Pada hari Minggu, tanggal 5 September 2021, saya berangkat menuju Eco School Nusantara, daerah Sengkol, Kabupaten Lombok Tengah. Di sana, tampak rekan-rekan dari Eco School Nusantara dan Komunitas Earth Hour Mataram, yang rupanya sedang berkolaborasi mengurusi kebun milik Eco School Nusantara. Kedatangan saya disambut dengan hangat oleh mereka. Melalui Eliyan, kemudian saya bincang-bincang cukup banyak tentang Eco School Nusantara dan bentuk kerjasama mereka dengan Komunitas Earth Hour Mataram.

Eco School Nusantara adalah sebuah rumah atau wadah belajar bersama yang memiliki konsentrasi pada tiga bidang: education, economic, and environment. Awal mula rumah atau wadah belajar ini terbentuk ialah ketika Lombok Eco International Connection mencari rekan-rekan volunteer  untuk memulai sebuah gerakan; kemudian LEIC bertemu dengan Komunitas Nusa Tenggara for Nusantara. Singkat cerita, pertemuan itu kemudian melahirkan Eco School Nusantara. ESN juga membuka kelas-kelas serta membantu masyarakat untuk memperbaiki daya saing ekonomi. Di antara kegiatan-kegiatan itu, salah satunya adalah program Lihat Kebunku.

Program Lihat Kebunku merupakan program alternatif dari Eco School Nusantara yang bertujuan memantik kesadaran kolektif masyarakat bahwa berkebun bisa memberi dampak positif dalam upaya pelestarian dan penjagaan alam serta mampu memberi keuntungan secara materil kepada masyarakat—terlebih daerah Sengkol, banyak sekali ladang atau perkebunan yang belum diurus secara optimal.

Karena program Lihat Kebunku belum memunculkan hasil yang massive, Eco School Nusantara pun mengajak Komunitas Earth Hour Mataram untuk berkolaborasi dalam program ini. Ibarat pucuk dicinta, ulam pun tiba, Komunitas Earth Hour Mataram yang juga memiliki perhatian lebih soal pelestariaan dan penjagaan alam, menyetujui tawaran dari Eco School Nusantara.

Komunitas Earth Hour Mataram, melalui bung Wibi, menjelaskan alasan menyetujui tawaran itu; “karena memang kita tau ESC juga bergerak di bidang yang cukup mirip dengan kita, maka terciptalah kolaborasi ini.” Wibi juga menjelaskan soal kurangnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan, akan memberikan dampak yang sangat buruk kedepannya bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk dan alam.

Juga soal pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika; pasti akan berpengaruh kepada alam dan makhluk hidup. Poin terakhir, ialah sebagai percontohan kepada masyarakat tentang: berkebun membuat ketahanan pangan menjadi stabil. Nanti, seandainya terjadi bencana alam, masyarakat tidak terlalu bergantung lagi pada bantuan yang biasanya datang terlambat.

Mengenai kapan program ini akan selesai, baik bung Wibi atau  Eliyan, tak mampu memberi jawaban yang konkrit. Karena bagi mereka, berkebun tak bisa dilakukan dengan gegabah atau asal-asalan. Dibutuhkan konsentrasi dan kesabaran yang cukup tinggi sehingga tercipta hasil yang memuaskan. Harapan dari Eco School Nusantara dan Komunitas Earth Hour Mataram ialah terciptanya proses diskusi dan transformasi ilmu maupun gerakan tentang bagaimana merawat alam dan mencintai lingkungan. Kemudian, bincang-bincang kami, kian asyik sebab diselingi teh, kopi, serta aneka kudapan.

Apakah kemudian gerakan-gerakan kecil macam Lihat Kebunku yang digagas oleh Eco School Nusantara dan kemudian bekerjasama dengan Komunitas Earth Hour Mataram ini mampu konsisten untuk terus bergerak? Itu persoalan yang mungkin perlu dibahas lain waktu.

Avatar
Latest posts by Gilang Sakti Ramadhan (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *