Pewarta: robbyan abel ramdhon

Microfest dimaksudkan untuk menghidupkan sirkulasi kreatif antara sastra dan musik. Sebab arus modernitas yang begitu pesat, mendesak mereka untuk berdiri sendiri seolah tanpa saling berkaitan, hingga menciptakan koloni antara yang dekat dengan sastra dan yang tidak dekat. Pengkolonian ini membuat subjek-subjek yang hidup di dalamnya, pada titik tertentu, menjadikannya subjek yang terbelah.

Sastra dan musik masing-masing berdialektika dengan caranya sendiri, namun bukan berarti keduanya tidak punya jalinan erat. Pada Minggu (26/12/2021), jalinan erat antara keduanya coba dibaca dalam sebuah diskusi bertajuk: “Membelah Subyek Puisi, Kenapa?” dengan dua pembicara utama; Wahyu Nusantara Aji (penyair) dan Better Than Us (kelompok musik), dipandu oleh M. Allan Hanafi yang sekaligus bertugas sebagai pemantik.

Dalam pengantarnya, Allan membaca bahwa puisi-puisi Wahyu Nusantara Aji dalam buku kumpulan puisinya Tamu Hari Libur (Halindo, 2021), berada dalam sikap post-modernis. Sikap ini terbaca dari cara pandang subjek aku yang cenderung pesimis dalam menghadapi modernitas. Saking pesimisnya, bisa sampai membuat orang tertawa saat membacanya, jawab Wahyu membenarkan analisis Allan.

Posisi puisi Wahyu yang terbaca sebagai puisi post-modernisme ini terekam dari jejak kehidupan personalnya sebagai subjek yang banyak mengalami transisi; transisi yang dipantik oleh lingkungan yang berubah-ubah – lingkungan yang jauh dari corak modern hingga terjebak di lingkungan yang modern berkembang.

Selain rekam kehidupan personal, Allan juga mencoba menggali pertanyaan mengenai para penulis yang mempengaruhi gaya kepenulisan Wahyu. Kemudian muncullah nama-nama seperti Goenawan Mohamad, Aan Mansyur, Sapardi, dari pengakuannya. Kemudian saat diminta memilih antara “lebih suka Aan atau Sapardi,” Wahyu menjawab: “Aan,” dan Allan pun terkejut. “Aan meneruskan Sapardi, jadi terasa lebih baru,” tambah Wahyu seakan membaca ekspresi keterkejutan pemantik.

Berbicara mengenai kebaruan, Better Than Us yang diwakili Hilal dan Vira mengatakan: “Semua bisa dipelajari, dan selalu ada hal baru yang ditemukan. Karena itu kita tidak pernah merasa lebih baik dari orang. Better Than Us,” katanya, menjelaskan latar belakang pemilihan nama kelompok mereka.

Diskusi berlangsung cair, Deddy Ahmad Hermansyah (penyair) bertanya kepada Better Than Us: “Apakah ini kali pertama kalian mengulik buku?”

Lantas dengan tegas Hilal menjawab ‘YA’ dilengkapi dengan pandangan-pandangannya mengenai dua puisi Wahyu yang akan dialih-wahanakan. Menurut Hilal, puisi Wahyu; “Menyedihkan seperti jarang ibadah.” – Tidak jauh berbeda dengan komentar Kiki Sulistyo (sastrawan) pada awal-awal terbitnya buku tersebut, bahwa buku ini kelewat pesimis sampai membuat pembacanya tertawa.

Uniknya, sifat sedih nan pesimis dalam puisi-puisi Wahyu ini justru menjadi tantangan baru bagi Hilal dan kawan-kawan. Sebab selama ini Better Than Us cenderung bermain dalam nada-nada mayor yang mengekspresikan kesenangan dan membawa sugesti untuk berjoget. Pertemuan mereka dengan puisi Wahyu tentu saja, akhirnya, menjadi pertarungan sengit sekaligus membuktikan, betapa karya sastra dan musik, meski bagaimanapun, tidak bisa dipisahkan. Hal ini pun dibenarkan oleh Vira, yang merasa baru saja menempuh perjalanan baru sebagai seorang vokalis perempuan dalam kelompok bergenre pop-punk tersebut, dan dihadapkan pada tantangan eksperimen musik-puisi.

Puisi-puisi Wahyu lahir dari rentang waktu yang berbeda-beda, tanpa melepas pandangan pesimis terhadap lingkungan yang diserapnya. Dia pun mengakui, mungkin, tempat-tempat seperti kampus yang sepi iklim sastra, personal yang kesulitan beradaptasi dengan modernitas, dan perpindahan yang cepat dari satu ruang sosial ke ruang sosial lain membuat pengamatannya yang terkesan sebentar, akhirnya membidani lahirnya subjek aku di puisinya dalam kondisi terbelah; kepesimisan terhadap kenyataan yang kini dan kepesimisan terhadap imajinasi yang ditawarkan modernitas.

Seperti hari pertama, Microfest tema Debut edisi kedua ditutup dengan penampilan musik, yang kali ini dilakukan oleh Better Than Us, yang mengalih-wahanakan dua puisi Wahyu Nusantara Aji: (1) Kita Kesedihan macam apa; (2) Pengasingan. Dan benar saja, musik yang dibawakan Better Than Us membuat para penonton berjoget, seolah lupa, bahwa mereka sedang merayakan kepesimisan.

lasingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *