“Jiwa saya ada di punk street, ada juga di jazz. Seandainya bisa dilukis wajah saya ini: sebelah muka punk, sebelah satunya muka wanita yang feminim.”

*

Jazz telah melekat pada citra Wulan Temborot. Citra ini tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Kesadaran bahwa musik dan warna vokalnya kental nuansa jazz justru baru datang belakangan. Setelah orang-orang mengajak dia untuk turut tampil pada event-event jazz, dia baru tersadar, “Oo, ini warna musik saya.”

Wulan pun tak pernah secara serius mempelajari sejarah atau seluk beluk jazz. Yang dia lakukan terus bermain warna musik tersebut, menguliknya secara bebas, dan memadupadankannya dengan unsur-unsur lain dari dalam dirinya.

Event jazz pertama yang dia ikuti itu adalah audisi bernama MLD Jazz Wanted, acaranya Djarum, di tahun 2018. “Waktu itu saya duo. Namanya Duo Lazy Swing. Saya sebagai pengiring pakai gitar,” tuturnya.

Sayangnya, audisi yang dikutinya berhenti di Bali, tidak sampai ke level berikutnya yang diadakan di Surabaya. “Tapi mengikuti itu (audisi) kami sudah senang, melampaui ekspektasi kami. Karena jurinya ada Tohpati, Indra (guru vocal), dan Indro Hardikoro (basis Indonesia). Ada juga datang drummer Gugun Blues Shelter,” terangnya.

Wulan nervous, saking nervous-nya sampai gitar yang dia gunakan lupa distem. “Tohpati berkomentar, vokalnya sudah bagus, tapi gitar harus distem,” kisahnya sambil tertawa. Bagaimanapun, mereka pulang dengan membawa uang tiga juta untuk masing-masing.

Duo itu tidak ia lanjutkan. Wulan mulai fokus menjadi solois. Dia jarang ikut event, waktunya tersita dengan menjadi musisi ngamen. Dia biasa tampil di sejumlah acara di Senggigi, khususnya acara besar new year.

Warna jazz yang dia mainkan barangkali bagi sebagian orang aneh, tapi unik bagi sebagian yang lain. Itu tergambar dari lirik-lirik yang, dalam istilahnya sendiri, slengean. Namun, di balik itu semua, jazz menjadi wadah Wulan menjembatani sikap rebelnya dengan musik yang dia mainkan. Sikap rebel yang tumbuh dari benih kelam masa kecilnya.

Kilas Balik

Dia menceritakan meski dengan agak berat, masa kecilnya tidak terlalu bahagia. Sementara fakta lainnya, dia kerap kali mendapatkan prestasi, khususnya pada seni vocal, namun dia tetaplah anak yang minder dan kesepian. Ini akibat dari masalah dalam keluarganya sendiri.

Wulan adalah perempuan kelahiran 1993. Sejak kelas 4 SD, Wulan bersama dua adiknya diasuh oleh kedua mbahnya dari pihak ayah. “Saya melihat teman-teman dibelikan sepeda baru, itu membuat saya malu. Saya selalu menghindar, meski mereka berniat baik untuk berteman,” dia mengenang.

Memasuki usia SMP, dia menemukan teman-teman baru. dia menyebut masa ini sebagai masa gemilang. Hanya saja, dia seperti lupa diri. Karena berprestasi, dia jadi bertingkah seenaknya. “Tapi Alhamdulillah, seandainya tak ada piala-piala yang saya dapatkan, saya bakal susah masuk SMA. Biaya masuk SMA besar buat saya,” tuturnya. Piala-piala itu menghantarkannya mendapatkan beasiswa. Mbahnya turut mendukung hal ini.

Meski demikian, perjalanan sekolahnya tidaklah mulus. Wulan dua kali pindah sekoklah. Pertama, dia masuk STM. “Saya dipindahkan, karena saya bekerja sambil sekolah. Saya nyambi kerja membuat batu bata di daerah bernama Nijang. Itu ketahuan, karena sekolah sambil bekerja dilarang oleh sekolah,” kisah Wulan.

Perlahan-lahan kebosanan dan kesepian menyerang Wulan. Ia mulai malas-malasan sekolah. Untungnya, bagi Wulan, di masa ini ia mulai berkenalan dengan lingkungan baru, anak-anak punk. “Saya mulai mencoba ‘hal-hal yang tidak benar’. Mulai minum-minuman beralkohol, konsumsi ‘jamur’, dan merokok,” katanya.

Tetapi beberapa temannya di lingkungan anak-anak punk ini senantiasa mengingatkan dia agar jangan berlebihan. “Mereka ada yang yatim piatu, ada yang ibunya sakit. Tapi di sana saya seperti menemukan rumah,” tutur Wulan.

Aktifitas saya bersama anak-anak punk ini diketahui oleh mbahnya. Mbahnya tidak marah jika Wulan pulang malam-malam, dia malah dirangkul dengan hangat. “Sudah, kalau kamu tak mau sekolah, tidak apa-apa,” kata mbahnya seperti ditirukan Wulan.

Wulan, bagaimanapun juga, tak ingin putus sekolah. Ini terbukti dia mengatakan kepada mbahnya, “pindahkan saja saya daripada tidak naik kelas.” Walhasil, dipindakanlah dia ke SMA Muhammadiyah. Tapi di SMA Muhammadiyah, Wulan bertemu teman-temannya di sekolah lain yang sering melewatkan masa bolos bersamanya.

Teman-teman punk Wulan semasa SMA masih terus berkomunikasi dengannya hingga sekarang. Mereka kini ada yang sudah bekerja seperti pegawai pegadaian. “Saya senang dengan mereka karena selalu berupaya mencegah saya agar tidak menjadi toxic,” katanya.

Wulan mengenang, masa-masa indah bersama anak-anak punk itu diisi dengan ekspresi kebencian pada kemapanan atau status quo. “Waktu itu kami membenci kemapanan, kami anti pakai sepatu branded. Biasalah, masa muda,” kisahnya.

Meski tak bisa disebutkan sebagai permulaan persentuhannya dengan musik, namun berkat pergaulan di masa tersebut jelas membawa pengalaman berbeda dalam pengenalannya dengan genre baru. “Di sini saya mulai kenal band Marjinal, Superman Is Dead (SID), dan band punk Lokal seperti Mawar Merah,” tuturnya. Di antara sekian band yang Wulan dengarkan, dia paling menggemari SID.

Nama yang menyertai Wulan dan menjadi nama panggungnya, diambil dari nama almarhum kucingnya yang meninggal karena sakit pada tahun 2014. Temborot bukanlah kata yang memiliki makna, setidaknya dalam bahasa Sumbawa, bahasa ibu yang digunakan Wulan.

Dia namakan kucingnya Temborot, “karena kucing saya ini pendiam dan kaku tiap kali digendong. Tidak seperti kucing lain. Mukanya juga aneh seperti musang.”

Awalnya Wulan sempat ragu dengan pemilihan nama ini. “Lama-lama saya pikir unik juga nama Temborot ini. Akhirnya saya pakai nama Temborot sebagai nama panggung,” terangnya. Meski demikian, Temborot belum begitu dikenal sampai Wulan mulai nyanyi dan manggung tahun 2017.

Sebelumnya, Wulan justru lebih tertarik dan menekuni dunia gambar. Katanya, menggambar itu bakat bawaannya. Dia menerima berbagai pesanan gambar dan mendapatkan imbalan uang atas itu. “Saya menggambar sampai pesanan dari kapubaten tetangga, Kabupaten Sumbawa Barat. Yang memesan adalah kafe atau warung makan. Jejaknya bisa dilihat di satu warung bakso dan mie ayam, namanya Om Des, di Seteluk,” cerita Wulan.

Memang dunia gambar-menggambar sempat mengambil tenaga dan waktu Wulan. Namun demikian, dunia musik telah diakrabinya sejak kecil. Dia mendengarkan musik-musik dari koleksi kaset mbahnya. Mbah laki-laki Wulanbernama A. Latif Hamid, pernah menjadi basis Band Seroja, Sumbawa. Mbah perempuannya bernama Lasmini, berasal dari Jawa.

Wulan mendengarkan Rod Stewart, Nat King Cole, Cut Baker, Franz Sinatra, Aerosmith, dan sebagainya. “Saya seperti dipeluk oleh musik mereka,” tuturnya.

Wulan mulai memainkan musik jazz mulai tahun 2015. “Tetapi awalnya saya mainkan sendiri, di kamar saya sambil menatap bintang,” katanya. Waktu itu, Wulan bernyanyi menggunakan gitar pinjaman temannya. Gitar pertama miliknya dibelikan oleh mantan pacarnya.kemudian, gitar itu dia jual.

Awal memainkan jazz, Wulan masih mengulik permainan-permaninan dasar. Saya memainkan Bee Gees saat itu,” kenang Wulan. Selain Bee Gees, ada pula Chat Atkins. Chet Atkins. “Chet Atkins ini adalah guru saya yang tak pernah bertemu, saya pelajari instrumennya,” jelas Wulan. Lalu selain itu ada juga Chet Bakers, Miles Davis, dan Brian Setzer.

Kelak kemudian Wulan berkenalan dengan Rudi Bongkis, almarhum guru DJ di Mataram. Dia ingat, seusai ngobrol dengan Rudi di tempat Rudi berkegiatan di lantai dua sebuah gedung, dia menuruni tangga dan mampir di salah satu ruangan di lantai satu yang ternyata adalah sekolah musik. Saat itu orang-orang yang sedang belajar musik sedang beristirahat. Dalam kesempatan istirahat ini, ia beranikan menjajal gitar yang sedang nganggur, yang baru saja dipakai. Rupanya, permainan gitar Wulan terdengar sangat jelas karena kabelnya masih tersambung ke sound.

“Orang-orang, salah satunya mas Roni, orang yang bertanggung jawab di sekolah musik tersebut, kaget mendengar permainan gitar saya,” kisah Wulan. Wulan pun dicecar dengan berbagai macam pertanyaan, mulai soal di mana dia belajar, sampai sudah berapa lama dia main gitar. ‘Saya tak pernah belajar musik’ adalah jawaban yang tidak dipercaya oleh orang-orang yang bertanya kepadanya.

Pendek cerita, ajakan mengobrol santai dan intim pun muncul. Dari obrolan itu, pada hari itu juga, dia diajak bergabung untuk ikut bernyanyi bersama Roni dan tim di Senggigi. “Ini momen pertama saya nyanyi di Senggigi. Itu pun di tahun baru, tanpa pengalaman, dan featuring dengan Anderson Kalang, pemain harpa tradisional Singapura,” kisah Wulan. Waktu itu Wulan memainkan gitar dan menjadi vocalis. Ada tujuh lagu yang dinyanyikan.

Di sinilah titik awal Wulan menjadi musisi ngamen.

Selama “mengamen” itu, Wulan memainkan segala genre yang mungkin dia bisa nyanyikan. Dia membawakan western top fourty, dan untuk jazz dia selipkan dua sampai tiga lagu. Untuk acara-acara dinner perkantoran, dia membawakan list-list soft ballads.

Namun genre yang benar-benar melekat di dirinya adalah jazz. Wulan merasa eksplorasi terdalamnya hanya dapat tumpah di dalam wadah bernama jazz. Kenapa jazz? “Jazz itu musik terapi bagi saya, tetapi dengan lirik-lirik yang cadas, lirik-lirik sosial, kehidupan, kisah nyata, LGBT, yang jadi perhatian saya,” terangnya.

Wulan mengaku tak pernah belajar serius soal jazz. Betul-betul, katanya, secara jalanan dia mendapatkan kemampuan jazznya. “Mungkin jiwa saya pemberontak, tak bisa saya hilangkan, tertanam di alam bawah sadar, namun warna musik saya, jazz, dengan jiwa pemberonak saya berpadu menjadi satu” katanya.

“Jadi perpaduan punk dan jazz. Ini istilah saya sendiri. Jiwa saya ada di punk street, ada juga di jazz. Seandainya bisa dilukis wajah saya ini, sebelah muka punk, sebelah satunya muka wanita yang feminim,” Wulan memberikan perumpamaan.

Jiwa pemberontak Wulan jelas berasal dari masa kelam dan traumatik hidupnya. Pengalaman kelam itu memberikannya sekian pelajaran, salah satunya tentang tekad untuk menggapai sesuatu. “Di dunia ini, kita tidak harus memiliki motor untuk sampai tujuan. Di dunia ini tidak perlu ada pesawat untuk sampaii luar negeri. Untuk apa diciptakan kaki kalau bukan untuk jalan. Ini kalimat dari diri saya sendiri. Lillahita’ala,” katanya sambil tertawa lepas.

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *