Pewarta: Aliurridha

Dengan mengusung tema Apa yang Sakral dan Apa yang Profan?, malam keempat Microfest digelar (28/12/21). Seolah tidak ingin melakukan dikotomi atas yang sakral dan yang profan, para pembicara kelihatannya tidak berusaha untuk menarik garis terang di antara keduanya.

Seperti malam-malam sebelumnya, ada dua sesi: diskusi dan pertunjukkan alih wahana. Namun tidak seperti malam-malam sebelumnya yang lebih terkesan serius, diskusi kali ini lebih banyak membuat para pengunjung Toms Garden Cafe tergelak. Meski begitu, tidak menyurutkan kematangan isi yang disampaikan para pembicara.

Sesi diskusi dipimpin oleh Nuraisah Maulida Adnani (Ais), alumnus program off-school Akarpohon untuk penulisan cerpen. Para pembicara dalam sesi diskusi ini adalah Rony Fernandez selaku penulis buku kumpulan puisi Homili dan keempat anggota band Pukulan Berapi Menyakitkan: Kharis (gitar), Damar (drum), Wire (bass), dan Oji (vokal). Tidak seperti malam sebelumnya di mana hanya dua anggota band yang maju untuk diskusi, Pukulan Berapi Menyakitkan membawa seluruh personil.

Diskusi dibuka dengan pertanyaan sejak kapan Rony Fernandez bersentuhan dengan dunia sastra/membaca. Rony menjelaskan dirinya telah akrab dengan bacaan sejak SD. Bacaan pertama yang bersentuhan dengannya adalah Lima Sekawan, Tabloid Bola, komik (manga?), dan Alkitab. Rony sangat bersyukur karena kakaknya sering membawakannya majalah. Sebagai seorang introvert, buku atau bahan bacaan buat Rony adalah teman. Kemudian ketika ditanya sejak kapan punya kesadaran memilih bacaan, Rony menjawab sejak SMA. Dia merasa beruntung karena sekolahnya SMAN 3 Mataram memiliki koleksi majalah Horison.

Sebagai seorang yang mengambil unsur-unsur Alkitab sebagai sumber penciptaan, Rony mengaku hal itu dipantik karena di periode awal membaca. Ketika itu hanya Alkitab yang tersedia, dan Alkitab dibacanya sebagai karya sastra alih-alih pedoman hidup. Alkitab membantu membangkitkan imajinasi kanak-kanak Rony, dan hal itulah yang melandasinya untuk mengambil alusi dari kitab suci sebagai sumber penciptaan.

Diskusi pindah ke teman-teman dari Pukulan Berapi Menyakitkan. Ketika pemantik bertanya apa yang ada di balik nama Pukulan Berapi Menyakitkan, Kharis sebagai juru bicaranya menjelaskan bahwa tidak ada apa-apa sebenarnya. Tidak ada landasan filosofis atau makna lain di balik nama Pukulan Berapi Menyakitkan, hanya suka gabungan kata-katanya saja.

Dari penuturan Kharis diketahui bahwa tidak ada yang istimewa dari sejarah Pukulan Berapi Menyakitkan, mereka hanya teman bermain. Kharis dan Ozi kebetulan adalah teman satu komunitas di Utara Bergerak. Keduanya selain menggemari musik adalah pegiat seni rupa.

Ketika ditanya apakah ada hal-hal yang sakral dari Pukulan Berapi Menyakitkan, dengan tegas mereka menjawab tidak ada. Meski begitu, ada sesuatu yang sedang diperjuangkan oleh Kharis dan kawan-kawan, bermusik dengan menggunakan landasan teori. Agak berlawan dengan arus utama yang berkata musik harus pakai feel, Kharis menjelaskan teori dan teknik lebih penting. Percuma saja pakai feel, kalau tidak mengerti hal yang teknikal karena setiap tangga nada bisa memberi efek berbeda pada tubuh manusia.

Diskusi kembali berpusat ke Rony. Ais selaku pemantik bertanya sejak kapan Rony serius menulis. Rony menjawab sejak kelas 2 SMA. Ketika itu ada lomba menulis artikel, dan hal itu merupakan titik awal kepenulisannya. Kemudian saat kuliah, Rony mencari-cari komunitas yang bisa menunjang karir menulisnya, dan bertemulah dia dengan komunitas Akarpohon. Meski memulai dengan cerpen, hati Rony tertambat pada puisi. Pria yang mengaku introvert, tidak alim, dan tidak punya banyak teman (wanita?) ini menjelaskan alasan dia lebih menekankan pada aspek vertikal ketimbang horizontal adalah karena dia bukanlah jebolan seminari seperti Mario F. Lawi. Ayat-ayat dari Alkitab diambil secara acak lalu dikaitkan dengan permasalahan sosial yang dialaminya, dan inilah yang menjadi materi dalam penciptaan puisi Rony Fernandez.

Diskusi juga diramaikan oleh para penonton yang ikut bertanya. Baik mereka yang hadir di Toms maupun yang ikut menonton secara live di instagram. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, beberapa tertuju pada Pukulan Berapi Menyakitkan, beberapa ditujukan pada Rony Fernandez. Dari sekian pertanyaan yang datang, pertanyaan paling menarik perhatian adalah alasan Pukulan Berapi Menyakitkan mau diundang ke acara Microfest. Kharis (lagi-lagi Kharis) menjawab Microfest “memaksa” mereka untuk berkembang. Karena diminta mengalih-wahana teks puisi menjadi musik, Pukulan Berapi dipaksa untuk mencoba hal baru. Beruntung berkat teori musik, alih wahana menjadi lebih mudah dilakukan. Selain itu Kharis juga menjelaskan bahwa dia dan rekan-rekannya tertarik karena Microfest tidak hanya meminta mereka bermain musik, tapi mendiskusikan apa yang mereka tawarkan. Sebagai kelompok yang mengusung suatu konsep, diskursus ini membantu mereka menjelaskan apa yang bisa mereka tawarkan.

Diskusi ini diakhiri dengan jawaban Rony Fernandez bahwa apa yang ditulisnya pada buku kumpulan puisi Homili sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjadi puisi religius. Jika pun ada bagian yang religius yang diambilnya, tidak lebih sebagai materi penciptaan karena tidak perlulah menjadi umat beragama untuk menyebarkan cinta kasih, cukup menjadi manusia. Kira-kira begitu yang ingin disampaikan Rony Fernandez.

Malam itu ditutup dengan hentakkan musik Pukulan Berapi Menyakitkan. Seperti namanya, Pukulan Berapi berhasil membakar semangat para penonton untuk maju bergoyang pogo melupakan penat hidup dan menyatu dengan musik mereka. Melihat antusias penonton, apa yang dikatakan Kharis tentang konsep mereka bukanlah omong kosong.

lasingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *