desainer grafis:  Ahmad Khairul Fareza

Bila menatap perkembangan musik di Mataram saat ini, tak bisa kita lepaskan pandangan dari sosok seorang musisi bernama Paris Hasan. Napak tilas pertemuan Paris Hasan dan musik dimulai ketika ia sedang menempuh pendidikan menengah pertama. Sejak saat itu, hingga 2016, pria kelahiran 10 November 1991 ini akhirnya menetapkan musik sebagai jalan hidupnya.

Bicara tentang musik, Paris Hasan memaknainya sebagai medium percurahan isi hati; tentang apa saja yang terjadi dalam hidupnnya. Darinya, saya membayangkan berbagai hal soal hidup yang beragam. Karena keberagaman itulah agaknya kita sulit mencari tema tertentu pada musik Paris Hasan. Terkait itu, ia menjelaskan, “Saya tidak pernah menetapkan suatu tema dalam proses kekaryaan saya. Sebab, apa-apa yang tercipta, betul-betul murni dari apa-apa yang saya alami. Mengungkapkan hal sederhana, itu menyenangkan. Bisa dibilang, saya ini realis orangnya.”

Pria berzodiak scorpio ini kemudian melompatkan ceritanya ke Johnny Cash; ia mencintai lagu-lagu ciptaan musisi asal Amerika itu, bahkan menjadikannya salah satu referensi dasar dalam bermusik. Tak hanya berpatok pada satu sosok, ia pun mengonsumsi komposisi musik Bob Dylan, Ben Harper, Charlie Musselwhite, The Doors, Led Zepplin, Nirvana, Radiohead, Eminem, serta The Beatles. Dalam obrolan kami, ia mengaku bahwa dahulu sempat menampik karya-karya Johnny Cash. Namun, pada akhirnya, setelah berproses lumayan lama, tak dapat ia pungkiri bahwa hasil kerja musisi asal Kingsland, Arkansas tersebut selalu membuatnya jatuh cinta.

Bila bicara soal Johnny Cash, tentu kita tak bisa melepaskan genre musik Rock and Roll, Blues, Rockabilly, Folk, dan Gospel. Nuansa Johnny Cash memanglah kental terasa pada komposisi musik yang diusung Paris Hasan. Meski demikian, ayah satu anak ini tak terlena; ia tetap mencari keotentikan musiknya. Usaha tersebut saya lihat tampak pada karyanya yang berjudul Skiffle and Blues—sebuah single yang resmi diluncurkannya pada 12 Desember 2020 lalu.

Ketika pertama kali menyimak komposisi itu, saya dibuat termenung olehnya. Sebab, saya benar-benar buta referensi perihal apa-apa yang ada dalam skiffle dan blues. Blues, merupakan genre musik yang ditemukan oleh masyarakat Afrika-Amerika di Deep South Amerika Serikat pada akhir abad 19 untuk para pekerja, juga kaum tertindas. Mereka bermain menggunakan alat-alat musik konvensional, seperti gitar, hamonika, terompet, piano, dll. Musik skiffle, meski masih serumpun dengan blues, pengembangannya lebih mengandalkan improvisasi dengan instrumen yang mengandalkan benda-benda—tidak menggunakan alat musik konvensional. Meski membutuhkan waktu untuk mencari referensi, tapi akhirnya saya pun menemukan sesuatu yang dimaksud Paris Hasan dalam komposisi Skiffle and Blues; tentu saja setelah ditambah dengan aktivitas membaca ulang liriknya secara perlahan. Semoga tangkapan yang (menurutku) terlalu tergesa-gesa ini tak keliru.

Saya berpendapat bahwa Skiffle and Blues memang berbicara perihal musik itu sendiri dan keotentikan seorang Paris Hasan yang perlahan muncul. Ada sesuatu yang hadir di tengah; antara skiffle dan blues itu sendiri. Abstraksi dari sesuatu itu, bagi saya, terbaca pada lirik:

I’ve been told how to rock n’ roll / But I got mine / Said get your kicks / Even act like a dick or goin’ crazy / But it’s something between skiffle and blues / and all you gotta do, and all you gotta do is feel.

Di sana ia menulis lirik all you gotta do is feel dan diulang beberapa kali. Paris Hasan seolah menggiring pendengarnya agar tak memikirkan hal-hal rumit tentang sesuatu di antara skiffle dan blues itu: rasakanlah musik itu, jangan dipikirkan, cukup dirasakan! “Cukup rasakan saja, maka masalah selesai,” ungkapnya. Sangat menarik. Pada akhirnya saya juga mulai menerima itu.

Di luar itu, Paris Hasan juga kerap melakukan eksperimen-eksperimen lainnya yang agak tak biasa. Contohnya, ia menggabungkan efek overdrive, delay, dan reverb menjadi satu untuk mengincar frekuensi yang ia kehendaki dalam menciptakan satu komposisi musik tanpa gitar—walaupun sebenarnya efek overdrive dan delay dipakai untuk gitar. Ketika saya menanyakan alasannya, ia menjawab “Supaya menimbulkan kesan rekaman yang sedikit kotor di bagian-bagian tertentu, agar old taste-nya terasa. Persis seperti suara-suara musisi terdahulu, seperti The Quarrymen dan Lead Belly.”

Mengenai old taste, bagi siapa pun yang pernah mendengarkan karya Paris Hasan, pasti tak asing dengan hal itu. Ketika ditanya mengapa demikian, ia menjawabnya secara sederhana, “I just like it. That’s it.” Akankah Paris Hasan bisa konsisten di jalan itu? Kita lihat saja.

Avatar
Latest posts by Gilang Sakti Ramadhan (see all)

2 thoughts on “Sesuatu di Antara Skiffle dan Blues

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *