mendorong manusia lebih bijak menggunakan waktu.

Tapi itu cuma “pemahaman lazim.” Dunia tidak pernah sebiasa tampaknya. Selalu ada pengecualian: bahkan tingkah Khidir tampak tidak lazim bagi sang nabi besar Musa. Ada, kok, orang-orang yang tampaknya mengetahui kapan kematian akan mendatangi mereka. Orang-orang itu menunjukkan perilaku ‘bersiap-siap’.

Biasanya orang-orang itu punya daya spiritualitas, kedekatan khusus dengan ilahi, namun tidak mesti figur agamawan. Pernah ada seorang ustad Jawa berceramah: orang yang tahu kapan dirinya mati hanyalah ulama saleh yang terkenal keramat; orang biasa tidak bisa begitu. Saya kira itu berlebihan. Mungkin ustad itu belum pernah melawat ke Lombok.

Ya, di Lombok, cukup lazim untuk kita menemukan orang-orang yang mengetahui persis kapan mereka akan mati. 

Paman saya, dahulu seorang pegawai bank di Lombok Timur, tidak dikenal sebagai ulama, suatu siang melingkari satu tanggal di kalender dengan pulpen merah. Ia tersenyum pada istri dan berkata: “Di tanggal ini saya akan mati.” Bibi (istrinya) terang sewot. Tapi di tanggal itu paman saya benar-benar kembali ke hadirat ilahi. Kalender itu masih disimpan.

Kakek saya lain lagi. Orang Mandar (berjuluk Nenek Aji Kallu), kepala Syahbandar Labuan Haji pada masanya, juragan besar, memberitahu anak-anaknya bahwa empat puluh hari lagi beliau akan mati. Didapati tulang ekornya hilang, sehingga beliau tidak bisa duduk. Tepat empat puluh hari kemudian, setelah lengkap anak-anaknya, beliau meninggal dunia.

Kisah orangtua atasan saya di kantor juga begitu. Orang Tinggar, sosok bersahaja, terkenal sering ke masjid dan suka ikut pengajian. Suatu kali, beliau menyuruh anak cucunya membersihkan rumah. “Sebentar lagi rumah ini didatangi banyak tamu,” katanya. Semua orang patuh tapi tak paham. Tiga hari kemudian beliau meninggal dalam damai di kasurnya.

Kakek teman saya, orang Labuapi, dirawat di rumah sakit selama seminggu karena suatu penyakit. Ia cuma bisa berbaring. Namun suatu sore, keluarga melihatnya lebih segar dan ia bisa duduk. Kakek itu berkata: “Saya mau pulang 3 hari lagi.” Keluarga menafsirkannya ‘pulang dari rumah sakit’. Tepat tiga hari kemudian, beliau berpulang ke rahmatullah.

Isyarat-isyarat kecil mengenai hal-hal gaib, termasuk tentang kapan kematian menjemput, dalam kebudayaan Sasak disebut senepe. Tapi tidak semua orang peka pada senepe. Ibu teman saya, sambil tersenyum, ber-senepe: ia ingin mandi dengan sabun putih dan berpakaian serba putih. Anaknya tidak paham. Beberapa hari kemudian ia meninggal.

Senepe menjadi solusi bagi mereka yang―entah bagaimana caranya, tulisan ini tidak bisa mengungkap rahasia tentang bagaimana pengetahuan tentang kematian itu bekerja―ingin memberi pertanda gaib pada sanak kerabat. Keinginan memberitahu pastilah ada, namun keinginan itu terbentur budaya: kebanyakan manusia sulit legawa menerima kematian.

Padahal, dilihat dari filsafat kebanyakan budaya Asia, kematian lebih merupakan teman alih-alih musuh. Jiwa manusia adalah tetesan yang gelisah; ia akan tenang bila kembali ke sumbernya, dan kematian adalah pintu kembali. Kematian adalah pulang menuju kampung halaman. Dunia hanya perantauan. Hakikat kematian seindah itu.

Dan memang sungguh romantis membayangkan sebuah keluarga yang bisa menerima kematian dengan jembar dada. Bayangkan: sang suami pamit pada istrinya dan berkata, saya pulang duluan, ya, sayang. Sang istri tentu saja menangis, tapi menangis karena memahami hakikat tentulah manis. Dan tentu saja keluarga semacam ini jarang sekali ada. Tapi ada.

Seorang sufi di Bentek, Lombok Utara, bercerita pada saya tentang mursyidnya di Sugian. Sang mursyid telah mengumumkan kematian dirinya pada hari anu jam anu. Sufi itu pun datang melayat ke rumah sang mursyid. Sesampai di sana, sang mursyid masih duduk-duduk bersama para murid di ruang tamu, masih ngopi dan merokok. Ngobrol.

Pukul sekian tepat, sang mursyid tiba-tiba berdiri dan berkata, “Sudah tiba waktu saya.” Para murid berdiri, bergantian memeluk dan menyalami sang mursyid. Kemudian sang mursyid memeluk istrinya, menciumi keningnya. Istrinya menangis tapi tersenyum. Kemudian sang mursyid masuk ke kamarnya, berbaring di kasurnya, dan … sudah. Ia sudah kembali.

Ayah kawan saya, di Ganti sana, meninggal sekitar dua bulan yang lalu. Kisahnya juga sama. Ketika terbaring sakit, ibunya yang sudah sepuh datang menengok. Cuma diperhatikan sekilas lalu sang ibu berwasiat pada keluarga: “Berjagalah kalian, dia jangan ditinggal. Sebab kalau tidak Jum’at, ya, Sabtu ini dia pulang.” Dan betul, Jum’at sore beliau berpulang.

Sekilas, mungkin ibu beliau terdengar seperti tidak punya perasaan. Namun sesungguhnya fenomena di atas sangatlah kompleks. Pada fenomena tersebut tampak adanya pengetahuan tentang yang gaib, pemahaman yang baik atas kehidupan dan kematian, serta tauhid yang tinggi untuk menempatkan manusia secara wajar di hadapan takdir Tuhannya. Hanya kebudayaan kelas tinggi yang bisa demikian. The beyond-physic civilization.

Agak aneh, masyarakat Indonesia menggunakan istilah meninggal dunia untuk menyebut kematian. ‘Dunia’ di sana tentulah senepe: ia mengibaratkan adanya dunia yang sejati dan dunia yang profan, yang salah satunya harus ditingggalkan. Bahkan Orang Sasak menggunakan istilah bilinan, ‘orang yang meninggalkan’. 

Bahasa mengandung falsafah. Kematian harus dipandang sebagai teman. Mengetahui kapan kematian datang hanyalah peristiwa permukaan.

Avatar
Latest posts by AS Rosyid (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *