Hip-hop dalam banyak blok sejarah sering kali terposisikan sebagai sub-culture. Keberadaannya yang bernada sarkas menjadi hantu bagi modernitas. Akibatnya, hip-hop hampir selalu mengalami kesulitan dalam mengekspresikan ide-gagasan di ruang-ruang publik arus utama, yang kelak kemudian memengaruhi aksi-aksi mereka erat dengan aktivitas jalanan atau ruang-ruang alternatif yang cenderung berada di pinggir.

Namun tentu saja, sub-culture tidak selamanya menjadi sub-culture. Ada kalanya ia menjadi mainstream culture seiring dengan bagaimana respons sosial tempatnya tumbuh. Mainstream culture yang dalam definisi ini tidak sepenuhnya negatif, tergantung pula dengan bobot progresivitas yang diperjuangkan oleh hip-hop itu sendiri.

Dua pekan lalu, tepatnya pada tanggal 17-18 April 2021, Eggie Ross, F-Ali, dan John Paul. G menggelar konser rap mereka yang bertajuk Undertown Tour Vol.1 di Aroo Creative Space. Acara yang dimaksudkan untuk merespons isu seputar interaksi sosial masyarakat urban itu pun diwarnai dengan materi-materi rap ketiga rapper yang bercorak kritis. Seperti Eggie Ross dengan “Watchu Say”, John Paul G. dengan “Break Them”, dan F-Ali dengan “Terimakasih Tuhan”.

Pendekatan kritis yang – bersifat personal – digunakan ketiga rapper boleh jadi menandakan posisi hip-hop di Lombok masih berada sebagai sub-culture. Diketahui, hip-hop sudah merayap ke Lombok sejak tahun 2000-an awal. Hal ini diceritakan oleh Kapten Alud yang pada tahun 2007 turut mengibarkan bendera hip-hop melalui sebuah komunitas yang kemudian dikenal sebagai Lombok Hip-hop.

Kapten Alud yang juga hadir di acara Undertown Tour mengatakan, jauh sebelum terbentuknya komunitas Lombok Hip-hop, hip-hop sendiri sudah lebih dulu masuk ke Lombok, hanya saja keberadaannya tak terpetakan dengan baik. Para pegiat hip-hop berjalan secara individu atau kelompok-kelompok kecil tanpa pergerakan kolektif yang masif, hingga berdampak pada lambatnya penerimaan masyarakat terhadap kebudayaan hip-hop di Lombok.

Menurut Kapten Alud, era hip-hop di Lombok pada awal 2000-an itu memiliki semangat yang berbeda dibandingkan sekarang. Bila dulu, hip-hop berjuang agar kebudayaan yang dibawanya dapat diterima oleh masyarakat, hip-hop di era sekarang justru masih dalam proses pencarian masalah – sebab baginya, ‘masalah’ perlu ditemukan untuk menjadi tolak ukur keresahan bersama dan juga merupakan alasan pertama gerakan kolektif perlu dihidupkan.

Ada beberapa hal semacam “virus” yang menjangkit para pegiat hip-hop hingga berdampak kurang baik pada pergerakannya. Antara lain, kata Kapten Alud, membiasnya orientasi hip-hop menuju hal-hal yang bersifat trivial, seperti “menggaet” lawan jenis, sekadar “gaya-gayaan”, atau permusuhan tak beralasan antar kelompok hip-hop yang jauh dari kepentingan produktif.

“Tak masalah berkompetisi, itu justru perlu. Namun kompetisi itu jangan sampai membuat semangat kolektif hip-hop di Lombok terhambat,” tegas Kapten Alud.

Terjadinya banyak perpecahan, tidak hanya didasari oleh lemahnya semangat kolektif, juga disebabkan karena kurangnya “etitut” antar sesama pegiat hip-hop. Bagi Kapten Alud, etitut menjadi hal yang sangat penting untuk dipahami selama berproses. Sebab dengan memahami etitut, pegiat hip-hop dapat memposisikan dirinya baik secara personal dan sosial sebagai bagian dari kebutuhan sejarah.

Oleh karena itu, ia menekankan: “Mungkin teman-teman harus berkaca dari sejarah (Hip-hop) di Lombok, melihat semangat abang-abangnya yang dulu dalam memperjuangkan keberadaan hip-hop. Boleh berkompetisi asal jangan menyingkirkan semangat kolektif. Dan pastikan, target dan tujuan hip-hop di Lombok tidak dipahami terlalu sempit.”

Sementara itu, Eggie Ross, F-Ali, dan John Paul. G, berencana untuk menggelar lagi konser-konser serupa, melanjutkan Undertown Tour sampai volume-volume selanjutnya. Melalui acara ini, mereka berharap, keberadaan hip-hop di Lombok bisa lebih diketahui oleh masyarakat, kendati itu harus menggunakan pendekatan-pendekatan yang kritis.

Robbyan Abel R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *