Saya sangat mengapresiasi acara pemutaran film pendek ini. Ini penting, karena selama ini film karya sineas lokal kita di NTB jarang sekali bertemu dengan penontonnya,” ucap Ming, salah satu peserta diskusi acara bertajuk Get Well Screen, You’ll Never Watch Alone.

Get Well Screen sendiri adalah acara yang diinisiasi oleh sebuah runah produksi (Production House) bernama Univision film bekerja sama dengan Komunitas Teman Baca Kota Mataram. Acara yang berlangsung di halaman belakang sekretariat Komunitas Teman Baca pada Sabtu (21/05) malam ini diikuti berbagai kalangan, khususnya komunitas yang beranggotakan anak-anak muda. Kegiatan pemutaran tiga film pendek ini kian meriah dengan pameran foto dari komunitas Analogist Mataram dan lukisan dari Lalu Zulhan Ahya.

Apresiasi juga datang dari peserta yang lain. Ada yang menyatakan rasa salut pada ide atau isu yang diangkat dalam film, sampai pada kekaguman pada tekad sutradara membuat film meski dengan budget terbatas namun mampu membuat film yang bisa diikutkan dalam berbagai festival.

Meskipun demikian, kritik dan masukanbaik menyangkut teknis atau kisah film itu sendiri sampai hal-hal di luar film seperti UU Perlindungan Anakjuga dilontarkan oleh beberapa peserta yang lain.

Terlepas dari itu, kegiatan ini mendapat respons positif dari parapeserta, dan ada yang menyarankan agar acara serupa ini diadakan secara rutin.

Dari genre horror, kritik sosial, hingga merawat ingatan

Ada tiga film yang diputar dalam Get Well Screen ini: “Sekaroh”; “Sepiring Bersama”; dan Apakah Salah MenungguPagi Datang (ASMPD). Ketiga film tersebut mengangkat isu-isu lokal dan nasional, mulai dari isu konflik lahan (mafia tanah), persoalan TKI/TKW, dan peristiwa Reformasi 1998. Ketiga isu ini memang menjadi perhatian para sutradaranya.

Sekarohdisutradarai Danang Jatmiko. Film berdurasi 12 menit 12 detik ini bergenre horror, dengan latar daerah bernamaSekaroh” di Lombok Timur. Film yang diproduksi oleh Bale Sineas Mentaram (2020) ini berkisah tentang seorang mantan cenayang/paranormal yang didatangi arwah penasarandan berkomunikasi sehingga mengharuskan dia melakukan ritual yang sudah lama ia tinggalkan, demi membantu menguak misteri kematian arwah tersebut.

Danang memang menyenangi film bergenre horror, sehingga film debutnya ini ia putuskan bergenre tersebut. Konflik utamanya sesungguhnya tentang mafia tanah. Namun penonton perlu mencari kode-kode tertentu dalam film untuk menebak misterinya. Sekaroh itu daerah gersang, dan konflik lahanmarak di sana,” terang Danang.

Yang menarik dalamSekarohadalah adanya nuansa perpaduan budaya Jawa dan Sasak-Lombok. Nuansa tersebut hadir melalui tembang dan nama tokoh-tokohnyaSatrio Piningit, contohnya, nama salah satu pemeran. Ini tidakdipungkiri oleh Danang. Saya berdarah Jawa tapi sudah lama tinggal di Lombok,” tegasnya. Hal inilah yang melatarbelakang nuansa tersebut. “Dan saya pelajari juga bahwa Jawa dan Sasak secara kebudayaan itu dekat,” dia menambahkan.

Film kedua adalahSepiring Bersama”. Film produksi Chendooll Imagination (2018) dan disutradarai Muhammad HeriFadli ini bercerita tentang kehidupan satu keluarga kecil yang tinggal di pelosok nan gersang. Keluarga tersebut ditinggalkan oleh anggota keluarganya yang pergi menjadi buruh migran di luar negeri. Film ini terinspirasi dari fenomena maraknya warga pelosok Lombok yang memutuskan berangkat ke luar negeri untuk bekerja sebagai buruh, sementara di sisi lain mereka meninggalkan anggota keluarga yang hidup dalam segala keterbatasan.

Sepanjang durasi film (17 menit 12 detik) kita dibawa padagambaran sunyi daerah terpencil, juga dialog berbahasa Sasaktiga anggota keluargaanak perempuan kecil, pamannya dan kakeknya. Dari sanalah terkuak permasalahan getir keluarga yang ditinggalkan anggotanya menjadi buruh migran.

Yudhistira, Executive Producer/Produser (sutradara tidak hadir karena tengah berada di Malaysia) menjelaskan, “film ini dimaksudkan sebagai media kampanye atas keprihatinan begitu banyak masyarakat Lombok yang meninggalkan kampung halaman menjadi TKI/TKW di luar negeri.

Yudhistira menambahkan, meskipun jumlah penduduk Lombok sangat sedikit secara nasional, namun kita menyumbang jumlah tenaga kerja yang jadi salah satu terbanyak ke luar negeri.

Sejatinya, ini bukan film pertama Heri yang berkisah tentang isu tenaga kerja Indonesia. di tahun 2020 ia kembali membuat film berjudul Jamal (Janda Malaysia) yang mengangkat kisah istri-istri yang ditinggalkan suami mereka bekerja di luar negeri. Film ini sendiri masuk dalam NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2020, dan mendapat sorotan positif dari berbagai media.

Ada diskusi menarik yang dipantik salah satu peserta terkait film “Sepiring Bersamaini. Saya prihatin pada satu adegan dalam film ini yang menampilkan anak kecil telanjang sedang mandi.Durasinya cukup lama. Bukankah ini melanggar UU Perlindungan Anak?” komentar Ina, perempuan salah satupeserta.

”Film ini memang tidak dimaksudkan sebagai film komersial.Tapi untuk kepentingan festival. Dan memang sudah ada aturanuntuk jenis film komersial dan tidak,” respon Yudhistira. ”Dan secara etika kami juga sudah mendapatkan persetujuan dari keluarga anak perempuan tersebut (untuk menampilkan adeganmandi tersebut),” tambahnya.  

Film ketiga atau terakhir adalahSalahkah Menunggu Pagi Datang”, yang disutradarai sineas muda usia 20-an, TresnaRasendriya. Film yang diproduksi Univision film inimenceritakan tentang seorang ibu yang selalu menungguanaknya pulang dari demo kericuhan pada tahun 1998. Dengan cara apapun sang ibu mencari anaknya agar mendapatkan kabardari anaknya, mulai dari radio hingga televisi namun hasil tak kunjung mendapatkan kabar anaknya.

Tresna mengatakan, film berdurasi 28 menit 28 detik ini sebetulnya tugas kuliah. Memang Saat ini Tresna sedangmenempuh pendidikan dalam bidang film di Jogja Film Academy.

Salah satu peserta mengapresiasi usaha Tresna mengangkat tema peristiwa reformasi 1998 dari sudut pandang seorang ibu yang menunggu anaknya pulang berdemonstrasi. Ini menarik, anakmuda seperti Tresna mau mengangkat isu ini yang cukup jauhjarak peristiwanya dari anak muda seusianya. Jadi sejarah tetap diperhatikan,” apresiasi Fathul, salah satu penonton.

Saya selalu percaya bahwa sebenar-benarnya tempat pulang adalah rumah,” kata Tresna, menyimpulkan ruh filmnya sendiri.Dan, ironisnya, si tokoh anak muda yang pergi demonstrasi dalam filmnya tidak benar-benar pulang, dan menjadi salah satu korban yang gugur.

Kolaborasi, upaya mengembangkan ekosistem film sineaslokal

Film-film karya sineas lokal NTB, sebagaimana diakui beberapa sutradara, belum begitu diapresiasi maksimal oleh warga NTB sendiri. Ini disebabkan salah satunya kurangnya acara screening yang diadakan untuk menjembatani antara pihak pembuat film dan penonton lokal. Padahal, sebagaimana dijelaskan parasutradara film, film-film yang diputar telah mengikuti berbagai festival dan mendapatkan respons positif dari berbagai pegiat film.

Sebab itulah kita perlu kolaborasi antara pihak atau sineas perfilman dengan komunitas-komunitas semacam Komunitas Teman Baca ini. Dengan kolaborasilah ekosistem film kita bisa berkembang,” Tresna memberi usulan. Usulan Tresna ini jugdiamini oleh beberapa peserta diskusi.

“Get Well Screen” sendiri adalah frase modifikasi dari “Get Well Soon” yang artinya merujuk pada doa kesembuhan. Ya, kita perlu berdoa pandemi segera berakhir dan ekosistem film lokal kita berkembang dengan baik.

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *