Pewarta: Aliurridha

Malam puncak Microfest digelar pada hari kamis malam tanggal 30 Desember 2021. Malam bertajuk ‘di negeri asing, siapakah aku-puisi’ menghadirkan Abed Ilyas, Annisa Hidayat,dan AoD (Art of Distraction). Seperti juga malam-malam sebelumnya Microfest hari keenam memiliki dua sesi, yakni diskusi dan pertunjukkan alih-wahana.

Diskusi malam itu dipandu Abed Ilyas yang merupakan peserta Akarpohon offshcool untuk penulisan puisi. Diskusi itu mengundang Anissa Hidayat (Nisa) yang merupakan penulis buku kumpulan puisi Menuju Laut Utara sebagai pembicara. Selain itu ada seluruh personil AoD, Reza Azhari, Theodore Setiawan, dan Gilang Sakti Ramadan yang ditugaskan mengalih-wahana salah satu puisi Annisa Hidayat, juga hadir dalam sesi diskuis.

Dalam sesi diskusi, pertama-tama, Abed mencoba menggali dari mana jejak kreatif Nisa bermula. Sebagai seorang pecinta kisah-kisah perjalanan, Nisa sudah membaca sedari kisah-kisah petualan sedari kecil. Salah satu buku yang paling membekas di ingatannya adalah kisah Lima Sekawan karya Enid Blyton. Ketika kecil dulu Nisa juga membaca majalahBobo seperti banyak para penulis lainnya. Begitu tumbuh remaja Nisa mulai tertarik ke cerita-cerita misteri investigatif sebelum akhirnya tiba di karya-karya Putu Wijaya yang dibacanya di masa-masa kuliah, masa-masa di mana dia mulai serius membaca karya sastra.

Ada satu hal yang sedikit unik tentang Nisa; meski dia menulis puisi, dia lebih banyak membaca prosa dan non-fiksi. Lalu pada masa-masa awal proses kreatifnya, Nisa juga bermain musik. Dia pernah bergabung dalam sebuah band, dan hal ini, tidak dipungkiri mewarnai puisi-puisinya. Nisa bahkan berkata bahwa musik sangat mempengaruhi proses menulisnya. Dia menjelaskan tanpa musik, susah untuknya bisa menulis. Dia hampir pasti menulis sambil mendengarkan musik.

Berpindah ke AoD, Abed bertanya bagaimana awal mula AoD bersentuhan dengan musik. Dengan menyelipkan diksi-diksi khasnya, Reza menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan dirinya untuk musik. Meski tidak banyak bicara, Gilang juga terlihat mengangguk setuju. Sedang Theo mengaku telah bersentuhan dengan musik sejak kecil. Masa kecilnya diwarnai dengan lagu-lagu islami ala Haddad Alwi. Kemudian ketika ditanya kenapa membentuk AoD, Reza menjawab karena dia merasa gelisah. Dia tidak ingin terpenjara dengan segala teori-teori tentang musik.

Kemudian dari diskusi diketahui bahwa puisi yang akan dialih-wahana adalah puisi berjudul Mesin Waktu. Theokemudian menjelaskan bahwa puisi itu merepresentasikan perasaan seseorang yang terasing. Dia merasa dirinya seperti sedang menumpang sebuah pesawat yang membawanya ke negeri asing saat membaca puisi Nisa. Kemudian ketika ditanya apakah AoD membaca karya sastra, dan apakah karya sastra berpengaruh terhadap musik AoD. Dengan mantap personil AoD menjawab, ya, dan Reza bahkan berkata bahwa mereka selalu merujuk ke teks setiap berkarya.

Seakan sedang melakukan pemanasan, AoD mencipta distraksi-distraksi kecil malam itu. Distraksi-distraksi itu kemudian membuat Kiki Sulistiyo sebagai personil tambahan AoD maju ke panggung. Selaku penyunting buku puisi Menuju Laut Utara, Kiki menjelaskan alasan mengapa puisi-puisi Nisa mampu membangun pencitraan yang kuat. Semua itu karena Nisa mendengarkan musik. Kiki percaya bahwa para penyair yang baik pasti mendengarkan musik.

Meski sedikit terdistraksi, Abed tetap mampu menutup sesi diskusi dengan menyimpulkan bahwa aku-puisi dalam puisi-puisi Nisa adalah seorang petualang.

Malam itu ditutup dengan menghebohkan oleh AoD yangmemainkan musik hasil alih-wahana dari puisi Nisa. Setelah sukses mendistraksi acara diskusi malam itu, AoD kembali mendistraksi penonton dengan musiknya yang abstrak. (*)

lasingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *