foto: Alfian Romli

Seri foto ini merekam bagaimana Pondok Pesantren bertahan selama pandemi.

*

Pada bulan Ramadan lalu, saya mencoba pengalaman hidup sebagai santri di Ponpes Nurul Haramain untuk ikut merasakan situasi pandemi bersama mereka. Perjalan saya dimulai di minggu kedua bulan Ramadan. Dipandu oleh kawan saya Bachtiar Husaini yang sudah tujuh tahun nyantri, hari itu 15 April 2021, setelah salat tarawih saya berangkat menembus dinginya malam, dari Gunung Sari (Lombok Barat) menuju Madani Super Camp (bagian dari Ponpes Nurul Haramain), tempat kawan saya Bachtiar mengabdi menjadi guru tutor bahasa asing.

Lokasinya yang berada di dataran tinggi Narmada, tepatnya di dusun Lembah Suren, desa Sedau, Lombok Barat, menjadikan suasana tempat ini begitu dingin hingga rasa-rasanya angin telah menembus lapisan terdalam kulit saya.

Saya dibesarkan oleh keluarga yang jauh dari lingkungan pesantren, hingga sesampainya di Madani Super Camp, saya pun butuh waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan diri dengan para santri. Kata kawan saya Bachtiar, untuk lebih mudah berbaur di tempat ini, kamu hanya butuh satu hal: “Sarung”, dan saya tidak membawa satu pun sarung dalam tas saya ketika itu. Beruntungnya Bachtiar punya cadangan sarung untuk saya gunakan. Bahkan jumlah sarung milik Bachtiar, lebih banyak ketimbang jumlah celana yang dimilikinya. Dalam hal ini saja, kiranya kita tak perlu meragukan level kesantrian Bachtiar.

Saya melihat semua orang di lingkungan Ponpes hidup dalam keteraturan, setiap kegiatan ada waktunya; mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Makan, ibadah, belajar, dan istirahat, pokoknya semua ada waktunya.

Sementara itu, seiring pandemi, kunjungan wali santri yang dulunya bisa datang seminggu sekali untuk sekedar bertatap muka dengan anak-anak mereka, sekarang menjadi kunjungan yang terbatas; mereka cuma boleh bercakap-cakap sebentar atau mengirim makanan dari celah-celah pagar pondok.

Mula-mula saya di sana, saya disambut segudang pertanyaan yang harus saya jawab untuk memenuhi rasa penasaran kawan-kawan santri, tentang alasan saya berada di sana. Semua ini dilakukan dalam konotasi keakraban. Misalnya, mereka juga bertanya mengenai hal-hal remeh-temeh seperti nama, asal, usia, hingga yang paling remeh lagi; apakah saya memiliki seorang kekasih?

Sedangkan saya hanya memiliki satu pertanyaan – dan selalu saya ulang-ulang – setiap kali mengobrol dengan mereka: “Bagaimana cara kalian bertahan di tempat ini”?

Jawabannya pun beragam. Ada yang menjawab: “Teman-teman saya membuat saya nyaman berada di sini. Tingal di mana saja, saya bisa, asalkan bersama mereka.” Ada juga yang menjawab: “Saya banyak bermain dengan mereka, dan pas lagi main, saya (jadi) enggak kangen rumah.” Hingga salah satu dari mereka memberikan jawaban yang paling melekat dalam ingatan saya sampai hari ini: “Kami hanya perlu melakukan semuanya (kegiatan) dari hari ke hari, sampai  kami lulus nanti.”

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *