“Monyet-monyet di Pusuk seharusnya tidak boleh diberi makan,” adik saya selalu bilang begitu saat kami melintas di Pusuk. Akademisi di bidang konservasi hutan dan ekowisata itu sering mengeluh. “Itu akan memengaruhi kemandirian monyet dalam mencari makan di hutan. Mereka akan bergantung pada wisatawan. Padahal ekosistem hutan Pusuk ini sempurna.”

Telah sekian lama saya bolak-balik Lombok Barat – Lombok Utara lewat Pusuk. Saya tidak tahu arti harfiah Pusuk. Dugaan saya, pusuk sinonim dengan jalan berkelok-kelok yang membelah perbukitan penuh pohon. Ada dua Pusuk yang terkenal di Lombok: Pusuk barat, yang memberi masyarakat jalan pintas ke Lombok Utara, dan Pusuk timur, yang menjadi jalan menuju Sembalun.

Tidak banyak orang tahu bahwa jalanan Pusuk yang elok itu merupakan hasil kerja paksa. Saya pernah membaca literatur tentang romusha yang dibebankan Jepang pada rakyat Lombok untuk membangun jalur Pusuk demi memperkuat pertahanan, komunikasi dan distribusi logistik. Sebab, bila harus memutar lewat Senggigi, jaraknya menjadi dua kali lipat dan medan pun berat.

Pada Oktober lalu, pemerintah memutuskan untuk melakukan pelebaran jalan Pusuk. Entah siapa yang menang tender proyek tersebut; saya muak bahkan untuk sekadar mencari tahu. Namun jelas proyek pelebaran jalan dimaksudkan untuk mendukung pariwisata yang ramai. Dari ‘pusat pariwisata baru’ Mandalika, wisatawan pasti menyebar, menikmati keindahan di Pulau Lombok. Bila Pusuk tidak dilebarkan, akan terjadi kemacetan.

Pelebaran jalan Pusuk hanya berarti satu: pohon-pohon akan ditebang dan bukit yang menjadi dinding jalan akan dipapas habis. Proyek itu sempat ditentang masyarakat karena Amdal-nya bermasalah, sempat pula ditunda. Tapi pemerintah tetap maju. Saya tidak heran, ada uang besar di sana.

Sepanjang proyek dilaksanakan, Pusuk ditutup. Bila saya perlu pergi ke Lombok Utara, saya harus memutar lewat Senggigi yang berhawa panas.Sebetulnya itu tidak soal; kemangkelan saya bukan pada keharusan untuk berputar. Sebagai warga negara, kita perlu memaklumi proses. Tapi saya sering membatin pada masa-masa itu: mungkin saya takkan menemukan jalan berkelok dengan kanopi pohon. Saya takkan lagi merasakan “Kerimbunan”.

Saya pergi ke Lombok Utara lebih sering di malam hari. Saya berangkat jam sembilan malam, pulang jam dua atau dua seperempat pagi. Saya pergi mengaji pada seorang sepuh yang telah meninggal dunia bulan Juni lalu. Lampu jalan di jalanan Pusuk lebih sering mati. Kadang saya kuatir bertemu dengan ular gaib yang, konon, berukuran sangat besar dan sering lewat dari hutan atas ke hutan bawah. Monyet-monyet sedang tidur di jam-jam itu.

Setiap kali saya lewat di tikungan Gunung Malang yang tajam itu, saya selalu mengucapkan salam. Guru saya bilang di pojok tikungan itu ada masjid dan pemukiman muslim. Saya sendiri pernah melihat nyala terang obor yang banyak sekali, nun kejauhan di hutan dasar jurang Gunung Malang. Seperti ada masyarakat yang begawe di sana. Mungkinkah itu pemukiman jin? Banyak orang yang punya pengalaman mistis di sekitar Gunung Malang.

Tanggal 25 Oktober, di hari proyek pelebaran jalandijadwalkan selesai dan Pusuk kembali dibuka, saya memacu kendaraan ke sana. Dan saya sangat terkejut. Pelebaran jalan itu memapas bukit menjadi dinding-dinding tinggi bertingkat. Gunung Malang tiada lagi. Melihat konstruksinya, Pusuk dimaksudkan sebagai tempat yang terang dan ramai. Seperti Payung di Kota Batu. Kerimbunan telah hilang, berikut kisah-kisah di seputarnya.

Bagi saya, hilangnya Kerimbunan adalah masalah. Sesungguhnya Kerimbunan bukan tentang romantisme kanopi pohon, kisah mistis, dll. Kerimbunan adalah “rumah” bagi manusia, hewan, tetumbuhan, bahkan jin; rumah yang memberi ruang bagi semua makhluk untuk mengekspresikan fitrah; rumah yang memberi jaminan sumber daya. Namun, manusia memonopoli rumah itu demi kisah klasik economic growth. Apalah arti Kerimbunan di hadapan uang?

Dengan dipapasnya Pusuk, maka kian langkalah Kerimbunan. Sayangnya sistem ekonomi dan politik kita tidak berorientasi pada Kerimbunan. Kehendaknegara akan pemasukanlah, dan kehendak kapital untuk tumbuh, yang rupanya lebih ditakdirkan berjodoh.

Selamat jalan, Pusuk. Selamat jalan Kerimbunan.

Avatar
Latest posts by AS Rosyid (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *