Pewarta: Aliurridha

Malam ketiga Microfest (27/12/21) dibuka dengan gemuruh guntur dan hujan yang datang tiba-tiba. Tetapi itu tidak menyurutkan antusias peserta diskusi. Meski harus berkali-kali dipaksa pindah tempat duduk guna menghindari hujan, peserta tetap antusias mengikuti jalannya diskusi. Hujan tidak mengubah apa pun, kecuali menambah sendu suasana.

Seperti dua malam sebelumnya, acara malam itu tersusun atas dua rangkaian acara, yakni diskusi dan alih-wahana. Diskusi yang bertajuk, Problem Antar Imigran, di Mana Posisi Puisi? ini dipandu oleh Chaidir Amri sebagai pemantik. Diskusi ini menghadirkan Julia F. Gerhani Arungan yang merupakan penulis buku kumpulan puisi Ibuku Mengajari Bagaimana Mengisi Peluru sebagai pembicara, dan solois Nida Havia yang rupanya malam itu tidak datang sendirian; Nida ditemani oleh Galen Martadinata, seorang musisi yang juga menemaninya dalam proses pengalih-wahanaan salah satu puisi Julia.

Pada diskusi malam itu, pemantik yang juga merupakan peserta Akarpohon offschool untuk penulisan puisi, berupaya menggali titik awal Julia bersentuhan dengan sastra. Wanita yang mengaku sebagai pecinta puisi balada ini bercerita bahwa dia telah mulai membaca sejak SD. Dia merupakan pengunjung tetap perpustakaan di sekolahnya. Bahkan ketika menginjak bangku SMA, Julia telah membaca majalah Horison. Sedang untuk pertanyaan kapan pertama kali menulis; Julia mengaku telah mulai menulis sejak SMP, namun baru setelah kuliah dia mencoba lebih serius dalam menulis.

Pindah ke pemateri selanjutnya, pemantik bertanya sejak kapan Nida bersentuhan dengan dunia musik. Nida mengaku bahwa sejak kecil telah tertarik dengan musik. Namun, baru ketika SMA dia memberanikan diri untuk tampil.

Selanjutnya diskusi berkembang ke arah penggalian proses kreatif kedua pembicara. Dari sini diskusi menjadi semakin dalam. Pemantik berupaya menggali alasan mengapa Julia lebih memilih puisi yang berkisah tentang kehidupan para migran. Lewat diskusi ini diketahui bahwa semua berawal dari kisah perjalanan Julia yang menjadi guru Bahasa Inggris di Uni Emirat Arab, di mana kehidupannya bersinggungan dengan para imigran yang, menurut Julia, lebih berwarna dibanding dirinya.

Ada beberapa bagian yang menarik dari apa yang disampaikan Julia malam itu. Utamanya ketika dia menceritakan tentang pembagian kelas-kelas sosial, Julia kerap melakukan alih kode. Setiap kali menyebutkan kelas pekerja imigran, alih-alih melakukan pembagian kelas dengan menyebut pekerja kelas atas dan pekerja kasar, Julia menyebutkan white collar dan blue corall. Apa yang dilakukan Julia terasa sebagai upaya memperhalus. Hal ini memantik pertanyaan dari salah satu peserta diskusi: bagaimana sebenarnya Julia memandang para migran yang secara status sosial berada di bawahnya? Apakah ada kesadaran kelas ketika menulis tentang subjek dalam puisi-puisinya?

Julia mengaku tidak merasa berbeda dari para pekerja migran. Dia bahkan merasa lebih senang makan siang dengan para OB asal Filipina atau para migran asal negara-negara Asia Tenggara yang mendominasi pekerjaan-pekerjaan kerah biru. Kemudian dari penjelasan Julia didapat bahwa di Uni Emirat Arab banyak juga para ekspatriat asal Eropa. Mereka adalah warga kelas atas dan menengah. Hal ini menghadirkan tanya lain: tidak adakah warga kelas bawah berasal dari Eropa? Jika benar demikian, maka dapat disimpulkan bahwa pembagian kelas sosial tidak hanya meliputi antara migran pekerja kerah putih dan kerah biru, tetapi juga meliputi dari mana negara asalnya.

Selanjut diskusi berpindah ke pengalih-wahana. Pemantik bertanya bagaimana kesan Nida dan Galen ketika mengalih wahana puisi ke musik? Keduanya sepakat bahwa proses alih wahana puisi ke musik tidaklah mudah. Hal ini disebabkan adanya beberapa kata yang sulit ditafsirkan oleh pengalih-wahana. Selain itu pengalih-wahana juga tidak jarang kebingungan dengan maksud dari teks puisi Julia. Tetapi kesulitan itu bisa diakali keduanya dengan membuka KBBI. Kemudian ada pertanyaan dari peserta diskusi yang dialamatkan ke pengalih-wahana seputar geliat musik di Lombok dan bagaimana pendapat pengalih wahana sebagai musisi terkait Microfest.

Dari jawaban Nida dan Gelen, dapat disimpulkan, bahwa geliat musik di Lombok sedang berkembang, tetapi masih butuh dorongan. Lalu kehadiran Microfest menjadi semacam wadah baik yang bisa mendorong adanya kolaborasi dari pelbagai seni lintas medium.

Diskusi ditutup dengan pertanyaan pemantik terkait apa yang diharapkan Julia dengan puisinya dan di mana posisi puisi dalam isu migran. Pecinta puisi-puisi Rendra ini mengharapkan puisi dapat memberi eksposur terhadap pelbagai permasalahan sosial. Karenanya dia meyakini bahwa puisi tidak harus rumit agar bisa dinikmati pelbagai kalangan. Kemudian dalam isu migran ini puisi bisa mewartakan dan memberi kesadaran agar lahir diskusi terkait problema sosial yang tidak terbatas pada para penikmat sastra. Harapannya, tentu saja, puisi bisa menjadi pemantik untuk kritik sosial.

Acara malam itu ditutup dengan musik Nida dan Gelen yang mengayun lembut, seolah sedang melengkapi suasana sendu di tengah gerimis hujan. (*)

lasingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *