desainer grafis: Rori Efendi

 

Menonton banyak fenomena yang terjadi semenjak awal 2020 hingga detik sekarang, membuat saya bingung sendiri, serius. Saya benar-benar mengalami kesulitan saat mencari benang merah dari semua yang menimpa negeri ini.

Kejadian tak masuk akal terus diberitakan secara dramatik juga sporadis. Memasuki 2021, mulanya saya memprediksi hal-hal tak masuk akal itu bisa lebih berkurang keberadaannya ketimbang tahun lalu. Sayang, prediksi saya meleset sama sekali.

Ekonomi, politik, kesehatan, sampai yang pling trivial berhasil mengganggu pikiran saya. Lebih jauh lagi, membuat kondisi psikis dan mental saya mengalami semacam eror karena gagal menjalin konektivitas dalam menyerap realitas tersebut.

Tujuan hidup dan cita-cita yang sebelumnya tampak terang dan seakan menjadi jalan panjang untuk ditempuh, sudah benar-benar mengabur. Tak bisa diterka garis finish-nya. Bukan lagi mengambang, mungkin sudah membias ke udara dan terhempaskan cahaya.

Akhirnya beberapa peta hidup yang berantakan terpaksa dirapikan lagi dengan cara alakadarnya. Meski mencari solusi dalam situasi absurd dengan kondisi psikis yang agak sakit memiliki presentase gagal di atas 75%. Mau bagaimana lagi, mengharapkan solusi dari yang berdiri di panggung kebijakan hanya sia-sia belaka.

Sebelumnya terbit berita tentang kudeta di salah satu tubuh partai oposisi. Ini persoalan yang lumayan serius bagi demokrasi. Sebab bagaimana pun, roda demokrasi tidak akan berputar tanpa kehadiran oposisi yang sehat. Di sisi lain, peristiwa kudeta ini tidak mendapatkan respons yang begitu partisipatif oleh masyarakat.

Mengapa demikian? Tentu karena kita, masyarakat, sudah terlalu lelah menonton dagelan politik dengan tema perebutan kekuasaan. Membawa alasan demokrasi, kita akhirnya dipaksa untuk peduli, kendati selama ini proses demokrasi yang mereka lakukan itu mengakibatkan kita terlantar di ambang antara kesejahteraan dan penderitaan. Mereka, para politisi yang berkelahi itu tak pernah benar-benar memahami cara memberi kepastian.

Selanjutnya berita tentang seorang pegiat youtube yang pernikahannya dihadiri oleh Presiden dan Menteri. Idealnya, kita memang tak perlu mengurusi kehidupan pribadi semacam ini. Namun, kita ternyata benar-benar sulit untuk berpaling darinya. Setidaknya, sedikit dari ekor mata kita pernah mengikuti perkembangan konflik yang terjadi akibat kasus tersebut.

Umpama berita-berita semacam ini adalah badai yang membawa sampah, maka kita sedang berada di tengah badai itu, kita hanya berdiri di tengah-tengah badai itu tanpa bisa berlindung, tanpa bisa melangkahkan kaki barang sepeser saja. Kita kehilangan otoritas untuk memilih terjebak dalam fenomena alam yang lain. Mereka menganggap semua lelucon itu adalah suguhan yang pantas di sela-sela ketidakpastian nasib kita selama pandemi. Mereka mengira, kita benar-benar membutuhkan itu. Mereka mengira, kita terlalu banyak bersedih sampai perlu mengonsumsi lelucon murahan semacam tragedi percintaan anak pejabat atau percintaan-percintaan lain yang kita tak tahu mengapa perlu mengetahuinya. Badai memang pasti berlalu, entah meninggalkan luka atau kematian.

Kini Virus Covid itu bahkan katanya telah melakukan inovasi dan berhasil menemukan bentuk barunya, mengalahkan negara yang faktanya tak juga melakukan perubahan apapun. Di sisi lain, kehidupan politik dan ekonomi elit negara hanya sibuk mereproduksi kekuasaan menggunakan cara-cara nir-kemanusiaan yang malah mengorbankan kemaslahatan rakyat. Mereka, para politisi itu, melakukan hal-hal yang tidak pernah kita harapkan sebelumnya. Sementara di sini, kita terjebak dalam suasana melankolik, merindukan segala hal baik yang semakin jauh. Atau mungkin telah dicuri.

Robbyan Abel R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *