Mandalika telah menjadi primadona baru pariwisata di Lombok. Kawasan ini ditata sedemikian rupa untuk menambah kecantikannya. Pembangunan infrastruktur yang menunjang juga digencarkan. Misalnya dengan membangun Sirkuit MotoGp  yang menjadi salah satu upaya untuk menarik masyarakat dunia agar datang ke Madalika.

Kemajuan ekonomi adalah alasan dan tujuan utama Madalika dijadikan kawasan ekonomi khusus. Orang-orang akan datang berwisata, kemudian menginap dan berbelanja. Skenario ini tentu menarik jika dilihat untuk kemajuan ekonomi, bagaikan seorang biduan di atas panggung hiburan yang menarik perhatian para penonton. Pemangku kebijakan, pelaku pariwisata seperti hotel, para pedagang, tukang parkir dan banyak lagi; adalah kelompok utama yang diuntungkan dalam proyek ini.

Saya cendrung melihat cerita rakyat Putri Mandalika sebagai sebuah ramalan orang Sasak tentang Mandalika. Mandalika yang cantik akan menjadi rebutan banyak kekuatan. Di saat yang bersamaan, kecantikannya itu bisa saja membawa perpecahan, bahkan peperangan yang tidak disadari untuk tujuan-tujuan politik, kebudayaan hingga ekonomi. Korbannya tentu saja, adalah rakyat-rakyat kecil yang tidak punya kekuatan untuk terlibat selain sebagai yang terdampak.

Agak ngeri membayangkan masyarakat dunia akan berbondong-bondong membawa koper besar menuju kawasan Mandalika. Setelah datang mereka melihat peluang, kemudian memanfaatkan kesempatan untuk membangun tempat usaha, membeli tanah dengan meminjam nama orang lokal seperti yang sedang dan pernah terjadi di tiga Gili. Kita bisa berasumsi begitu, sebab presentase kemungkinannya terjadi juga cukup besar bila melihat tren ekonomi global yang mengarah ke Asia.

Tanah mulai menjadi mahal dan akibatnya, warga lokal didesak iming-iming penjualan. Mereka terjerat oleh siasat pembangunan semacam  ini, sehingga memaksa mereka untuk menjual tanah, yang selama ini memberi penghidupan pada mereka.

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Mandalika untuk menemui kerabat di sana. Rumahnya berlokasi tidak jauh dari pantai. Saya sering menitipkan kendaraan di tempat kerabat itu. Misalnya saat tradisi bau nyale atau hanya sekadar datang untuk menikmati keindahan pantai Mandalika. Kini rumah kerabat itu sudah berubah menjadi area lintasan balap. Tanah beserta rumahnya harus dijual karena berada dalam area kawasan ekonomi khusus. Tempat yang penuh kenangan masa kecilnya itu terpaksa ditinggalkan untuk pindah ke tempat baru. Keluarganya sempat menolak menjual tanah. Namun, oleh pihak-pihak yang terkait dalam proyek tersebut, tindakan mereka dianggap sebagai penghambat kemajuan.

Setiap pembangunan pastinya memiliki dampak baik dan buruk. Kita tidak boleh terlena dengan imaji tentang dampak baiknya saja namun juga harus memperhitungkan dampak buruknya untuk masyarakat dan lingkungan.

Semoga saja, Mandalika yang sekarang, tidak berakhir seperti kisah sang Putri Mandalika.

Avatar
Latest posts by Taufik Mawardi (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *