fotografer: RootDat!

“Keluarga saya menganggap, saya tak punya uang dan gembel. Tidak diucapkan secara langsung, tetapi melalui tindakan (itu terbaca). Lagu rap saya adalah suara berbeda dari apa yang diinginkan orang tua saya.”

*

Mendengar Eggie Ross berkisah tentang perjalanan musiknya, rasa-rasanya hampir semua lagu yang dia ciptakan melibatkan kisah kelam hidupnya. Kebanyakan lagu rap yang dia nyanyikan menyimpan sejarah percintaan, dan manifesto sikap terhadap keluarganya. Lagu-lagunya serupa memoar yang menampung segala keluh kesah, masalah, dan harapan-harapan.

Inspirasi musik terbesarnya adalah Eminem, penyanyi rap asal Amerika. Memang dia mendengar musik rap lain, namun tidak seintens dia mendengar Eminem. Untuk musisi rap Indonesia, dia mendengarkan Ambon Bejaguran, “liriknya galak tapi pas,” katanya.

Sejak mengulik musik rap, dia langsung kecantol Eminem dan sejak itu tak pernah pindah ke lain musisi. “Saya bakal tetap ke Eminem. Masih banyak yang harus saya pelajari dari Eminem,” tegasnya.

Eggie Ross menyimpan berbagai alasan dia menyukai Eminem, dan itu akan membuat kita mafhum. “Yang membuat saya suka Eminem itu huzzle-nya, perjuangan hidupnya, dari bawah. Kisah hidupnya juga sama seperti saya,” jelasnya.

Eggie Ross membandingkan kisah Eminem dengan kisah hidupnya sendiri. “Bapak Eminem sempat menghilang. Bapak saya juga dulu sempat menghilang, dari saya SD sampai lulus SMP. Saya dijanjikan kuliah ketika di Mataram. Tapi saya justru kerja di billiard. Eminem juga bikin lirik dari kisah hidupnya,” katanya.

Dia menyimak dengan baik sejarah hidup Eminem hingga lirik lagunya. Dia bisa bercerita sangat panjang tentang Eminem. Hal ini membuat dia sempat dijuluki Eggienem dalam salah satu group whatsapp. Meski itu hanya sebuah kelakar, namun menyimak kisah hidup dan riwayat bermusiknya Eggie Ross, memang sedikit banyak sama kelamnya dengan yang dialami Eminem.

Sebelum fokus nge-rap, Eggie Ross sudah terlebih dahulu nge-dance. Kurun waktu 2008 dan 2009 dia belajar dance. “Saya nge-dance lebih ke hip-hop all style. Sebelumnya, tahun pertama tahun 2010  saya lebih ke dab style,” jelasnya.

Dance yang dia tekuni sebetulnya menyimpan benih rap. “Nge-dance itu kan secara tidak langsung kita belajar nge-rap. All style itu kan kita ikut lirik. Di rap itu ada namanya flow, seperti alunan nadanya,” terang Eggie.

Di Lombok Timur, tempat tinggalnya, Eggie sempat membuat dance crew. ”Kami latihan di lapangan, dan dianggap aneh, tapi berkat itu juga mental kami jadi kuat,” kata Eggie.

Timor Timur

Eggie Ross lahir di Timor Timur pada 1991, dan tinggal di Kota Dili. Ayahnya Jawa, menjadi tentara pada usia yang belum cukup (mencuri umur dan diurus bapaknya yang komandan), dan ditugaskan di Timor Timor pada era Timor Timur masih menjadi bagian NKRI. Saat Eggie Ross berusia bocah yang duduk di bangku Taman Kanak-kanak, dia kerap kali menyaksikan kekacauan, peperangan, dan kekerasan.

“Saya pernah menyaksikan tiga teman saya yang seumuran saya, anak kolong juga, mati tertembak di depan saya. Di dekat TK saya ada pasar besar yang dibakar. Saya lari bersama tiga teman saya. Desta, teman saya yang mati itu, di situ diangkut,” kenang Eggie.

Jika kerusuhan pecah, Eggie selalu mengikuti instruksi ayahnya untuk lari kabur lewat sawah, kemudian lewat sungai bernama Sungai Buaya—tempat di mana Eggie biasa melihat buaya bersama ayahnya.

Dalam masa kacau seperti itu, bapaknya menjadi tukang angkut mayat-mayat. Jika pulang, ayahnya bisa membawa setengah karung dompet. “Pernah hantu-hantu pemilik dompet itu dating ke rumah. Ada ketukan di pintu rumah, hantu perempuan datang, minta dibalikin ikat rambutnya. Besok dan besoknya lagi, hantu yang lain, minta dikembalikan barang-barangnya seperti KTP dan sebagainya,” kenangnya.

Karena bekerja sebagai tentara, bapaknya sering bertugas di “luar” dan jarang pulang. Kekacauan dan kerusuhan di mana-mana. Jadi Eggie kalau bepergian harus selalu waspada. “Seminggu aman, tiba-tiba muncul kerusuhan lagi,” katanya.

Peristiwa di Timor Timur itu sangat membekas dalam ingatan Eggie, sampai sekarang. Syukurnya, tidak sampai membuat dia trauma. “Mungkin karena waktu itu saya masih kecil. Cuma memang kalau lihat kekerasan, emosi saya tidak bisa terkontrol. Misalnya kalau lagi main musik, sering tidak terkontrol, parah. Apa karena sering melihat kekerasan dulunya, ya?” tanya Eggie pada dirinya sendiri.

Saat Timor Timur akhirnya lepas dari NKRI, keluarganya langsung pindah ke Selong, Lombok Timur. Fase ini menjadi kisah sendiri dalam hidup Eggie. Dia terbiasa hidup berpindah-pindah sejak itu. Saat itu Eggie masih usia TK. Menginjak bangku SD dia pindah ke Lenek. Setahun saja di Lenek, lalu Eggie pindah lagi ke Bima.

Perpindahan ini juga memiliki kisah unik jika dikaitkan dengan nama lengkap Eggie sendiri. Dari ayahnya, dia diberikan nama, “Eggie Prama Dewa Ansori”. Saat pindah ke Bima, namanya diubah oleh keluarganya di sana menjadi “Egy Sokayana Jodi”. Usianya saat itu masih usia sekolah dasar. Memasuki usia SMP, namanya berubah lagi menjadi “Egy Sukayana Jodi”. Pindah ke Lombok Timur, nama tengahnya berubah menjadi “Sopayana”. “Jadi kalau ditanya soal nama, saya suka bingung. Maka saya tak mau lamar kerja, karena masing-masing ijazah dan KTP berbeda namanya,” kenangya sambil tertawa.

Lalu nama Eggie Ross? “Ross itu nama ibu saya. Nama ibu saya, Rosna. Dipanggil Mbak Ros,” jelasnya.

Masa awal di Mataram, Eggie bekerja di area permainan billiard. Bos Eggie mulai mengenalkannya dengan lagu-lagu rock seperti GNR, The Beatles, dan sebagainya. Pertemanan dengan bosnya ini membawa perubahan cukup signifikan bagi hidupnya. “Saya pakai anting gara-gara dia. Dia yang bolongin. Dia ajak saya minum. Padahal saya di Bima itu suci, saya tidak merokok, sholat rajin. Sampai di sini, setengah tahun kerja, sudah merokok, mabuk, diajak makan babi—saya makan kok enak, setelah habis makan baru dikasih tahu,” kenang Eggie.

Eggi menjelaskan, hip hop di Lombok ada skenanya, hanya saja tidak fokus ke rapnya, tetapi fokus ke dancenya. Rapper Lombok, kata Eggie, itu ada sekitar 30an orang. “Kalau sama rapper Bima bisa lebih 50. Ada banyak. Cuma untuk rapper di Bima mereka terkendala soal ekonomi, jadi susah buat ikut gigs, dan mahal kalau mau rekaman. Kalau kita di sini, di Mataram, kan kita punya alat sendiri, recordingnya sendiri,” terang Eggie, tampak resah.

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *