Bayangkan kita melihat sebuah objek di dalam cermin tapi kita tidak bisa melihat objek aslinya di luar cermin. Kita mungkin tetap percaya bahwa cermin tidak berdusta, sebab cermin cuma punya satu tugas, yakni memantulkan.

Begitulah, kita percaya bahwa istri Tuan Chow [Tony Leung] dan suami Nyonya Su [Maggie Cheung] telah berselingkuh, sebab Tuan Chow dan Nyonya Su memberitahu kita. Mereka berdua seperti pantulan di dalam cermin, sementara pasangan-pasangan mereka adalah objek asli yang berada di luar cermin. Celakanya, kita tidak bisa melihat objek asli tersebut karena keduanya tidak dihadirkan oleh Wong Kar-wai sebagai sutradara dalam In The Mood For Love [2000] ini.

Cermin diletakkan di hadapan kita, ketika Tuan Chow dan Nyonya Su pindah ke apartemen yang sama pada hari yang sama. Apartemen itu sempit sehingga nyaris tak dimungkinkan adanya ruang privasi, kecuali di kamar masing-masing. Sempitnya bangunan apartemen itu dihadirkan oleh kamera dengan realistis, bukan hanya melalui tangkapan atas ruang dan objek, tetapi juga melalui persentuhan manusia di dalamnya. Sewaktu Tuan Chow dan Nyonya Su memindahkan barang-barang dari tempat lama mereka, para buruh pengangkut kerap keliru, mengira barang Tuan Chow adalah kepunyaan Nyonya Su, begitu pula sebaliknya.

Seluruh aktivitas penghuni apartemen –kapan mereka keluar, kapan mereka pulang, apa yang mereka makan, dan sebagainya-juga tak luput dari pengetahuan si induk semang, Nona Suen. Apartemen itu seperti membentuk masyarakat mini dengan moralitas sebagai dinding-dindingnya. Sejak adegan-adegan awal, kita sudah mulai melihat munculnya situasi diskoneksi; sesuatu yang sering diangkat Wong Kar-wai dalam film-filmnya.

Diskoneksi terus hadir sepanjang film, sementara kamera dengan intensitas yang tinggi kerap menangkap detail-detail yang merupakan manifestasi dari hasrat akan cinta yang dipendam habis-habisan; sentuhan jari-jari pada benda, ekspresi-ekspresi antara melepas atau menahan, lekuk dan gestur tubuh yang ditajamkan. Diskoneksi juga segera menular ke pemirsa, ketika tanpa tanda terlebih dulu, Tuan Chow dan Nyonya Su ‘memerankan’ pasangan mereka masing-masing. Kita terputus dengan konteks percakapan ketika Nyonya Su bertanya pada Tuan Chow, apakah si Tuan punya selingkuhan. Kita baru sadar beberapa saat kemudian, bahwa keduanya sedang berusaha menjadi pantulan, menunjukkan pada kita objek asli yang berada di luar cermin dan tak pernah kita lihat. Namun koneksi yang sudah kita upayakan itu diputuskan lagi di sejumlah adegan berikutnya, sehingga kita tak sungguh-sungguh tahu, atau setidaknya mulai ragu-ragu, benarkah mereka sekadar pantulan, atau sebenarnya mereka adalah objek asli yang sedang menata diri supaya kita bisa membayangkan pantulannya?

Bagaimana kalau sebenarnya pasangan-pasangan mereka tidak berselingkuh? Kalau pun mereka selalu keluar di waktu yang sama, berada di kota yang sama, dan punya barang-barang yang sama, semata karena kebetulan yang tak bisa dihindarkan di tengah kepadatan manusia dan sempitnya ruang di Hongkong tahun 60-an, sebagaimana kebetulannya tokoh-tokoh kita ini pindah ke apartemen yang sama di hari yang sama? Kita tidak akan pernah tahu, sebab sekali lagi, dari dua belahan cerita itu, kita hanya diperlihatkan satu belahan saja; kita mengalami diskoneksi ke belahan lainnya. Apalagi Wong, sebagai sutradara, lebih punya kesenangan mengeksplorasi visual, ketimbang cerita, serta cenderung membuat plot makin lama makin kabur, lewat lompatan ruang dan waktu yang begitu cepat di bagian-bagian akhir film.

Namun cara tersebut, tak pelak, memberikan film ini kemampuan untuk menghadirkan tema kuno: cinta dan perselingkuhan, dengan cara yang jauh dari klise. Kita tahu, sesuatu yang klise tidak akan membuat kita bertanya-tanya. Tuan Chow dan Nyonya Su menolak berselingkuh, meskipun mereka sudah sedekat air dan rasa haus. “Kalau kita berselingkuh, kita sama saja dengan mereka,” begitu kata Nyonya Su. Tetapi kita bisa melihat itu sebagai retorika, artinya bukan soal moralitas, melainkan soal penolakan itu sendiri. Pantulan itu membantah cermin, pantulan tak selalu sama dengan objek aslinya. Kita tahu itu mustahil, tetapi menjadi masuk akal, jika kita hanya bisa melihat salah satunya; objeknya atau pantulannya saja. Bukankah sering terjadi, di depan cermin kita mengusap-usap wajah seakan tidak percaya bahwa kita tidak seideal yang dibayangkan? Itu bisa terjadi lantaran kita tak bisa melihat wajah sendiri tanpa bantuan cermin. Pada momen itu kadang kita percaya bahwa cermin di hadapan kita sedang berdusta.***

 

Data Film:

Judul: In The Mood For Love

Sutradara: Wong Kar-wai

Penulis Naskah: Wong Kar-wai

Pemain: Tony Leung, Maggie Cheung

Tahun: 2000

Durasi: 98 Menit

Kiki Sulistyo
Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *