Permulaan bulan lalu, sebuah pesan masuk ke email saya; yang pada intinya pesan tersebut hendak mengarahkan saya untuk mendengar musik berjudul ‘Menanti Kata’ karya Mirakei. Selama pandemi, saya merasa produktivitas para musisi kian masif, bila dibandingkan saat sebelum pandemi. Setidaknya demikianlah yang saya buktikan semenjak email saya dibanjiri permintaan untuk mengulas karya tertentu.

Mirakei awalnya saya pikir tidak lebih dari bagian dari euforia bermusik saat ini. Namun perasangka saya segera patah pada menit pertama memutar Menanti Kata. “Musik ini digarap serius,” batin saya.

Garapan serius yang saya maksud ialah bukan sekadar ‘bagus’ dan ‘jadi’. Pasalnya, sekarang begitu mudah menemukan musik bagus di gelanggang bunyi Indonesia. Yang sulit ialah menemukan musik dengan dobrakan bahasa puitik nan filosofis; lirik yang utuh (diciptakan untuk dinyanyikan), bukan kata-kata yang diambil dari bahasa tutur lalu dipaksa menjadi lirik semata – semacam lirik-lirik yang sering kita dengar berbunyi: Maafkan aku / tak akan kuulangi lagi kesalahanku / aku mencintaimu / dan sebagainya-dan sebagainya. Klise.

Musik Menanti Kata karya Mirakei didominasi corak warna jazz. Kelincahan terumpet, strategi ragtime, tempo ketukan drum yang mengikuti rima, sementara lirik bernuansa liris membuat kita terbentur paradoks seakan-akan berada di tengah ketegangan sirkus saat para penonton menahan sedih melihat seekor gajah dipaksa dengan pecut agar berdiri menggunakan dua kaki. Kendati menyiksa, siapa yang tak bertepuk tangan melihat gajah berdiri dengan dua kaki sementara belalainya sibuk memainkan bola berwarna pelangi.

Duhai pujaanku / lelah kutunggu sapamu / demi sekerling lirikmu / lembut simpul senyummu / tiada kata yang secantik parasmu.

Bila kita masih mau membaca Menanti Kata menggunakan analogi sirkus, maka musik ini memang sedang bergenit-genit dengan bunyi dan lirik. Memang, semakin genit aliran bunyi sebuah musik, kita dapat menyangka bahwa penguasaan nada penciptanya amatlah luas. Namun tentu tidak demikian dengan lirik. Mirakei saya kira, di dalam kegenitan juga kehati-hatiannya memainkan atraksi kata, ada logika bahasa yang sedang dipertaruhkan di tiap baitnya.

Reka cerita / laksa prosa tanpa cela / haturan rasa cinta / puisi indah nirmala / cinta khayal mengawang tanpa terhingga.

Permainan hiperbolis dan ragam metafora membuat arti dari lirik-lirik yang disusunnya menjadi nyaris bertabrakan seolah-olah setiap lariknya terikat pada tali yang lemah dan siap berdiri sendiri untuk membicarakan sesuatu yang berbeda-beda. Namun keberanian puitik ini tentu harus tetap diapresiasi. Di tengah oase permainan kata para musisi lain yang sedang asyik bermain canggih-canggihan bahasa, Mirakei mengambil posisi tegas dengan membedakan muatan kontennya melalui tema romansa khas melayu. Sesuatu yang pernah terjadi di Indonesia dan telah lama ditinggalkan.

Mirakei, satu dari musisi di tengah samudra bunyi Indonesia yang membawa ombak melayu berakulturasi barat, pantas untuk ditunggu karya selanjutnya. Saya kira, bila Mirakei bertahan pada semangat puitik ini, kelak ia akan berhasil membangun karakter musiknya menjadi lebih utuh dan berbeda.

Seribu bahasa / batin hening tenang semata / menanti kata-kata / dalam terang cahaya / sejumput asa semesta asmara.

Robbyan Abel R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *