pewarta: Robbyan Abel Ramdhon

On Stage 21: Titik Kumpul telah selesai digelar dengan acara penutup Bincang Kreatif bersama para sutradara teater pada Kamis sore, 26 Agustus 2021. Sebelumnya, Titik Kumpul dibuka pada tanggal 23 dengan rangkaian pertunjukan teater oleh kelompok-kelompok teater yang berasal dari berbagai daerah di NTB, ditambah satu berasal dari NTT. Penting diketahui, acara ini diinisasi oleh Insomnia Theater bekerjasama dengan Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai respons atas upaya para pegiat teater dalam menemukan bentuk gagasan dan pola evaluasi baru saat menghadapi pandemi covid-19.

Selama mengikuti acara –  setidaknya bagi kami – kami tersadar bahwa gerakan teater selama masa pandemi adalah kelompok yang paling sulit mendapatkan ruang eksistensinya. Peristiwa teater tidak hanya dialami oleh orang-orang di atas panggung (dan di belakang), juga sesungguhnya melibatkan para penonton. Dalam acara Titik Kumpul, pelaku teater dan penonton teater seakan menemukan keutuhannya kembali dalam pengertian ‘peristiwa teater’ yang sesungguhnya. Sebentar, selama empat hari acara Titik Kumpul digelar, kita pun bisa melihat kembali silau eksistensi teater di NTB.

Corak Kebudayaan

Titik Kumpul yang menghadirkan mayoritas pertunjukan bertemakan tradisi memberikan kita gambaran tentang corak perkembangan kebudayaan di Nusa Tenggara sekarang ini. Lebih-lebih bagaimana corak itu terbentuk mulai dari titik sejarahnya hingga menjadi respons atas situasi sekarang.

Teater Tastura yang mementaskan pertunjukan Koran, bercerita tentang laku-laku moral di tengah masyarakat lokal melalui konflik tokoh yang hubungan asmaranya mendapatkan sorotan media secara tidak sengaja. Sorotan media yang begitu khusus ini pun akhirnya mempengaruhi jalan hidupnya. Pementasan ini mirip refleksi bagaimana sekarang seseorang tindak-tanduknya secara langsung maupun tidak langsung telah dipengaruhi media.

Teater 16 yang mementaskan pertunjukan Burung Firdaus, mengisahkan suatu alegori yang diadaptasi dari kisah Adam dan Hawa. Pertunjukan ini sekaligus adaptasi dari teks puisi Kiki Sulistyo dengan judul yang sama. Upaya menerjemahkan teks sastra menjadi gerakan metafora di atas panggung tentu adalah satu hal lain yang menandai kecanggihan teater NTB saat ini.

Himla (NTT) yang mementaskan pertunjukan Dopi, merupakan kilasan sejarah perang saudara di NTT, sebelum akhirnya perang yang mesti “tumpah-darah” itu diganti kemudian menjadi pertandingan sepakbola. Dalam pertunjukan alur sejarah ini, Dopi juga menggambarkan bagaimana kebudayaan berhasil mengidentifikasikan tubuh budaya, properti budaya, dan tradisi budaya sebelum berperang. Sehingga sulit bagi kita untuk tidak mengatakan bahwa pertunjukan ini “sangat NTT” sekali.

Kampoeng Baca Pelangi yang mementaskan pertunjukan Maling, secara tidak langsung, berusaha menyadarkan kita betapa “maling” tidak lebih dari fenomena yang terbentuk dari dampak kemiskinan. Sehingga konsep maling dalam pementasan ini, dikonstruksi tidak sekadar bentuknya, melainkan juga esensinya. Unsur komedi lokal yang terlibat di dalam pementasan, dengan simbolik mengatakan bahwa fenomena (maling) tersebut masih berada – dan kental – di sekitar kita.

Teater Biru09 yang mementaskan pertunjukan Perang Ngali 1908, merupakan pertunjukan sejarah yang menggambarkan situasi konflik kekuasaan antara Belanda dengan penguasa di Bima, yang karena konflik tersebut rakyat menerima imbasnya berupa kerugian-kerugian ekonomi. Menyadari kerugian ini, bibit-bibit perlawananmu mulai tumbuh dan meledak menjadi gerakan revolusioner. Pementasan ini tentu bisa menjadi metode alternatif dalam menyampaikan cerita sejarah, mengingat betapa sulitnya kita menemukan arsip sejarah yang membahas peristiwa-peristiwa seperti ini. Pementasan ini juga akan memberikan kita bayangan betapa Belanda telah mempengaruhi banyak sekali laku-laku kekuasaan di Bima hingga saat ini.

Mime In Lombok yang mementaskan pertunjukan Work From Home, merupakan respons pantomim atas situasi pandemi yang membuat orang-orang bergerak dalam lingkup sempit (work from home). Pementasan Work From Home secara sarkas telah menggelitik kesadaran kita, bahwa dampak pandemi telah membuat manusia terjebak dalam pola-pola yang monoton dan membosankan. Untuk menanggulangi efek psikis yang buruk dari keterjebakan ini, Work From Home mengajak kita untuk menertawakannya.

Taman Budaya NTB

Gerakan teater di NTB bagaikan mutiara di dalam lautan. Teater, tidak hanya dibebankan oleh stigma bahwa mereka adalah pasukan penghibur, mereka juga dibebankan oleh misi-misi teater yang edukatif sekaligus harus disampaikan secara estetik. Mundurnya teater dari barisan responsif dan memudarnya pengawasan mereka dalam melihat corak kebudayaan, merupakan kekhawatiran yang serius untuk diperhitungkan. Kehadiran gerakan teater untuk saat ini, sangat dibutuhkan untuk membantu kebudayaan kita dalam melihat identitasnya di atas panggung. Mengingat identitas dan kebudayaan adalah dua hal yang paling rawan runtuh di tengah era kebaharuan yang begitu cepat, dan kita takut kehilangan keduanya (?).

Mengutip perkataan seorang teman setelah menonton pertunjukan Dopi: “Memang begini harusnya Taman Budaya, bukan hanya ‘taman’-nya saja yang dirawat, tapi juga ‘budaya-nya’ (difasilitasi).”

 

Salam Budaya!

Viva!

lasingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *