*pengantar penyelia dalam booklet Overact Fest

Di Lombok cuma ada satu gedung pertunjukan teater yang ideal, yaitu gedung teater tertutup Taman Budaya NTB. Ideal dalam pengertian benar-benar didirikan untuk keperluan seni pertunjukan dengan memperhatikan kelengkapan fasilitas dan tata ruangnya. Sementara berbagai gedung lain yang kadang juga dipakai untuk menampilkan pertunjukan, tak memiliki kelengkapan fasilitas, desain interior dan akustik ruang yang cukup pantas diharapkan bisa menghadirkan suasana pertunjukan yang baik. Kenyataan itu membuat kemungkinan bagi kita untuk dapat menyaksikan pertunjukan yang ideal –setidaknya dari aspek ruang- sangat kecil, apalagi mengingat satu-satunya gedung yang ideal itu ‘dimiliki’ instansi pemerintah yang sudah demikian terkenal dengan kerumitan birokrasinya.

Tetapi kenyataan itu tidak membuat kelompok-kelompok teater di Lombok punah. Meski banyak yang vakum, banyak pula kelompok baru yang berdiri. Kelompok-kelompok ini menampilkan pertunjukannya di ruang-ruang yang tersedia dan terjangkau di sekitar pusat aktivitas mereka. Tidak peduli apakah ruang-ruang itu mendukung atau tidak kebutuhan artistik maupun acara mereka. Dalam hal ini yang paling penting adalah produksi, dan begitulah seharusnya, sebab daya resiliensi yang ditunjukkan lewat produksi membuat kelompok atau komunitas teater tetap eksis.

Salah satu kegiatan yang mestinya diadakan dan berlangsung regular sebagai platform untuk menakar kuantitas dan kualitas pertunjukan teater adalah festival. Sayangnya, dengan keterbatasan infrastruktur, ditambah tidak padunya program instansi pemerintah dengan komunitas teater, sejumlah festival teater yang pernah diadakan tak sanggup memperpanjang napas. Satu-satunya festival teater di Lombok yang punya napas panjang adalah Festival Teater Modern Pelajar [FTMP] yang telah diadakan sejak dekade 80-an oleh UKMF Teater Putih Universitas Mataram.

Ketika pandemi Covid-19 menyebar ke seantero dunia, aktivitas teater berangsur-angsur tiarap. Jangankan di kawasan-kawasan yang minim infrastuktur seni, di kawasan sebaliknya pun panggung pertunjukansempat senyap sebelum kemudian hijrah ke jagat virtual. Di wilayah-wilayah minim infrastruktur seni yang juga cenderung belum akrab dengan tradisi virtual dalam konteks penyelenggaraan kegiatan seni, situasi itu menimbulkan kesulitan berlipat ganda. Ruang-ruang arus utama tak mudah lagi diakses, sementara ruang baru berupa teknologi virtual belum bisa dijangkau. Napas teater pun mulai tersendat-sendat, apalagi ditambah dengan mampetnya putaran ekonomi, membuat modal finansial yang sejak mula tak mudah didapat, menjadi makin tak terbayangkan bagaimana mendapatkannya.

Tapi seni adalah soal daya hidup. Kemampuan seni melintasi abad-abad lampau sampai perkembangannya kini adalah bukti sahih betapa seni selalu mampu melewati saat-saat genting ketika zaman sedang muram dihantam perang dan wabah. Bahkan sebagian penemuan artistik dan estetik serta gagasan baru dalam seni lahir dari respons atas kondisi muram tersebut.

Di Lombok sendiri, pada masa pandemi ini, ketika ruang-ruang arus utama tak bisa diakses dan ruang virtual belum bisadijangkau, ruang-ruang baru yang sebelumnya tak terbayangkan muncul ke permukaan sebagai bentuk adaptasi komunitas seni menghadapi tekanan dari pelbagai aspek itu.

Overact Theatre—komunitas teater yang baru setahun terbentuk— melaksanakan gagasan festival dengan memanfaatkan halaman belakang kantor Lembaga Bantuan Hukum [LBH] Reform yang juga menjadi lokasi perpustakaan dan aktivitas literer Komunitas Teman Baca. Halaman belakang itu tidak begitu luas namun sebelumnya telah beberapa kali –di masa pandemi- dipakai sebagai tempat penyelenggaraan diskusi buku maupun konser musik. Tiga dari empat pertunjukan yang bakal ditampilkan dalam festival ini pun sebelumnya sudah pernah ditampilkan sebagai bagian dari acara diskusi buku di tempat yang sama.

Overact Fest berlangsung 16-19 Desember 2020. Setiap harinya ada satu pertunjukan ditambah bincang-bincang dengan aktor. Keempat pertunjukan berangkat dari teks fiksi, berupa cerita pendek, yang dihasilkan oleh cerpenis-cerpenis Lombok. Keempatnya yaitu Sebuah Rumah di Bawah Menara [Tjak S. Parlan] dimainkan Arga Purnama, Surat dari Perbatasan [Irma Agryanti] dimainkan Husnu Nazori, Asomatognosis [Maywin Dwi-Asmara] dimainkan Rizki Desima Ardira, dan Keabadian Sirin [Kiki Sulistyo] dimainkan Bagus Prasetyo. Dari keempat cerpen tersebut hanya satu [“Sebuah Rumah di Bawah Menara”] yang diadaptasi ke naskah monolog, sementara lainnya dipertahankan dan dimainkan dengan mengikuti struktur teks aslinya.

Dengan pilihan seperti itu, Overact Fest tak melulu berpusar di dunia pertunjukan, tapi juga berkelindan dengan dunia sastra setempat, membangun sistem yang saling menopang bagi kelangsungan kedua disiplin tersebut.

Para aktor akan memanfaatkan setiap sisi di halaman belakang Komunitas Teman Baca sebagai panggung, sehingga posisi penonton berubah tiap harinya. Konsep artistik maupun tradisi menonton tidak merujuk [sepenuhnya] baik ke pola prosenium maupun arena. Memanfaatkan balai-balai, teras, dan batas dinding sebagai panggung bisa dibilang merupakan upaya bertahan dari keterbatasan.

Sebagai festival debut, Overact Fest tidak berharap tinggi. Bisa terlaksana –dari aspek penyelenggaraan maupun aspek penampilan- sudah bagus, yang penting adalah bagaimana menjadikan festival ini program berkala sebagai platform untuk wacana maupun praktik teater, setidaknya di lingkup komunitas Overact yang juga adalah bagian dari mata rantai eksistensi teater di Lombok. Apa yang diharapkan nanti adalah adanya jalaran kegiatan serupa, oleh kelompok lain di lokasi lain, sehingga daya tahan atas situasi yang tidak ideal ini bukan cuma mencegah teater dari kepunahan tetapi juga punya peluang meletupkan gagasan dan capaian artistik maupun estetik yang relevan dengan situasi zaman.

Hail, hail, hail!

 

Kiki Sulistyo
Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *