Kita tak boleh melewatkan kiprah perfilman Jepang. Film-film Jepang hingga kini masih menjadi bahan rujukan, diskusi, dan penelitian. Baik oleh akademisi maupun penikmat film seperti saya ini. Salah satu film Jepang adalah Ikiru, besutan sutradara Akira Kurosawa. Berikut adalah sedikit hasil catatan saya mengenai film tersebut.

Ikiru adalah sebuah film drama eksistensi. Ditulis dan disutradarai oleh Akira Kurosawa. Dirilis pada tahun 1952. Berdurasi sekitar dua setengah jam. Sebagian skenarionya terinspirasi dari novella Leo Tolstoy, The Death of Ivan Ilyich (1886). Jepang dipilih sebagai latar tempat kejadian di dalam film ini.

Kanji Watanabe (Takashi Shimura) sudah bekerja di Balai Kota Tokyo selama lebih dari 30 tahun. Demikian lama ia bekerja untuk menghidupi anaknya__Mitsuo Watanabe (Nobuo Kaneko)__ sejak ditinggal oleh istrinya ketika Mitsuo masih kecil. Setelah bekerja lebih dari 30 tahun, Watanabe mendapati dirinya terkena serangan penyakit kanker perut.

Mengetahui hidupnya tak akan lama lagi, Watanabe perlahan menyadari betapa dirinya “tak pernah” hidup. Untuk pertama kali, setelah sekian lama bekerja, Watanabe absen dari tanggung jawabnya. Di titik ini, ia kemudian dipertemukan oleh seorang novelis (Yunosuke Ito) lalu pergi untuk minum sake yang mahal, sowan ke klub malam, pergi mendengarkan musik yang disukai, dan – dalam konteks film ini – aktivitas “di luar kebiasaan” lainnya. Saya menduga, absennya Watanabe dari pekerjaannya dan melakukan aktivitas lain di luar kebiasaan itu sebagai representasi pembebasan diri yang ditonjolkan oleh Akira Kurosawa.

Esok hari, Toyo Odagiri (Miki Odagiri)—salah satu pekerja Balai Kota Tokyo—menemui Watanabe guna meminta cap persetujuan untuk hengkang dari Balai Kota Tokyo. Di sela-sela peristiwa ini, Akira Kurosawa juga memperlihatkan sisi sentimental Watanabe melalui sebuah metafora, “Aku ibarat orang yang tenggelam dalam kolam. Dahulu ketika aku kecil, orangtuaku begitu jauh dari dasar kolam. Sekarang, ketika aku sudah tua, anakku juga begitu jauh dari dasar kolam. ” Watanabe sebagai tokoh utama memiliki dua fase hidup yang berbeda dan sangat bertolak belakang. Kemudian pertemuan dengan Toyo menjadi titik balik Watanabe untuk memulai sesuatu yang baru dalam hidupnya. Malam hari di sebuah restoran, setelah berbincang dengan Toyo, Watanabe memutuskan untuk mencapai setidaknya satu hal berharga sebelum ia mati. Saat hendak pergi dari restoran, tampak adegan gadis-gadis menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” kepada salah satu teman mereka. Adegan ini saya tandai sebagai sebuah bentuk kelahiran kembali Watanabe.

Usaha yang dipilih Watanabe dalam mencapai satu hal berharga dalam hidupnya adalah membantu ibu-ibu di sekitar daerah kumuh untuk membangun sebuah taman. Pada titik ini, film sudah mencapai bagian tengah. Setelah lima bulan proses pengerjaan taman, Watanabe diketahui tak berhasil bertahan lebih lama dalam menghadapi kanker perutnya.

Adegan-adegan usaha Watanabe dalam membangun taman tidak muncul secara kronologis, melainkan sebagai kilas-balik dari upacara pemakamannya. Lalu konflik utama muncul di bagian ini. Digambarkan bahwa kesuksesan membangun taman itu tidak serta-merta berkat usaha Watanabe. Wakil Walikota beserta Dewan Kota mengaku bahwa merekalah tokoh-tokoh utama dalam membangun taman itu. Walaupun pada kenyataan yang sebenarnya, Watanabelah orang yang berusaha sangat keras, dimulai dari pengajuan proposal sampai ikut terjun ke lapangan. Hal ironis lainnya, proposal yang diajukan Watanabe kepada Wakil Walikota dan Dewan Kota sempat ditolak berkali-kali, bahkan diancam akan dihajar oleh beberapa yakuza sewaan pemerintah. Sebuah hal yang sangat klise memang ketika membicarakan sistem birokrasi atau pemerintahan. Tapi, seperti itulah kenyataan yang terjadi.

Setelah Wakil Walikota dan Dewan Kota pulang dari upacara, kini tersisa rekan-rekan sekantor Watanabe. Hampir semua dari mereka sebenarnya sama dengan Wakil Walikota dan Dewan Kota, tak mau mengakui keberhasilan Watanabe dalam membangun taman. Hanya dua orang yang terus-menerus memuji dan mengakui bahwa Watanabelah tokoh utama dalam pembangunan taman itu. Pada adegan ini tampak situasi berkecamuk karena seluruh orang mabuk oleh sake. Ada yang marah, sedih, dan malu atas kelakuan mereka terhadap Watanabe. Di adegan ini saya kira Akira Kurosawa seperti menerangkan bahwa upaya mengerjakan hal baik yang dilakukan seseorang tidak selalu menimbulkan persepsi yang baik pula. Bisa saja upaya itu kemudian memunculkan persepsi-persepsi lain seperti menginspirasi, kebingungan, kemarahan, kesedihan, bahkan frustrasi. Hal ini kemudian mengingatkan saya pada narasi perihal “Tidak ada kebenaran yang absolut”.

Selepas kematian Watanabe, Balai Kota Tokyo beroperasi seperti biasa dan masih berkutat pada regulasi-regulasi yang terkadang sangat tidak masuk akal. Hal ini menimbulkan kekecewaan pada salah satu pekerja yang memuji Watanabe.

Sebagaimana film-film klasik, Ikiru bertumpu pada cerita dan karakter. Alur yang maju-mundur seakan menegaskan keruwetan sistem birokrasi itu sendiri. Perkara sinematografi, sentuhan dari Asazaku Nakai memang sangat indah. Saya dibuat terperangah olehnya. Ia mengkonstruksi ulang konsep hari tua itu. Biasanya, hari tua lekat dengan kebosanan. Namun, tidak di film ini. Kita diperlihatkan betapa bergairahnya hari tua seseorang. Kebosanan itu saya kira terjadi karena kita tak pernah menjadi tuan atas tubuh kita sendiri. Kita terikat, tak bisa melepaskan diri dari sebuah sistem sampai di sisa usia kita. Dan Asazaku Nakai beserta Akira Kurosawa__melalui karakter Watanabe__seperti telah berhasil membebaskan diri.

Film ini diberi judul Ikiru yang dalam bahasa Indonesia mempunyai arti, “Untuk hidup”. Saya kira Akira Kurosawa telah berhasil mengganggu saya dan membuat saya bertanya, “Hal seperti apa yang telah kau lakukan sehingga kau bisa dibilang menjalani hidup?”

 

Avatar
Latest posts by Gilang Sakti Ramadhan (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *