Pewarta: robbyan abel ramdhon

Dalam proses kreatifnya menulis cerita pendek, Riyana Rizki menggunakan cerita rakyat (folklore) sebagai sumber penciptaan. Entah itu kerja-kerja re-konstruktif, dekonstruktif, atau alegori. Yang jelas, Riyana Rizki tidak menghilangkan pola-pola yang sudah ada dalam cerita rakyat tertentu sebelum “mereproduksi”-nya menjadi cerita pendek.

Acara Microfest tema Debut edisi pertama dibuka pukul dua puluh lewat sedikit, di Toms Garden coffee, pada Sabtu (25/12/2021).

Terdapat dua sesi pokok dalam rangkaian acara Microfest, pertama diskusi; kedua alih-wahana. Diskusi merupakan sesi yang menghadirkan sastrawan dan musisi untuk membicarakan hal-hal seputar proses kreatif, bagaimana mereka menghadapi wacana yang beredar di sekitar karya, hingga pada refleksi pra-produksi sebelum menghasilkan karya. Selanjutnya, musisi akan mempresentasikan hasil penafsiran mereka terhadap karya sastra yang dibicarakan melalui penampilan panggung (musik).

Diskusi dipandu oleh moderator Tara Febriani, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Mataram. Dalam pertanyaan pembukanya kepada Riyana Rizky, ia berusaha mengulik jejak kreatif penulis melalui apa-apa yang sudah dibaca penulis pada masa lalu. Riyana Rizky tidak kesusahan mengingat nama-nama penulis seperti Oka Rusmini, Eka Kurniawan, Okky Madasari, Sapardi, dan sebagainya yang sedikit banyak mempengaruhi. “Penulis-penulis yang bukunya sering kita temukan di toko buku,” jawab Riyana.

Perkenalan Riyana pada karya sastra “serius” dimulai saat dirinya menempuh pendidikan di Jogja pada kisaran tahun 2013. Namun jauh sebelum itu, perkenalannya dengan teks sastra, sudah berlangsung sejak ia masih berusia SD. Sebelum mengakui bahwa dirinya sering membaca buku-buku dongeng milik perpustakaan sekolah maupun yang dibelinya sendiri, Riyana menjelaskan, ketertarikannya terhadap folklor merupakan pengaruh besar dari Bapaknya. Bapaknya, yang menurut cerita Riyana, sering mengisahkan berbagai hal yang bahkan tidak selalu mengenai kisah-kisah tradisional, melainkan juga tentang benda-benda seperti botol, ingus, dan sebagainya.

Dan seiring waktu, perkenalan Riyana tidak hanya dengan sastra, juga dengan isu-isu sosial dan peristiwa sejarah, kelak membangun cara berpikir Riyana pada paradigma yang lebih kritis hingga mampu mengelaborasikan hasil konsumsinya tersebut dengan gaya kepenulisannya. Maka terlahirlah cerita pendek bergaya folklor dengan muatan ideologis-kritis.

Hampir sama dengan pertanyaannya kepada Riyana, Tara juga mencoba menggali akar bagaimana terbentuknya karakter musik yang dihasilkan Pelvist saat ini dengan menghubungkannya terhadap konsumsi musik mereka. “Pop,” jawab Rizky, singkat, personil Pelvist. Sementara Sani, juga personil Pelvist, memberikan jawaban yang lebih panjang. Ia menuturkan cerita bagaimana dirinya hidup dalam sebuah keluarga yang punya kecintaan terhadap musik; mulai dari ayahnya yang suka menyanyi dangdut, ibu yang vokalis kasidah, dan kakak yang suka main musik.

Berkaitan dengan genre musik kesukaan, Sani tidak memberikan jawaban yang spesifik. “Banyak, macam-macam,” katanya. Tetapi, “saya akan melihat musik dari liriknya dulu,” tambahnya. Kebiasaan Sani memperhatikan lirik sebagai pertimbangannya untuk mendengarkan musik tertentu membawanya pada Fiersa Besari. Meski bukan berarti Pelvist terpengaruh oleh Fiersa Besari, nama musisi itu muncul setelah Tara menambah pertanyaan mengenai musik yang paling berkesan menurut Sani. Dan untuk pertanyaan tambahan yang sama, Rizky menyebut Stars and Rabbit – yang menurutnya, mempunyai musik yang berjiwa. Bagi Rizky, setiap karya, baik musik maupun sastra, perlu melibatkan perasaan dan jiwa senimannya supaya bisa lebih mudah menyentuh pembaca atau pendengar. Sebagaimana visi filosofis dari nama Pelvist: menghubungkan; musik dengan pendengar (Pelvist: adalah tulang panggul yang menghubungkan bagian atas tubuh manusia dengan bagian bawahnya).

Berkaitan dengan melibatkan jiwa dalam proses berkarya, Riyana Rizky punya jawaban yang berbeda. Tara membahasakan pertanyaan mengenai jiwa atau semangat dalam karya itu sebagai “motor penggerak”. Bunyi pertanyaannya begini: “Dalam cerita pendek Riyana, apa yang menjadi motor penggeraknya: feminisme atau folklor?

Meski sempat kebingungan, Riyana Rizky menjawab: Saling mengisi. Feminisme mengisi folklor, dan folklor mengisi feminisme. Karena di antara mereka, selalu ada ruang kosong (celah) yang dapat menjadi tempat pertemuan keduanya.

Kemudian Microfest tema Debut edisi pertama ditutup dengan penampilan Pelvist yang mengalih-wahanakan cerpen Jangan pulang jika kamu perempuan karya Riyana Rizky. Cerpen yang bagi Pelvist terasa related dengan kehidupan sosial di sekitar mereka.

lasingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *