Dalam keremangan cahaya lampu petromaks, seorang laki-laki dengan punggung sedikit terbungkuk berjalan memasuki panggung. Panggung yang sebenarnya adalah balai-balai dalam setnya tampil sebagai rumah dengan perabotan-perabotan lusuh. Ada termos, televisi hitam putih, transistor tua, kasur, bantal yang juga tampak kelabu. Suasana kelabu yang sudah lebih dulu dipancarkan oleh perabotan di rumah itu dipertebal oleh penampilan sang aktor yang menggunakan sweter gelap, celana lusuh,  sepatu bot, diiringi langkah pelan dan tatapan sayu.

Rupanya cerita yang akan sampai kepada penonton tidak langsung hadir pada tatapan pertama sebab sang aktor yang berperan sebagai laki-laki tua itu perlu mendeskripsikan satu per satu perabotan yang ada di sekelilingnya. Melalui properti pertunjukan yang mendapat sentuhan berupa laku maupun sembari berbicara langsung, ia menguraikan segenap kenangan akan keluarga yang jauh di masa lampau namun terasa dekat dalam angan dan pikiran.

Dalam beberapa perpindahan monolog yang masing-masing mewakili babak kenangan, yakni kenangan pada anak, kenangan pada istri, juga renungan dan penyesalan, sering dimulai dengan keterlibatan dengan properti yang ada di sekitar aktor. Masuk pada jalinan kenangan dimulai ketika sang aktor mengeluarkan foto dari dompet dan menatapnya cukup lama. Dari situ kita mulai mendapati cerita mengenai anaknya, suara anak kecil yang saling sahut menyahut, juga dongeng para bajak laut yang tercitra melalui tokoh-tokoh terkenal: Marcopolo dan Columbus. Pada bagian ini, sang aktor memeragakan langsung seorang pelaut yang sedang menarik tali tambang kapal.

Di antara warta perihal kenangan pada anak itu, disela oleh adegan mengusir sesuatu dengan properti pertunjukan (dalam hal ini dayung perahu). Properti tidak hanya hadir sebagai sesuatu yang ‘sambil lalu’ melainkan juga penanda dari dimulai maupun berakhirnya cerita sang karakter. Kita bisa melihat sesudah ia berkasak-kusuk serta cukup ribut dengan pengusiran yang entah apa itu atau bisa disebut pengusiran yang imajiner sambil mengacungkan dan melemparkan dayung, ia memulai lagi berkisah dengan melakukan perpindahan posisi di luar balai-balai. Dalam hal ini, balai-balai yang pada mulanya tercermin sebagai satu-satunya pengertian dari panggung, mendapat lompatan ruang. Pun properti karakter tidak sekedar memperoleh perhatian sekilas maupun sesuatu yang berfungsi hanya ketika digunakan, tetapi juga memiliki pertalian dengan suasana batin sang karakter atau menjadi simbol dari seluruh ungkapan karakter itu sendiri. Lihatlah pada kasur bantal lusuh, lampu kuning, cangkir kopi, transistor tua yang diputar dan dibiarkan menyala dengan suara keruh. Semua itu turut menalikan diri dengan harapan, luka, kesedihan yang diwartakan sang karakter. Dayung yang digerakkan dengan ayunan sepenuh tenaga membawa penonton pada bentang kesepian sang karakter juga mimpinya untuk membawa keluarga kecilnya berwisata di kapal pesiar.

Di babak penutup, kita melihat sang karakter meminum kopi dan menyulut rokok. Kopi dan rokok dalam keseharian kita sering menjadi penanda kala sedang senggang, jeda di antara kesibukan, bisa pula akhir dari kehirukpikukan. Maka begitulah, sang karakter menutup cerita kenangannya dengan satu dua teguk kopi dan hisapan rokok. Properti karakter kali ini pun memberi tanda pada kita bahwa pertunjukan sudah memasuki penyelesaian.

Pertunjukan Sebuah Rumah di Bawah Menara yang diperankan aktor Arga Purnama ini ialah pertunjukan realis dengan tempo lambat. Ia meminta segenap fokus penonton agar dapat menikmatinya dengan hati-hati. Bila ada yang menginginkan kejutan, maka kejutan itu lebih berupa perubahan vokal yang mendadak keras, setengah teriakan, benturan kursi pada papan balai-balai, suara menghujam dayung di tanah, atau ekspresi emosional Arga Purnama ketika harus memeragakan luka batin seorang lelaki tua dalam kungkungan rasa kehilangan dan kesepiannya.

Sebagaimana karya realis bersandar pada sesuatu yang solid, kita tak bisa mengharapkan begitu berlebih klimaks yang mengantar pada keterpukauan semenjana atau visual yang gemilang. Segala sesuatu berasal dari sesuatu yang telah ada, maka perwujudannya kembali baik dalam teks maupun seni panggung ialah menampakkan detail-detail lain yang sekiranya menghadapkan kita pada tafsir baru mengenai apa yang telah ada itu. Dalam pertunjukan Sebuah Rumah di Bawah Menara, ia hadir melalui properti-properti karakternya yang begitu dihidupkan dan menjadi “pintu masuk” bagi kita untuk mencitrakan berbagai konflik yang berdiam di belakang. Ingat, bahwa sang karakter pun memulai kisahannya dengan mendeskripsikan satu per satu properti yang ada di meja juga isi tempat tidurnya. Lalu dari sana kita pun dibawa oleh permasalahan rumah tangga yang dipicu keterbatasan ekonomi, lapangan kerja yang tak memadai hingga salah satu anggota keluarga pun terpaksa bekerja ke luar negeri, anak yang diasuh oleh kakek dan neneknya. Juga sampai pada tataran lebih tinggi di mana kemiskinan sebagai dampak dari sistem pusat yang tak merata.

Bila saya diperkenankan mengulas pertunjukan Sebuah Rumah di Bawah Menara dalam sudut pandang saya yang amat pribadi, maka saya bisa mengatakan selama menikmati pertunjukan ini, saya sekaligus melakukan pembacaan padanya seperti ketika saya membaca cerita pendek bergenre realis. Interaksi karakter dengan begitu banyak properti pertunjukan yang menghadirkan lanskap beragam baik suasana batin, konflik, atau perluasan konteks yang hadir belakangan, hal tersebut saya temukan juga khususnya ketika membaca cerpen-cerpen yang berada di jalur kerangka realis yang ketat.  Kesamaannya ialah dalam menarasikan detail-detail yang bila diibaratkan di panggung berfungsi sama seperti properti bagi aktor, perannya tak sekedar mengisi ruang cerita tetapi juga menjadi jalan pembuka menuju ke tingkatan cerita berikutnya. Maka, segala yang hadir ialah juga memberi cerminan kemanusiaan.

Sebuah Rumah di Bawah Menara sebagai pertunjukan realis yang mengusung fungsi sama melalui interaksi dengan beragam properti itu memberi semacam perhubungan lintas bolak-balik antara teks cerpen realis sebagai sumber dan panggung sebagai medan perluasan bagi penciptaan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *