desainer grafis: Rori Efendi

Setelah berdiskusi panjang, akhirnya kami sepakat: kegiatan kami akan diselengggarakan di sebuah rumah yang cukup rumit cara menemukannya. Alasan ini—selain karena bayang-bayang cuaca buruk—membuat kami ragu acara kami akan dihadiri oleh orang lain selain diri kami sendiri—yang hanya empat biji orang. Tetapi, pun tidak ada yang hadir kami tidak akan berkecil hati karena acara kami tidak direncanakan untuk berhasil. Meskipun sebagai manusia, usaha-usaha seaneh apa pun tetap kami upayakan.

Salah seorang dari yang empat biji ini ternyata memiliki kawan seorang pawang hujan. Berdasarkan pengalaman mengelola acara beberapa tahun sebelumnya, solusi semacam ini telah menunjukkan ketidakberhasilan. Ceritanya, pada sebuah kegiatan, kawan kami membayar seorang pawang hujan. Percobaan pertama dan kedua pawang hujan gagal menangkal hujan. Katanya, ada serangan dari begitu banyak musuh. Kawan saya menambah bayaran dan hujan tetap turun lebat. Akhirnya sang pawang menyerah dan berkata, “Ini bukan musuh, tapi ini musim!” Cerita  penuh hikmah ini membuat kami tidak berharap besar sang pawang bisa mengendalikan hujan saat acara kami. Tetapi beberapa saat menjelang acara dimulai ternyata hujan tidak turun. Sehingga peserta yang setelah bersusah-payah dijemput sampai juga di lokasi.

Dua belas menit setelahnya ternyata hujan mulai turun. Rupanya kawan kami hanya memberitahukan waktu acara dimulai dan titik lokasi tanpa memberitahukan batas akhir kegiatan. Jadilah acara kami yang berlangsung di lahan parkiran ini terus diserang kecemasan. Beruntung hujan tidak benar-benar besar. Efeknya hanya lingkaran kami menjadi mengecil karena menghindari tempias. Dan beruntungnya, peserta jadi tertambat di tempat kami hingga cukup larut malam karena hujan semakin serius dan tak kunjung berhenti.

Obrolan ini adalah kegiatan kedua yang kami lakukan. Kegiatan pertama berupa Dialog Seni dan Bedah Buku—acara ini juga dilakukan mendadak hanya berangkat dari celetukan seorang kawan. Meskipun begitu, kegiatan pertama berlangsung cukup lancar dan meriah. Wakil Bupati datang dan ada pula dagang sate usus. Kegiatan kedua dilaksanakan Kamis [8/4/2021] dan dalam bayang-bayang badai yang sebelumnya telah banyak merugikan kawan-kawan di Nusa Tenggara Timur. Katanya NTB salah satu dari provinsi yang perlu berhati-hati karena ada kemungkinan terkena dampak. Karena itu kami memahami jika pawang hujan yang kami hubungi tidak sepenuhnya dapat menangkal hujan di titik acara kami.

Sesungguhnya acara ini bukan hanya menempatkan pawang hujan sebagai entitas yang terpisah. Meskipun ia tidak berada di lingkaran ketika acara dimulai tetapi tema pembicaraan kami berkaitan dengan pekerjaannya. Yakni bagaimana manusia dalam membangun hubungan dengan alam semesta.

Mengangkat tema Ngobrol Cerita Rakyat: Inaq Sisik dan Amaq Sisok, kami berangkat dari pertemuan dengan Metawadi, seorang pegiat budaya yang ikut hadir pada acara pertama kami. Rupanya beberapa pekan sebelumnya ia baru saja menghidupkan kembali ritual yang telah sempat dilakukan berpuluh-puluh tahun yang lalu di tempatnya. Ritual ini bernama tumpek bubuh yaitu ritual mengupacarai tanaman dan berbagai pepohonan sebagai cermin terjadinya harmonisasi antara manusia dan alam.

Kegiatan kami dimulai dengan menyaksikan sebuah film berdurasi 26 menit yang dibuat oleh Metawadi dan kawan-kawan di Tebango—tempat tinggal Metawadi. Film ini menunjukkan tatacara pelaksanaan ritual itu berikut penjelasan kenapa dan apa perlunya untuk dilakukan. Rupanya persoalan-persoalan yang dihadapi oleh generasi saat ini menurut Metawadi telah disiapkan jawaban oleh leluhur di masa lalu.

Saat ini manusia berada dalam posisi yang terpisah dan menjadi dominan dengan alam tempat mereka mengada. Ketika melakukan berbagai hal untuk melanjutkan hidup, manusia cenderung melakukan eksploitasi dan tidak jarang eksploitasi yang besar-besaran dan kejam. Pada masa lalu, para leluhur membangun hubungan yang sangat erat dan dalam dengan alam semesta. Misalnya seperti yang ditunjukkan dalam ritual tumpek bubuh, para leluhur membuat sanggah crocok di tengah sawah sebagai titik sentral mengendalikan hama. Burung-burung bukannya diusir menggunakan aneka model orang-orangan sawah atau bahkan dengan petasan seperti yang mulai sering dilakukan, tetapi diberi perhatian dengan disediakan makanan dan minuman di tempat khusus untuk mereka.

Menurut Metawadi ritual ini tentu saja lebih dulu dilakukan di tempat-tempat lain dengan berbagai variasi yang ada. Ia mengakui bahwa telah terdapat hubungan yang erat antara Jawa, Bali, dan Lombok dalam perkembangan kebudayaan sejak berabad-abad yang lalu. Menariknya, Metawadi tidak hanya berupaya melakukan penggalian dengan menekuni ritual ini, tetapi justru berangkat dari sebuah cerita lisan yang sebelumnya sangat sering diungkapkan oleh masyarakat di tempatnya.

Seringkali para warga akan berkata, “Kamu ini seperti Amaq Sisok” ketika ada suami yang takut kepada istrinya. Berangkat dari hal ini ia melakukan pengumpulan sejumlah referensi dan ditemukanlah cerita rakyat Inaq Sisik dan Amaq Sisok.

Pada suatu hari, hiduplah sepasang suami istri bernama Inaq sisik dan Amaq Sisok. Amaq Sisok begitu polos dan manut kepada istrinya. Pernah ketika ia diminta menunggu rumah oleh istrinya, di dekat tempat ia duduk beberapa orang anak tengah saling gebuk. Ia duduk saja minum kopi sampai istrinya pulang. Tentu saja istrinya marah dan setelah melerai anak-anak itu, sang istri langsung memberikan nasihat. “Nanti kalau ada perkelahian begitu, kamu lerai jangan diam saja!”

Beberapa hari setelahnya benar saja Amaq Sisok kembali menyaksikan perkelahian. Ia berteriak-teriak dan meminta mereka berhenti. Tetapi tidak ada yang mengindahkanya. Ia berlari mendekat dan berdiri persis di tengah-tengah. Kedua tangannya direntangkan dan mereka yang berkelahi langsung ambruk ke tanah. Ia kemudian memberikan nasihat-nasihat. Tentu saja ia tidak mendapat tanggapan karena yang berkelahi bukan manusia melainkan dua ekor sapi.

Cerita lisan memiliki sifat berubah-ubah dan memiliki banyak variasi. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang lisan dan disampaikan melalui mulut ke mulut. Sehingga sangat mungkin cerita seperti ini memiliki kemiripan dengan cerita-cerita di tempat lain. Tetapi Metawadi memandang cerita ini bukan dari kemiripan dengan cerita di tempat lain atau hal-hal yang bersifat teoritis. Ia justru dibuat heran dan terus bertanya-tanya kelebihan apa yang dimiliki oleh Amaq Sisok sehingga dapat merubuhkan dua ekor sapi yang tengah berkelahi hanya dengan kedua tangannya.

Amaq Sisok terbaca oleh Metawadi sebagai manusia yang hanya memiliki kepatuhan. Ia tidak mengenal konsep “berkelahi” sampai kemudian istrinya memberitahunya. Sepenggal kalimat dalam lontar kemudian memberinya jawaban: ia yang menyatu dengan alam, alam akan memberi segalanya. Temuan inilah yang mendorongnya untuk membumikan kembali ritual tumpek bubuh sebagai upaya untuk mengembalikan kembali harmonisasi manusia dengan alam. Harmonisasi itulah yang ia pandang dan percaya sebagai kekuatan yang dimiliki oleh manusia. Meskipun antara ritual tumpek bubuh dan cerita Inaq Sisik dan Amaq Sisok adalah dua hal yang berbeda, tetapi di tangan Metawadi keduanya saling berkaitan dan saling mendukung untuk menegaskan sebuah cara pandang dan cara laku yang kemudian ia percaya sebagai identitas.

Berbicara tentang identitas,, menurutnya, bukanlah sebuah pencarian yang bisa selesai. Tetapi, begitu identitas ditemukan, justru saat itu semuanya baru dimulai.*

 

 

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *