Setelah merilis single pertama, “Skiffle ‘N Blues”, yang bisa disebut sebagai kredo bermusiknya, Paris Hasan kembali merilis single, bertajuk “Apple ‘N Snake”. Well, kita melihat adanya kesamaan dari dua judul tersebut. Huruf “‘N” yang memisahkan dua kata pada kedua judul tersebut, saya kira bukan sekadar stilisasi dari kata “and” (dan). Stilisasi ini bisa juga dilihat sebagai kode,  bahwa huruf tersebut bukan cuma berarti “and”, melainkan juga “in”. Dan jika “and” dileburkan dengan “in”, maka ia dapat melahirkan kode semantik “in-between” (di-antara).

Jika “in-between” dalam “Skiffle ‘N Blues” merujuk kepada sikap dan/atau pilihan (ber)musik, maka pada “Apple ‘N Snake” kita juga bisa melihat itu di dalam liriknya.

Tentu tak elok membicarakan lirik lagu tanpa membicarakan pula musiknya. Sebab lirik lagu bukanlah puisi. Berbeda dengan puisi yang independen, lirik lagu yang ditulis untuk musik bersifat dependen, karena berfungsi sebagai perangkat komunikasi bagi musik.

Sebagaimana kita ketahui, musik lebih cenderung sugestif, ketimbang komunikatif. Ada ungkapan umum yang sering kita dengar: “musik adalah bahasa universal”. Ungkapan ini tak merujuk kepada pengertian “bahasa” seperti yang kita kenal. Musik menjadi “bahasa universal” justru karena ia tak mengandung “bahasa”; tak ada kesepakatan bahwa satu nada tertentu punya pengertian tertentu sebagaimana yang terjadi dalam pengoperasian bahasa. Musik melompati dinding semantik untuk mencapai ruang sugestif. Dan sifat sugestif itulah yang universal.

Komposisi “Apple ‘N Snake” disusun dengan semacam tangga dramatik melalui pembabakan yang tak selalu tegas. Baik struktur musik maupun struktur liriknya tak menggunakan pola umum (variasi verse-bridge-chorus-coda) seperti yang nyaris selalu dipakai dalam musik/lagu pop. Tentu ini bukan hal baru, ini variasi dari struktur folk yang cenderung memakai banyak verse dengan satu chorus.

Dibuka dengan irisan gitar slide, yang disusul sayatan harmonika, “Apple ‘N Snake” menyodorkan intro yang tak pelak (dalam otak budaya massa saya) mengingatkan kepada tema-tema film western. Setelah intro semacam ini, biasanya akan muncul vokal serak dan berat; vokal yang, dalam kesan-dramatisnya, bukan cuma muncul dari sosok yang dihajar alkohol, melainkan juga digerus getirnya kehidupan. Tetapi, vokal Paris Hasan tak seperti itu. Seusai intro singkat tadi, kita masuk ke babak pertama di mana vokal Paris Hasan yang tipis bergerak mengikuti tempo perkusi, dan melagukan: 

Well i’m sick of relyin’ on anybody and betrayal/And i’d rather do it all alone/but my hat is off to you for your nice trial.

Masuknya vokal Paris Hasan membuyarkan bayangan “serak dan berat” dari manusia yang dihajar alkohol dan kehidupan. Meski musik tetap menghadirkan latar semacam itu, vokal Paris Hasan mengusik dengan kesan bahwa setelah diberi bayangan latar yang keras, yang muncul bukan seorang koboi sangar, kumal, dan mabuk, melainkan seorang anak-manis yang, karena berada di tengah-tengah latar keras itu, harus tetap diwaspadai sebab pastilah ia juga seorang anak yang berbahaya. Vokal Paris Hasan seperti memberi kesan hadirnya “sweet boy in the wild wild west”.

Lewat vokalnya, Paris Hasan memasukkan emosi sejak awal, terutama ketika ia mengucapkan kata “sick”. Emosi tersebut menandakan babak konklusi, sesuatu yang memang terlihat dari baris-baris lirik tersebut. Dalam struktur-dramatik, umumnya babak konklusi ada di bagian akhir, tapi tampaknya Paris Hasan hendak menggerakkan liriknya dengan alur-mundur.

Di tangga berikutnya, ketika instrumen kian melebarkan ruang, vokal humming masuk bagai jembatan kecil menuju stanza kedua:

Sometimes things get scrambled/But doesn’t mean that it’s miserable/Wind is blowin anyway, blow them all away like bubbles, hey!  

Stanza ini merupakan babak katarsis di mana sang subjek sampai pada pengandaian akan segala sesuatu yang, seperti gelembung, akan hilang ditiup angin. Tiba di sini, lirik belum membawa kita ke motif utama, yakni metafora apel-ular yang dijanjikan oleh judul.

Baru di babak selanjutnya, di mana cello masuk seperti ular yang merayap pelan, dan vokal humming mulai direpetisi, metafora utama umat manusia itu muncul dalam sifat tradisionalnya. Namun, dalam lirik ini, sifat tersebut kini berhadapan dengan subjek yang sadar. 

The pretty red apple’s in front of me/I know that i shouldn’t be stopping by/I keep in mind that i should keep goin’/Ain’t come this far to give up for such a thing//Hey look it’s hangin’ on the branch of the big shady apple tree/And i know it’s no good when i hear a sound/The snake’s comin’ out and rattling, oh boy!

Dua stanza di atas dilagukan di tengah-tengah instrumen yang saling membelit, seakan-akan cello tadi telah mengubah instrumen lain menjadi sekumpulan ular. Dua stanza ini juga menandai babak konflik yang tiba-tiba dihentikan saat musik juga dihentikan sejenak untuk sebuah jeda. Kemudian gitar dengan pola petik perkusif a la Johnny Cash masuk dan kita dibawa ke suatu klimaks, di mana kita bisa turut menyeru di belakang sang subjek.

Pola petikan yang riang ini turut mengantar masuknya choir yang menyeru kalimat yang sama dengan kalimat sang subjek. Choir di sini bergaya gospel, sehingga mengasosiasikan, sekaligus memberi, spektrum religi, sesuatu yang sudah pasti dekat dengan metafora yang dipakai. Bagian ini berjalan di atas dua undak bidang naik, dan berlangsung sebagai tangga akhir komposisi, sebelum ditutup dengan outro.

Di bagian outro, musik kembali menampilkan dominasi gitar slide, sementara efek yang diterapkan pada vokal Paris Hasan memberi kesan suara yang bersumber dari padang terbuka yang jauh dan gaib, semacam wahyu, yang berbisik: 

At the end of the day, the song remains the same/The pretty red apple’s just useless trick/ And the snake rattling for nothing. 

Dalam lirik “Apple ‘N Snake” ini, apel dan ular sebagai metafora hadir tanpa “pasangannya”: Adam dan Eva. Sebuah kisah tua, yang memberi tanda folklore pada lirik lagu, telah berganti subjek: seorang manusia (modern) yang memiliki kesadaran politis. Namun, sumber metafora tersebut, yakni religi, tetap hadir melalui pola choir-nya.

Secara utuh struktur komposisi musik “Apple ‘N Snake” seperti mengikuti struktur liriknya, tapi pola itu bisa juga dilihat dengan cara sebaliknya. Sementara dari aspek lirik, pola yang dipakai tak sepenuhnya merupakan pola liris, meski tak sepenuhnya pula bisa disebut pola naratif. Dilihat dari koherensinya, lirik “Apple ‘N Snake” menggunakan pola liris, tetapi dilihat dari kronologinya, lirik ini mengandung pula pola naratif.

Well, sebaiknya saya menyebut lirik “Apple ‘N Snake” ini (telah pula) menggunakan pola “‘N”; pola “in-between”, liris-naratif.

Sebagaimana kredonya, dalam dua single awalnya, (“Skiffle ‘N Blues” dan “Apple ‘N Snake”), rupanya Paris Hasan gemar bermain di wilayah “in-between”. Tetapi dibanding “Skiffle ‘N Blues”, sebagai single kedua “Apple ‘N Snake” terasa lebih berat. Tentu istilah “berat” dalam konteks ini bukan berarti kompleks atau rumit, sebab “Apple ‘N Snake” masih berdiri di atas nada dan tempo yang catchy; mudah ditangkap. Istilah “berat” di sini beroperasi dalam konsep  “in-between” tadi, dan untuk melihatnya lebih jauh, anda harus mendengarkannya.

Dengan dua single awalnya, Paris Hasan telah memberi tawaran tersendiri ke skena musik Indonesia yang, pasca runtuhnya rezim televisi, kini terasa lebih egaliter, beragam, dan kian terbuka untuk berbagai alternatif. Karena itu, setelah mendengarkan ”Apple ‘N Snake”, ada baiknya kita menunggu nomor selanjutnya dari Paris Hasan, mungkin dengan kandungan rasa penasaran, sebagaimana kita penasaran apa yang akan dilakukan protagonis kita, si sweet boy, di tengah-tengah kerasnya dunia wild wild west.***

 

 

Kiki Sulistyo
Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *