Ada enam cerita pendek dalam antologi The Ballad of Buster Scruggs [2018] karya Coen Bersaudara. Keenamnya -masing-masing The Ballad of Buster Scruggs, Near Algodones, Meal Ticket, All Gold Canyon, The Gal Who Got Rattled, dan The Mortal Remains– dibuat dengan pakem western, berlatar wild wild west, serta berlandaskan narasi Gold, Gospel, and Glory. Dua di antara enam cerita itu berangkat dari cerita yang sudah disiarkan sebelumnya, yakni All Gold Canyon karya Jack London dan The Gal Who Got Rattled karya Stewart Edward White.

Mula-mula adalah buku. Lalu tangan seorang pembaca [atau pengisah?] membuka halaman demi halaman. Lantas muncul gambar, semacam ilustrasi yang menampilkan adegan yang signifikan di setiap cerita. Di bawah gambar ada kutipan cerita, dari sana kemudian kita dibawa ke dalam adegan. Ketika satu cerita selesai, adegan keluar layar. Kita kembali ke halaman terakhir cerita tadi, diberi kesempatan membaca teks di halaman tersebut sebelum masuk ke halaman berikutnya yang juga berarti ke cerita berikutnya.

Pada cerita pertama kita langsung diperkenalkan pada tokoh Buster Scruggs [Tim Blake Nelson], seorang koboi periang, suka menyanyi dan menari, jago tembak, serta cerdik bila sedang tanpa senjata. Adegan pembuka memperlihatkan Buster Scruggs sedang menunggang kuda sembari bermain gitar dan menyanyi lagu tentang seseorang yang mendambakan air di tengah padang yang kering kerontang. Tampilan Buster tampak mencolok, dengan pakaian bersih dan rapi, di antara sosok-sosok lain yang tampak kumal, ketika dia mampir di sebuah kedai minum. Selain karakter komikal, kehebatan Buster juga digambarkan berlebihan. Lagipula ia adalah satu-satunya yang bisa berbicara langsung ke arah kamera, kepada pemirsa, seakan-akan pemirsa sedang berada di dekatnya dan ikut menemaninya dalam petualangan. Dengan gambaran semacam itu, kita dibikin penasaran, petualangan apa saja yang menanti di depan.    Tetapi rasa penasaran itu harus kita akhiri segera. Buster adalah sosok anti-hero. Dia dicari oleh pihak berwajib, tetapi juga dianggap tidak pantas jadi penjahat oleh para penjahat.

Sosok yang tidak pantas jadi penjahat kemudian muncul juga di cerita kedua, Near Algodones. Koboi muda tanpa nama [James Franco] gagal merampok sebuah Bank, bersiap menerima hukum gantung, tapi diselamatkan secara tidak sengaja oleh para Indian Comanche, lalu dibebaskan oleh seorang penggembala yang ternyata sedang menggiring ternak curian. Kalau di cerita pertama kita mungkin tertawa kecil, di cerita kedua ini kita akan tersenyum getir. Sebuah satir atas absurdnya otoritas hukum di tengah medan liar para koboi hadir dengan akhir berupa suara tepuk tangan yang riuh.

Pada cerita ketiga, Meal Ticket, dikisahkan seorang pengusaha pertunjukan [Liam Neeson] bersama satu-satunya monologer yang dia punya, Harrison [Harry Melling], yang tak punya tangan dan kaki, berjalan dari satu kota ke kota lainnya untuk mengamen. Cerita yang disampaikan Harrison dalam pertunjukannya adalah gabungan dari puisi Percy Bysshe Shelley, kisah Habil dan Qabil, Soneta Shakespeare, serta pidato Abraham Lincoln. Penonton mereka sedikit dan semakin lama semakin sedikit di tengah musim dingin yang ganas. Hingga akhirnya si pengusaha memutuskan menggunakan “artis” lain, yakni seekor ayam yang bisa berhitung, yang dia beli dari pengusaha lain, untuk pertunjukannya. Di sini terkesan sindiran tajam betapa ‘seni tinggi’ tak diminati masyarakat yang lebih menyukai seni yang berdasar sensasi. Lalu akan dibawa ke mana monologer invalid, artis lamanya itu? Akhir cerita ketiga ini tampaknya takkan membuat kita tersenyum.

“Ah, tidak ada burung yang bisa berhitung.” Demikian ujar seorang penambang emas [Tom Waits] dalam cerita keempat, All Gold Canyon, ketika dia mencuri telur burung hantu, sementara sang induk telur mengawasinya dari pohon lain. Penambang itu rupanya seorang ‘solois’, berburu emas sendirian di sebuah lembah yang luar biasa indah. Ketika dia muncul sambil bernyanyi, ikan-ikan menyingkir, kupu-kupu menjauh, burung hantu merinding, dan kijang yang sedang minum langsung terbirit-birit. Dia berusaha keras mendapatkan emas dalam jumlah banyak, namun ketika usahanya berhasil, seorang koboi muda menembaknya dari belakang. Dalam cerita ini pemandangan alam yang bersih, hijau, dan indah terpampang lewat sorot-jauh maupun dekat. Lantas kita disugesti untuk membayangkan bagaimana alam itu nanti hancur ketika emas mulai ditemukan.

Cerita kelima, The Gal Who Got Rattled, adalah yang paling tragis di antara yang lainnya. Berkisah tentang dua bersaudara Alice [Zoe Kazan] dan Gilbert Longabaugh [Jefferson Mays] yang bersama rombongan wagonnya bergerak melintasi prairi menuju Oregon. Gilbert konon punya bisnis baru di sana beserta seorang rekan yang rencananya akan dinikahkan dengan Alice. Di tengah jalan, Gilbert mati karena kolera. Masalah muncul ketika Alice tak tahu di mana Gilbert menyimpan uangnya untuk membayar Matt, orang yang disewa untuk memimpin rombongan. Pelan-pelan terkuak duga bahwa besar kemungkinan semua yang diceritakan Gilbert hanya omong kosong belaka. Untung ada Billy Knapp [Bill Heck], salah seorang pengawal, yang baik hati mau membantu Alice. Ketika masalah kian rumit, Billy, yang sopan dan takzim itu berniat menyelesaikan masalah dengan cara melamar Alice. Billy, dengan kikuk, menyampaikan lamarannya dan tidak begitu berharap akan diterima, tetapi Alice menerimanya. Billy punya rekan, yang sekaligus juga mentornya, Mr. Arthur [Grainger Hines], yang dikesankan kurang suka dengan rencana Billy. Kesan kurang suka ini nanti akan menjadi masalah, ketika dalam perjalanan mereka, sekelompok orang Indian muncul. Kita berdebar-debar menanti bagaimana akhir cerita ini.

Namun kita harus bergerak ke cerita terakhir, The Mortal Remains, yang sedikit sureal dan metaforis dengan impresi revisionis. Lima orang penumpang kereta kuda menuju Fort Morgan, Colorado; Thigpen si Inggris [Jonjo O’Neill], Clarence si Irlandia [Brendan Gleeson], Rene si Prancis [Saul Rubinek], Mrs. Betjemen [Tyne Daly], serta si pemburu [Chelcie Ross], terlibat dalam percakapan dan lalu perdebatan tentang manusia dan cinta. Kita mendapat kesan bahwa kereta yang mereka tumpangi adalah kereta kematian, dilihat dari si kusir yang tak ditampakkan rupanya dan keterangan bahwa kereta tidak bisa dihentikan sebelum sampai tujuan. Kereta kemudian berhenti di depan sebuah hotel. Si Inggris dan si Irlandia menurunkan sesosok jenazah dari atas kereta dan membawanya masuk ke hotel, dibantu oleh kusir. Lalu ketiga orang lainnya menyusul dengan ragu-ragu.

Keenam cerita dalam film antologi ini sama-sama berbicara tentang kematian, tetapi tidak dengan cara yang dramatis atau mengerikan. Humor adalah unsur utamanya. Humor muncul baik dalam plot, karakter, dialog, maupun polilog. Untuk hal ini, Ethan dan Joel Coen memang tak perlu diragukan lagi. Kecenderungan mereka memilih komedi-gelap sejak awal karir menjadikan mereka berdua sutradara jaminan mutu. Mereka cermat mengaduk-aduk dua unsur, tragedi dan komedi, dalam adegan-adegan minor, yang membuat kita kadang tak tahu harus tersenyum atau menangis.

Dengan unsur humor yang kuat, Coen bersaudara mengajak kita melihat bahwa misi Gold, Glory, and Gospel yang mengawali supremasi kulit putih itu, bukan hanya menghancurkan alam dan memusnahkan penduduk asli, tetapi juga memakan diri sendiri. Kematian-kematian konyol dalam pengejaran akan kekayaan [Gold] muncul dalam cerita Meal Ticket dan All Gold Canyon, sedang kematian-kematian konyol dalam upaya mencapai kejayaan [Glory] muncul dalam cerita The Ballad of Buster Scruggs dan Near Algodones. Sementara itu, ketaatan pada agama tak membebaskan manusia dari kebodohan yang membawa pada kematian konyol pula, seperti tampak dalam cerita The Gal Who Got Rattled dan The Mortal Remains.

Lebih luas lagi keenam bagian film ini juga mengantar kita untuk menyadari bahwa kematian bisa hadir baik di tanah kering berdebu, di musim dingin membeku, maupun di lembah hijau nan indah. Jadi sebaiknya kita melihat kematian dengan semangat humor, sebab, seperti yang diperdebatkan oleh lima penumpang kereta dalam cerita terakhir, hanya ada dua jenis manusia, -dan yang dua itu banyak sekali jenisnya-; alim dan pendosa, pemenang dan pecundang, hidup dan mati…***

 

Keterangan Film

Judul : The Ballad of Buster Scruggs

Produksi : Annapurna Pictures dan Mike Zoss Productions

Sutradara dan Penulis Naskah : Joel Coen dan Ethan Coen

Pemain : James Franco, Brendan Gleeson, Liam Neeson, Tom Waits dll.

Durasi :  133 menit

Dirilis : 9 November 2018

Kiki Sulistyo
Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *